KOMPAS.com - Praktik pertanian dengan memanfatkan lahan terbatas (urban farming) disebut bisa menurunkan suhu di perkotaan (urban heat island), menurut riset pengembangan model urban farming multifungsi untuk daerah perkotaan oleh Fakultas Pertanian IPB University bersama Rikolto Indonesia dan Perhimpunan Indonesia Berseru.
Riset tersebut dilaksanakan di enam titik wilayah di wilayah Depok, Jawa Barat, periode tahun 2023 sampai tahun 2025.
Baca juga:
Urban Farming Corner menjadi ruang hijau terbuka di Semarang dan tempat dalam penyuluhan pertanian di Kota Semarang, beralamat di Jl. Menteri Supeno No.1, Mugasari, Kec. Semarang Selatan, Kota Semarang, Jumat (17/10/2025). Riset IPB University menunjukkan urban farming ekologis bisa menurunkan suhu perkotaan dan memperbaiki kualitas lingkungan. Simak selengkapnya.Hasil riset menunjukkan bahwa urban farming yang berorientasi ekologis mempunyai tiga fungsi utama.
Pertama, fungsinya sebagai penyedia pangan sehat bagi masyarakat perkotaan, terutama sayuran segar yang bebas pestisida, dengan harga terjangkau.
Kedua adalah perbaikan kualitas lingkungan, yang ditandai dengan penurunan diurnal temperature range (DTR) atau rentang temperatur harian. Imbasnya, kawasan sekitarnya menejadi lebih nyaman dihuni.
Model urban farming ekologis berbasis heat island tersebut juga memungkinkan adanya pengelolaan sampah rumah tangga untuk menjadi pupuk organik.
Ketiga adalah fungsi ekonomi. Model urban farming ekologis berbasis heat island itu memungkinkan perputaran ekonomi dengan skala komunitas melalui aktivitas produksi dan penjualan produk lokal.
“Hasil penelitian selama dua tahun menunjukkan bahwa penerapan urban farming ekologis ini terbukti meningkatkan kesehatan tanah (soil health), ditunjukkan dengan tren peningkatan produktivitas beberapa sayuran utama dan penurunan tingkat serangan hama dan penyakit,” ujar Ketua tim peneliti sekaligus Dekan Fakultas Pertanian IPB, Suryo Wiyono, dilansir dari laman resminya, Kamis (1/1/2026).
Baca juga:
Tim PKK RW 09 Perumahan Pondok Halim 2 melakukan panen di lahan urban farming yang semula merupakan lahan kotor penuh sampah, Senin (9/6/2025). Riset IPB University menunjukkan urban farming ekologis bisa menurunkan suhu perkotaan dan memperbaiki kualitas lingkungan. Simak selengkapnya.IPB University menerapkan berbagai teknologinya dalam model urban farming ekologis berbasis heat island ini.
Teknologi pertama adalah penataan lanskap kebun untuk pemanfaatan ruang yang lebih fungsional dan efisien.
Selanjutnya, yang kedua, adalah penggunaan mikroba agens hayati untuk pengendalian hama dan penyakit hingga mencapai zero pesticides (pendekatan pertanian tanpa pemakaian pestisida kimia sintetis).
Ketiga adalah pemilihan jenis dan varietas tanaman. Kemudian, yang keempat, adalah ameliorasi tanah.
Terakhir, atau yang kelima adalah penggunaan automatic weather station (AWS) untuk perencanaan budi daya tanaman.
Sementara itu, akar agrometeorologi dari Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Idung Risdiyanto mengatakan, urban farming ekologis berdampak pada penurunan DTR secara signifikan.
“Ini membuktikan bahwa keberadaan kebun komunitas berkontribusi langsung pada penurunan suhu udara di sekitarnya dan memperbaiki kualitas termal lingkungan, yang berdampak positif pada penurunan risiko kesehatan warga perkotaan,” tutur Idung.
Mengusung konsep Urban farming, begini pemandangan lahan kebun di Kampung Susun Bayam. Riset IPB University menunjukkan urban farming ekologis bisa menurunkan suhu perkotaan dan memperbaiki kualitas lingkungan. Simak selengkapnya.
Tim peneliti memberikan beberapa rekomendasi untuk keberlanjutan urban farming ekologis berbasis heat island ke depannya.
Rekomendasi tersebut, antara lain perbaikan kepastian lahan, penggunaan beberapa jenis tanaman bernilai ekonomi tinggi, serta integrasi dengan sistem penyuluhan pertanian.
Kemudian, penggunaan teknologi yang tepat dan integrasi dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar manfaatnya semakin luas.
Sebelumnya, sebuah studi menunjukkan bahwa rata-rata urban farming memiliki jejak karbon enam kali lebih besar dibandingkan pertanian konvensional.
Meski demikian, data-data penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa secara individual, banyak urban farming yang lebih baik bagi bumi dibandingkan pertanian konvensional.
Peneliti utama riset tersebut, Jason Hawes mengatakan, temuan tersebut bukan menyerukan untuk menghentikan urban farming.
“Sebaliknya, kami ingin memberikan bukti kuantitatif mengenai jejak karbon urban farming, yang pada gilirannya memungkinkan kami mengidentifikasi cara untuk mengurangi dampak terhadap iklim," ujar Hawes, dilansir dari Anthropocene, Jumat (9/2/2024).
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya