Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Urban Farming Bisa Turunkan Suhu Kota, Ini Hasil Riset IPB

Kompas.com, 1 Januari 2026, 20:28 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Praktik pertanian dengan memanfatkan lahan terbatas (urban farming) disebut bisa menurunkan suhu di perkotaan (urban heat island), menurut riset pengembangan model urban farming multifungsi untuk daerah perkotaan oleh Fakultas Pertanian IPB University bersama Rikolto Indonesia dan Perhimpunan Indonesia Berseru.

Riset tersebut dilaksanakan di enam titik wilayah di wilayah Depok, Jawa Barat, periode tahun 2023 sampai tahun 2025.

Baca juga:

Manfaat urban farming 

Penyedia pangan sehat dan bikin lingkungan nyaman

Urban Farming Corner menjadi ruang hijau terbuka di Semarang dan tempat dalam penyuluhan pertanian di Kota Semarang, beralamat di Jl. Menteri Supeno No.1, Mugasari, Kec. Semarang Selatan, Kota Semarang, Jumat (17/10/2025). Riset IPB University menunjukkan urban farming ekologis bisa menurunkan suhu perkotaan dan memperbaiki kualitas lingkungan. Simak selengkapnya.KOMPAS.com/Fatah Akrom Urban Farming Corner menjadi ruang hijau terbuka di Semarang dan tempat dalam penyuluhan pertanian di Kota Semarang, beralamat di Jl. Menteri Supeno No.1, Mugasari, Kec. Semarang Selatan, Kota Semarang, Jumat (17/10/2025). Riset IPB University menunjukkan urban farming ekologis bisa menurunkan suhu perkotaan dan memperbaiki kualitas lingkungan. Simak selengkapnya.

Hasil riset menunjukkan bahwa urban farming yang berorientasi ekologis mempunyai tiga fungsi utama.

Pertama, fungsinya sebagai penyedia pangan sehat bagi masyarakat perkotaan, terutama sayuran segar yang bebas pestisida, dengan harga terjangkau.

Kedua adalah perbaikan kualitas lingkungan, yang ditandai dengan penurunan diurnal temperature range (DTR) atau rentang temperatur harian. Imbasnya, kawasan sekitarnya menejadi lebih nyaman dihuni.

Model urban farming ekologis berbasis heat island tersebut juga memungkinkan adanya pengelolaan sampah rumah tangga untuk menjadi pupuk organik.

Ketiga adalah fungsi ekonomi. Model urban farming ekologis berbasis heat island itu memungkinkan perputaran ekonomi dengan skala komunitas melalui aktivitas produksi dan penjualan produk lokal.

“Hasil penelitian selama dua tahun menunjukkan bahwa penerapan urban farming ekologis ini terbukti meningkatkan kesehatan tanah (soil health), ditunjukkan dengan tren peningkatan produktivitas beberapa sayuran utama dan penurunan tingkat serangan hama dan penyakit,” ujar Ketua tim peneliti sekaligus Dekan Fakultas Pertanian IPB, Suryo Wiyono, dilansir dari laman resminya, Kamis (1/1/2026).

Baca juga:

Teknologi penerapan urban farming ekologis

Tim PKK RW 09 Perumahan Pondok Halim 2 melakukan panen di lahan urban farming yang semula merupakan lahan kotor penuh sampah, Senin (9/6/2025). Riset IPB University menunjukkan urban farming ekologis bisa menurunkan suhu perkotaan dan memperbaiki kualitas lingkungan. Simak selengkapnya.KOMPAS.com/Yulian Isna Sri Astuti Tim PKK RW 09 Perumahan Pondok Halim 2 melakukan panen di lahan urban farming yang semula merupakan lahan kotor penuh sampah, Senin (9/6/2025). Riset IPB University menunjukkan urban farming ekologis bisa menurunkan suhu perkotaan dan memperbaiki kualitas lingkungan. Simak selengkapnya.

IPB University menerapkan berbagai teknologinya dalam model urban farming ekologis berbasis heat island ini.

Teknologi pertama adalah penataan lanskap kebun untuk pemanfaatan ruang yang lebih fungsional dan efisien.

Selanjutnya, yang kedua, adalah penggunaan mikroba agens hayati untuk pengendalian hama dan penyakit hingga mencapai zero pesticides (pendekatan pertanian tanpa pemakaian pestisida kimia sintetis).

Ketiga adalah pemilihan jenis dan varietas tanaman. Kemudian, yang keempat, adalah ameliorasi tanah.

Terakhir, atau yang kelima adalah penggunaan automatic weather station (AWS) untuk perencanaan budi daya tanaman.

Sementara itu, akar agrometeorologi dari Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Idung Risdiyanto mengatakan, urban farming ekologis berdampak pada penurunan DTR secara signifikan.

“Ini membuktikan bahwa keberadaan kebun komunitas berkontribusi langsung pada penurunan suhu udara di sekitarnya dan memperbaiki kualitas termal lingkungan, yang berdampak positif pada penurunan risiko kesehatan warga perkotaan,” tutur Idung.

Rekomendasi untuk keberlanjutan urban farming

Mengusung konsep Urban farming, begini pemandangan lahan kebun di Kampung Susun Bayam. Riset IPB University menunjukkan urban farming ekologis bisa menurunkan suhu perkotaan dan memperbaiki kualitas lingkungan. Simak selengkapnya.Intan Afrida Rafni Mengusung konsep Urban farming, begini pemandangan lahan kebun di Kampung Susun Bayam. Riset IPB University menunjukkan urban farming ekologis bisa menurunkan suhu perkotaan dan memperbaiki kualitas lingkungan. Simak selengkapnya.

Tim peneliti memberikan beberapa rekomendasi untuk keberlanjutan urban farming ekologis berbasis heat island ke depannya.

Rekomendasi tersebut, antara lain perbaikan kepastian lahan, penggunaan beberapa jenis tanaman bernilai ekonomi tinggi, serta integrasi dengan sistem penyuluhan pertanian.

Kemudian, penggunaan teknologi yang tepat dan integrasi dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar manfaatnya semakin luas.

Sebelumnya, sebuah studi menunjukkan bahwa rata-rata urban farming memiliki jejak karbon enam kali lebih besar dibandingkan pertanian konvensional.

Meski demikian, data-data penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa secara individual, banyak urban farming yang lebih baik bagi bumi dibandingkan pertanian konvensional.

Peneliti utama riset tersebut, Jason Hawes mengatakan, temuan tersebut bukan menyerukan untuk menghentikan urban farming.

“Sebaliknya, kami ingin memberikan bukti kuantitatif mengenai jejak karbon urban farming, yang pada gilirannya memungkinkan kami mengidentifikasi cara untuk mengurangi dampak terhadap iklim," ujar Hawes, dilansir dari Anthropocene, Jumat (9/2/2024).

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau