Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ilmuwan Ungkap Bahaya Mikroplastik untuk Lautan dan Suhu Bumi

Kompas.com, 7 Januari 2026, 15:48 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Mikroplastik tidak hanya membahayakan kesehatan, tapi juga merusak mekanisme kerja lautan dalam menstabilkan suhu bumi.

"Mikroplastik memengaruhi proses biogeokimia, mengganggu proses carbon pumps (pompa karbon) lautan, dan berkontribusi langsung terhadap emisi gas rumah kaca (GRK)," tulis peneliti dari University of Sharjah, Uni Emirat Arab (UEA), dilansir dari Science Direct, Rabu (7/1/2026).

Baca juga:

"Dalam ekosistem laut, mikroplastik mengubah penyimpanan karbon alami dengan memengaruhi fitoplankton dan zooplankton, yang merupakan agen kunci dalam siklus karbon," tambah peneliti tersebut.

Adapun studi tersebut diterbitkan di jurnal Journal of Hazardous Materials: Plastic.

Dampak mikroplastik terhadap kestabilan suhu bumi

Mikroplastik melemahkan peran lautan terhadap perubahan iklim

Studi menemukan mikroplastik mengganggu fotosintesis plankton dan stabilitas suhu bumi. Lautan berisiko lepaskan kembali emisi ke atmosfer.freepik Studi menemukan mikroplastik mengganggu fotosintesis plankton dan stabilitas suhu bumi. Lautan berisiko lepaskan kembali emisi ke atmosfer.

Sebagai informasi, lautan menghasilkan sedikitnya 50 persen oksigen di bumi. Sebagian besar produksi oksigen ini berasal dari plankton laut, tepatnya tumbuhan, alga, dan beberapa bakteri yang dapat melakukan fotosintesis, dilansir dari laman Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA).

Tidak hanya itu, menurut Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), lautan menyerap 30 persen dari seluruh emisi karbon dioksida, serta menangkap 90 persen panas berlebih yang dihasilkan oleh emisi tersebut.

Hal itu menjadikan laut sebagai penyerap karbon terbesar di planet ini, sekaligus menjadi "tameng" dari pemanasan global. Tanpa bantuan lautan, suhu bumi akan jauh lebih panas.

Namun, studi ini memperingatkan bahwa hubungan antara mikroplastik dan peran lautan dalam mengatur suhu bumi telah lama diabaikan.

Baca juga:

Lautan bisa beralih dari penyerap karbon jadi penghasil karbon

Mikroplastik mengganggu proses fotosintesis fitoplankton

Studi menemukan mikroplastik mengganggu fotosintesis plankton dan stabilitas suhu bumi. Lautan berisiko lepaskan kembali emisi ke atmosfer.pexels Studi menemukan mikroplastik mengganggu fotosintesis plankton dan stabilitas suhu bumi. Lautan berisiko lepaskan kembali emisi ke atmosfer.

Para peneliti menganalisis total 89 studi untuk melakukan tinjauan sistematis tentang mikroplastik dan kesehatan laut, dilansir dari Euronews

Mereka menemukan bahwa mikroplastik dapat mengganggu kehidupan laut, melepaskan gas rumah kaca saat terurai, dan bahkan dapat melemahkan "pompa karbon biologis".

Istilah "pompa karbon biologis" merujuk pada proses alami di lautan yang mentransfer karbon dari atmosfer ke lapisan laut dalam.

Peneliti juga menemukan bahwa mikroplastik mengganggu proses tersebut dengan mengurangi fotosintesis fitoplankton. Organisme laut kecil tersebut menggunakan sinar matahari, air, dan karbon dioksida untuk menciptakan energi dan melepaskan oksigen.

"Seiring waktu, perubahan ini dapat menyebabkan pemanasan laut, pengasaman, dan hilangnya keanekaragaman hayati, mengancam ketahanan pangan dan komunitas pesisir di seluruh dunia," jelas penulis utama studi, sekaligus associate professor teknologi pengolahan air terintegrasi, Dr. Ihnsanullah Obaidullah.

Jika lautan kehilangan kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida dan panas berlebih, lautan dapat melepaskan emisi kembali ke atmosfer. Hal itu berarti lautan beralih dari penyerap karbon menjadi penghasil karbon.

Hal ini telah terjadi di semua wilayah hutan hujan utama di bumi, antara lain di Amerika Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika.

Para ilmuwan memperkirakan, tahun 2026 kemungkinan akan menjadi tahun keempat dalam catatan ketika suhu mencapai 1,4 derajat celsius di atas tingkat pra-industri, mendekati batas 1,5 derajat celsius yang diuraikan dalam Perjanjian Paris.

Baca juga: Mikroplastik Cemari Pakan Ternak, Bisa Masuk ke Produk Susu dan Daging

Desakan mengakhiri polusi mikroplastik

Studi menemukan mikroplastik mengganggu fotosintesis plankton dan stabilitas suhu bumi. Lautan berisiko lepaskan kembali emisi ke atmosfer.SHUTTERSTOCK Studi menemukan mikroplastik mengganggu fotosintesis plankton dan stabilitas suhu bumi. Lautan berisiko lepaskan kembali emisi ke atmosfer.

Sebuah laporan PBB tahun 2025 memperkirakan bahwa produksi plastik tahunan melebihi 400 juta ton, setengahnya dirancang untuk sekali pakai.

Tanpa intervensi, produksi plastik tahunan dapat meningkat tiga kali lipat pada tahun 2060.

Meskipun plastik dianggap penting untuk barang-barang tertentu, seperti suku cadang pesawat, elektronik, dan barang konsumsi, para peneliti memperingatkan bahwa konsumsi berlebihan menimbulkan ancaman serius terhadap keberlanjutan lingkungan dan keamanan pangan.

Studi ini pun menyerukan pendekatan terpadu, menekankan bahwa polusi mikroplastik dan perubahan iklim tidak dapat ditangani secara terpisah.

"Dampak perubahan iklim dapat dikurangi dengan mengambil tindakan yang tepat untuk memperlambat produksi mikroplastik," tulis para peneliti.

Baca juga: Ironis, Udara Kita Tercemar Mikroplastik, Bernafas pun Bisa Berarti Cari Penyakit

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Indonesia Sampaikan Komitmen Kelola Taman Nasional di Markas PBB
Indonesia Sampaikan Komitmen Kelola Taman Nasional di Markas PBB
Pemerintah
 IESR: Integrasi Regional untuk Ketahanan Energi Harus Dipercepat
IESR: Integrasi Regional untuk Ketahanan Energi Harus Dipercepat
LSM/Figur
Bikin Bisnis Berkelanjutan, Ini Cerita Pelaku UMKM Surabaya Belajar Kelola Keuangan Digital
Bikin Bisnis Berkelanjutan, Ini Cerita Pelaku UMKM Surabaya Belajar Kelola Keuangan Digital
Swasta
Pemulung di Jaktim Jadi Mentor Hidroponik, Ajari Warga Binaan Bertani Melon
Pemulung di Jaktim Jadi Mentor Hidroponik, Ajari Warga Binaan Bertani Melon
LSM/Figur
Ekonomi Global Terancam Rugi Rp17.477 Triliun Akibat Cuaca Ekstrem
Ekonomi Global Terancam Rugi Rp17.477 Triliun Akibat Cuaca Ekstrem
Pemerintah
Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam
Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam
Pemerintah
Taman Safari Indonesia Siap Dukung Transformasi Kebun Binatang Bandung
Taman Safari Indonesia Siap Dukung Transformasi Kebun Binatang Bandung
Swasta
PBB: Permintaan Kayu Bakar Menjadi Penyebab Utama Hilangnya Hutan Global
PBB: Permintaan Kayu Bakar Menjadi Penyebab Utama Hilangnya Hutan Global
Pemerintah
Krisis Utang Negara Ancam Masa Depan dan Kesejahteraan Perempuan
Krisis Utang Negara Ancam Masa Depan dan Kesejahteraan Perempuan
Pemerintah
Satu Awan Radioaktif Sebabkan Mayoritas Dampak Kontaminasi Saat Bencana Nuklir Fukushima
Satu Awan Radioaktif Sebabkan Mayoritas Dampak Kontaminasi Saat Bencana Nuklir Fukushima
LSM/Figur
Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?
Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?
LSM/Figur
KIP: Informasi Kehutanan Masuk Kategori Wajib Diumumkan Seketika
KIP: Informasi Kehutanan Masuk Kategori Wajib Diumumkan Seketika
Pemerintah
Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah
Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah
BUMN
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
LSM/Figur
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau