KOMPAS.com - Sebagai sesama negara berkembang, Indonesia dapat berkaca dari pengalaman India dalam mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) di dalam negeri.
India dinilai memahami ketergantungannya terhadap energi fosil sangat tinggi, dan mulai memikirkan untuk beralih ke EBT dengan mengatur target capaiannya melalui peraturan perundang-undangan ketenagalistrikan. Saat ini, India dinilai telah menjadi pemain utama dalam pasar EBT global.
Baca juga:
"Jadi penting untuk punya target dan India melaksanakan itu dengan konsisten walaupun pemerintahnya ganti. Bahkan, ketika ganti pemerintah, targetnya dinaikkan lebih ambisius," ujar Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa kepada Kompas.com, Selasa (6/1/2025).
Ilustrasi Stasiun Kereta Api New Delhi di India. India dinilai sukses jadi pemain utama EBT global. Indonesia bisa meniru strategi target EBT, industri surya, dan konsistensi kebijakan ini.India terus meningkatkan target bauran EBT untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) dan batu bara.
Di sisi lain, India juga mengintegrasikan pengembangan EBT dengan industri dalam negeri.
Imbasnya, ada insentif ekonomi langsung dari penggunaan EBT karena India mempunyai industri panel surya dengan kapasitas produksi mencapai 100 gigawatt (GW).
"Yang tadinya tuh kecil sekali, pada 2010 India hanya punya kurang dari satu GW ya industri modul surya, sekarang (kapasitasnya lebih dari) 100 GW," tutur Fabby.
Selain itu, India juga membangun industri turbin angin untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB).
"India menggunakan target domestik itu sebagai demand (permintaan) untuk industri energi terbarukan. Kalau Indonesia mau mempelajari keberhasilan India, ya itu bisa diterapkan. Ada targetnya, dilaksanakan secara konsisten, kemudian dihubungkan dengan pembangunan industri," jelas dia.
Baca juga:
India dinilai sukses jadi pemain utama EBT global. Indonesia bisa meniru strategi target EBT, industri surya, dan konsistensi kebijakan ini.Sebelumnya, Associate Adjunct Professor at the Goldman School of Public Policy of the University of California, Berkeley and Co-Faculty Director of the India Energy and Climate Center, Nikit Abhyankar mengatakan, India menawarkan pengalaman dan pengetahuan berharga bagi Indonesia untuk pengembangan EBT di dalam negeri.
Terdapat beberapa strategi yang berhasil diterapkan di India dan dapat dicontoh oleh Indonesia.
Pertama, komitmen politik dan visi politik yang sangat kuat pada tingkat pengambilan keputusan tertinggi. Misalnya, Presiden Prabowo Subianto menargetkan 100 gigawatt (GW) pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Komitmen politik tersebut harus bisa menggerakkan birokrasi dan berbagai mekanisme lainnya.
Di tingkat regulasi, Indonesia perlu menerapkan kewajiban portofolio energi terbarukan, yang mengharuskan perusahaan utilitas untuk membelinya dalam persentase tertentu.
Kata Nikit, saat ini India mensyaratkan 20 persen dan akan meningkat menjadi lebih dari 43 persen pada 2030.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya