Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Suhu Bumi Meningkat, Kupu-kupu Monarch Makin Rentan Parasit

Kompas.com, 6 Januari 2026, 18:04 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Lingkungan yang menghangat membuat kupu-kupu raja (monarch butterfly) lebih rentan terhadap parasit, menurut penelitian terbaru dari University of Georgia (UGA), Amerika Serikat. Kupu-kupu raja yang terpapar suhu tinggi menjadi 22 persen kurang toleran terhadap infeksi.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Ecological Entomology ini menemukan, infeksi parasit Ophryocystis elektroscirrha pada kupu-kupu raja telah melonjak drastis, meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak tahun 2002. 

Baca juga: 

"Apa arti toleransi terhadap infeksi? Jika Anda terkena flu, itu adalah perbedaan antara Anda dirawat di rumah sakit atau hanya mengalami hidung tersumbat," kata penulis utama studi dan kepala departemen entomologi di Fakultas Pertanian dan Ilmu Lingkungan, University of Georgia, Sonia Altizer, dilansir dari Phys, Selasa (6/1/2026).

"(Kupu-kupu) monarchs mengalami dampak yang lebih parah jika terinfeksi saat suhu lebih tinggi," tambah dia. 

Bila terinfeksi parasit, masa hidup kupu-kupu monarchs menjadi lebih pendek. Parasit yang ditemukan pada tahun 1960-an ini juga menyebabkan bentang sayap kupu-kupu lebih kecil dan berat badan lebih rendah.

Kupu-kupu raja terkenal karena migrasi jarak jauhnya yang luar biasa. Spesies ini juga sering dianggap sebagai indikator kesehatan lingkungan.

Infeksi parasit tersebut dapat memengaruhi kemampuan serangga ini untuk menyelesaikan migrasi tahunannya.

Baca juga:

Suhu tinggi bikin kupu-kupu monarch rentan terinfeksi

Upaya menyelamatkan kupu-kupu monarch

Ilustrasi ulat kupu-kupu monarch. Penelitian menemukan suhu tinggi membuat kupu-kupu raja (monarch) 22 persen lebih rentan infeksi parasit yang makin meningkat.Dok. Wikimedia Commons/Rhododendrites Ilustrasi ulat kupu-kupu monarch. Penelitian menemukan suhu tinggi membuat kupu-kupu raja (monarch) 22 persen lebih rentan infeksi parasit yang makin meningkat.

Dalam upaya menyelamatkan kupu-kupu raja, beberapa orang menanam milkweed di halaman rumah mereka.

Tanaman milkweed adalah satu-satunya tanaman tempat kupu-kupu raja dapat bertelur, serta ulatnya dapat makan.

Namun, manusia sering kali menanam milkweed tropis non-asli, yang dapat tumbuh sepanjang tahun di daerah dengan iklim sedang.

Kendati demikian, hal tersebut tidak menyelesaikan semua masalah. Pasalnya, musim tanam yang lebih panjang tersebut memungkinkan kupu-kupu untuk menunda atau bahkan melewatkan migrasi pada musim dingin.

Hal tersebut memberi parasit lebih banyak waktu untuk menginfeksi kupu-kupu yang tetap tinggal.

Baca juga: Serangga Menghilang Cepat, Bahkan di Ekosistem Alami yang Tak Tersentuh

Penelitian menemukan suhu tinggi membuat kupu-kupu raja (monarch) 22 persen lebih rentan infeksi parasit yang makin meningkat.Dok. Wikimedia Commons/Rhododendrites Penelitian menemukan suhu tinggi membuat kupu-kupu raja (monarch) 22 persen lebih rentan infeksi parasit yang makin meningkat.

Selain itu, milkweed tropis juga sangat beracun dibandingkan dengan sebagian besar milkweed asli. 

Sebenarnya kupu-kupu dapat menoleransi racun milkweed, bahkan serangga ini bisa menelan racun tersebut sampai batas tertentu. Hal ini juga membantu kupu-kupu raja untuk mempertahankan diri dari infeksi parasit.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau