Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tutupan Hutan DAS Tamiang Aceh Tergerus Sawit dan Permukiman Selama 20 Tahun

Kompas.com, 6 Januari 2026, 18:35 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebagian besar tutupan hutan Daerah Aliran Sungai (DAS) Tamiang, Aceh, telah menjadi permukiman dan perkebunan sawit selama lebih dari dua dekade.

Hal ini diketahui dari disertasi berjudul Karakteristik Hidrologi dan Potensi Banjir Bandang di Kawasan Humid Tropics: Kasus DAS Tamiang Aceh tahun 2020, yang menganalisis perubahan tutupan lahan periode 1996-2018.

Baca juga: 

Peneliti Cut Azizah dari IPB University mengungkapkan, alih fungsi lahan DAS Tamiang mengakibatkan hilangnya sabana (padang rumput), dan bertambahnya penggunaan lahan permukiman hingga 73 persen.

Selain itu, ada alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit sebesar 71 persen, berkurangnya hutan mangrove sebesar 63 persen, dan menurunnya penggunaan lahan pertanian lahan kering sebesar 62 persen.

"Pola perubahan penggunaan lahan DAS Tamiang dari tahun 1995 ke tahun 2003 didominasi oleh hutan lahan kering primer berubah menjadi hutan lahan kering sekunder, hutan lahan kering sekunder berubah menjadi belukar dan pertanian lahan kering, hutan mangrove berubah menjadi belukar, dan belukar berubah menjadi perkebunan," tulis Cut Azizah, dikutip dari disertasinya, Selasa (6/1/2026).

Baca juga:

Tutupan hutan DAS Tamiang di Aceh makin terkikis

Pola perubahan lahan paling signifikan terjadi dari tahun 2003 sampai 2012

Warga mencari barang-barang di dekat rumahnya yang rusak akibat banjir di Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (11/12/2025). Pemerintah Aceh memperpanjang masa tanggap darurat bencana hidrometeorologi hingga 25 Desember 2025 karena kondisi lapangan masih membutuhkan penanganan intensif, terpadu, dan terkoordinasi. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A Warga mencari barang-barang di dekat rumahnya yang rusak akibat banjir di Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (11/12/2025). Pemerintah Aceh memperpanjang masa tanggap darurat bencana hidrometeorologi hingga 25 Desember 2025 karena kondisi lapangan masih membutuhkan penanganan intensif, terpadu, dan terkoordinasi.

Perubahan penggunaan lahan paling luas terjadi pada penggunaan lahan hutan kering primer. Cut Azizah mencatat, pola perubahan penggunaan lahan paling signifikan terjadi pada tahun 2003-2012.

Hutan lahan kering sekunder berubah menjadi belukar dan pertanian lahan kering seperti pada periode 1995-2003.

Kemudian, perkebunan kelapa sawit menjadi pertanian lahan kering, sawah menjadi perkebunan kelapa sawit, serta belukar berubah menjadi hutan mangrove.

Perubahan penggunaan lahan terluas periode 2003–2012 terjadi pada penggunaan lahan perkebunan kelapa sawit menjadi pertanian lahan kering.

"Sedangkan pola perubahan penggunaan lahan periode 2012 ke tahun 2018 adalah hutan lahan kering sekunder berubah menjadi perkebunan kelapa sawit dan belukar, hutan mangrove berubah menjadi belukar, serta pertanian lahan kering berubah menjadi perkebunan, semak belukar dan pemukiman," tulis dia.

Lainnya, sawah dan belukar menjadi perkebunan kelapa sawit hingga pertanian lahan kering.

Sementara itu, perubahan penggunaan lahan periode 2012-2018 terjadi pada penggunaan lahan pertanian lahan kering menjadi perkebunan kelapa sawit. Distribusi spasial perubahan terjadi di wilayah hilir yang terus mendekati ke arah hulu DAS.

Hal itu disebabkan tekanan penduduk meningkat ke arah hulu dan pola perubahan penggunaan lahan DAS Tamiang.

Kondisi itu mengakibatkan perubahan terhadap produksi air, limpasan permukaan, aliran dasar, erosi, dan sedimentasi.

Baca juga: 

Banjir di DAS Tamiang, Aceh cukup sering terjadi

Banjir bandang tahun 2006 jadi yang paling parah

SDN I Kuala Simpang di Kabupaten Aceh Tamiang, masih terendap lumpur sisa banjir bandang.Kompas.com/Zuhri Noviandi SDN I Kuala Simpang di Kabupaten Aceh Tamiang, masih terendap lumpur sisa banjir bandang.

Banjir di DAS Tamiang cukup sering terjadi. Berdasarkan analisis data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada tahun 2003-2018, tercatat 37 peristiwa banjir di kawasan tersebut.

"Banjir di DAS Tamiang terjadi setiap tahunnya, tahun 2018 dan 2012 merupakan tahun terbanyak kasus banjir. Distribusi banjir berdasarkan bulan didapatkan, Oktober dan Desember merupakan bulan yang paling sering terjadi banjir. Sedangkan Juli dan Agustus merupakan bulan yang belum pernah terjadi banjir," tulis Cut Azizah.

Sebelumnya, banjir bandang di wilayah tersebut terjadi enam kali dengan empat di antaranya dapat diidentifikasi yaitu pada Sabtu (23/12/2006), Sabtu (20/12/2014), Minggu (9/4/2017), serta Sabtu (2/12/2017).

Cut Azizah menyampaikan, banjir tahun 2006 merupakan banjir bandang terparah yang membawa debris kayu dan pohon.

Simulasi model Hydrologic Engineering Center's Hydrologic Modeling System (HEC HMS) menunjukkan, banjir bandang di DAS Tamiang diakibatkan curah hujan 63-111 milimeter per hari yang menghasilkan debit puncak 559-1.664 meter kubik per detik.

"Waktu kedatangan banjir bandang (waktu konsentrasi) di outlet (Kota Kuala Simpang) adalah 48 jam sehingga diketahui banjir bandang pada hari kejadian diakibatkan akumulasi hujan dua hari sebelumnya," tulis Cut Azizah.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
LSM/Figur
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Pemerintah
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
LSM/Figur
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau