Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banjir dengan Bongkahan Batu di Sulut, Pakar Tekankan Penilaian Risiko dan Multi-layer Solution

Kompas.com, 6 Januari 2026, 13:38 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Banjir bandang dengan bongkahan batu besar terjadi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dan Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, baru-baru ini.

Peristiwa tersebut memerlukan penilaian risiko (risk assessment) kasus per kasus dalam menentukan strategi restorasinya atau pemulihan pasca-bencananya. 

Baca juga:

"Jadi, kalau bongkahan batu besar ya, berarti orang enggak bisa hidup di sana. Jika wilayah itu mau tidak mau orang harus tinggal di sana, ya, maka lakukan tadi, (strateginya) multi layer solution," ujar Guru Besar Ergonomi Kehutanan IPB University, Efi Yuliati Yovi dalam webinar Mitigasi Jangka Panjang Banjir Sumatera: Perspektif Integratif dari Ekoregion, Pengelolaan Hutan, Manajemen Risiko, dan Adaptasi Iklim, Selasa (6/1/2025).

Namun, jika banjir bandang sudah membawa bongkahan batu besar, merelokasi dinilai menjadi solusi yang lebih logis.

Apalagi, strategi multi-layer solution membutuhkan biaya yang lebih mahal, seperti dengan membangun kanal, bendungan, atau infrastruktur pencegahan bencana lainnya.

Adapun penilaian risiko secara menyeluruh terhadap pemanfaatan ruang di suatu kawasan tidak bisa disamaratakan.

Pemanfaatan ruang di kawasan daerah aliran sungai (DAS) untuk permukiman dinilai harus memperhatikan tingkat risikonya. Setiap DAS memiliki karakteristik berbeda-beda, tidak semua kawasan DAS sangat riskan untuk dijadikan permukiman.

Baca juga:

Banjir bandang di Indonesia dan multi-layer solution

Multi-layer solution bisa mencegah banjir bandang berulang

Pasca banjir bandang Aceh Tamiang, Ponpes Darul Mukhlisin kini bersih dari tumpukan kayu. Walau begitu, proses pemulihan berlanjut.ANTARA/HO-Humas Bakom RI Pasca banjir bandang Aceh Tamiang, Ponpes Darul Mukhlisin kini bersih dari tumpukan kayu. Walau begitu, proses pemulihan berlanjut.

Banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada pertengahan November 2025 lalu, menurut Yovi, membutuhkan multi-layer solution.

Ia menambahkan, solusi berbasis alam (natured-based solutions/NbS) diperlukan, meski tidak cukup hanya dangan itu.

Mengembalikan fungsi hutan pasca-bencana banjir bandang memang sangat penting. Namun, mengembalikan fungsi hutan membutuhkan waktu lima sampai 20 tahun, dan harus dipelihara usai ditanam atau tidak langsung ditinggalkan.

"Tapi hutan itu bukan obat sapu jagat lah, istilahnya ya. NbS itu bagus ya, tapi juga punya ambang batas, punya kemampuan. Jadi, tidak cukup," tutur Yovi.

Untuk mencegah terjadinya banjir bandang berulang pasca-bencana di Sumatera, NbS dinilai perlu disertai dengan multi-layer solution. Misalnya, dengan membangun infrastruktur untuk memitigasi banjir bandang.

Infrastruktur, seperti bendungan, tanggul, atau kanal, harus dirancang untuk kejadian ekstrem atau harus mampu menghadapi bencana banjir bandang yang dipicu siklon tropis senyar.

Hutan memang bukan satu-satunya "perisai" untuk mencegah terjadinya banjir bandang. Infrastruktur mitigasi banjir bandang bisa menjadi "perisai" paling akhir untuk melengkapi hutan yang mampu menurunkan dampak bencana secara signifikan.

"Kalau kita punya perisai yang berlapis-lapis. (Infrastruktur) itu perisai yang paling dalam, itu sudah lapisan paling akhir ya," ucapnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau