KOMPAS.com - Banjir bandang dengan bongkahan batu besar terjadi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dan Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, baru-baru ini.
Peristiwa tersebut memerlukan penilaian risiko (risk assessment) kasus per kasus dalam menentukan strategi restorasinya atau pemulihan pasca-bencananya.
Baca juga:
"Jadi, kalau bongkahan batu besar ya, berarti orang enggak bisa hidup di sana. Jika wilayah itu mau tidak mau orang harus tinggal di sana, ya, maka lakukan tadi, (strateginya) multi layer solution," ujar Guru Besar Ergonomi Kehutanan IPB University, Efi Yuliati Yovi dalam webinar Mitigasi Jangka Panjang Banjir Sumatera: Perspektif Integratif dari Ekoregion, Pengelolaan Hutan, Manajemen Risiko, dan Adaptasi Iklim, Selasa (6/1/2025).
Namun, jika banjir bandang sudah membawa bongkahan batu besar, merelokasi dinilai menjadi solusi yang lebih logis.
Apalagi, strategi multi-layer solution membutuhkan biaya yang lebih mahal, seperti dengan membangun kanal, bendungan, atau infrastruktur pencegahan bencana lainnya.
Adapun penilaian risiko secara menyeluruh terhadap pemanfaatan ruang di suatu kawasan tidak bisa disamaratakan.
Pemanfaatan ruang di kawasan daerah aliran sungai (DAS) untuk permukiman dinilai harus memperhatikan tingkat risikonya. Setiap DAS memiliki karakteristik berbeda-beda, tidak semua kawasan DAS sangat riskan untuk dijadikan permukiman.
Baca juga:
Pasca banjir bandang Aceh Tamiang, Ponpes Darul Mukhlisin kini bersih dari tumpukan kayu. Walau begitu, proses pemulihan berlanjut.Banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada pertengahan November 2025 lalu, menurut Yovi, membutuhkan multi-layer solution.
Ia menambahkan, solusi berbasis alam (natured-based solutions/NbS) diperlukan, meski tidak cukup hanya dangan itu.
Mengembalikan fungsi hutan pasca-bencana banjir bandang memang sangat penting. Namun, mengembalikan fungsi hutan membutuhkan waktu lima sampai 20 tahun, dan harus dipelihara usai ditanam atau tidak langsung ditinggalkan.
"Tapi hutan itu bukan obat sapu jagat lah, istilahnya ya. NbS itu bagus ya, tapi juga punya ambang batas, punya kemampuan. Jadi, tidak cukup," tutur Yovi.
Untuk mencegah terjadinya banjir bandang berulang pasca-bencana di Sumatera, NbS dinilai perlu disertai dengan multi-layer solution. Misalnya, dengan membangun infrastruktur untuk memitigasi banjir bandang.
Infrastruktur, seperti bendungan, tanggul, atau kanal, harus dirancang untuk kejadian ekstrem atau harus mampu menghadapi bencana banjir bandang yang dipicu siklon tropis senyar.
Hutan memang bukan satu-satunya "perisai" untuk mencegah terjadinya banjir bandang. Infrastruktur mitigasi banjir bandang bisa menjadi "perisai" paling akhir untuk melengkapi hutan yang mampu menurunkan dampak bencana secara signifikan.
"Kalau kita punya perisai yang berlapis-lapis. (Infrastruktur) itu perisai yang paling dalam, itu sudah lapisan paling akhir ya," ucapnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya