KOMPAS.com - Krisis iklim seakan memaksa resor ski di Eropa untuk mempertimbangkan kembali model bisnis mereka. Sebab, krisis iklim menyebabkan kenaikan suhu sehingga salju pun berkurang.
Adapun sektor pariwisata musim dingin Eropa menghasilkan pendapatan sekitar 180 miliar euro (sekitar Rp 3,5 triliun) pada tahun 2022, dengan berpusat di Pegunungan Alpen.
Baca juga:
Jerman menjadi negara Eropa dengan resor ski terbanyak yakni 498 unit. Kemudian disusul Italia sebanyak 349 unit, Perancis 317 unit, Austria 253 unit, Swedia 228 unit, Norwegia 213 unit, Swiss 181 unit, Finlandia 76 unit, Slovenia 44 unit, serta Spanyol 32 unit.
Krisis iklim membuat salju di Eropa kian langka. Lebih dari separuh resor ski berisiko kekurangan salju dan salju buatan dinilai bukan solusi jangka Berdasarkan studi tahun 2023, dari total 2.234 resor ski di Eropa, sebesar 53 persen di antaranya akan berisiko sangat tinggi mengalami kekurangan salju. Hal itu di bawah skenario pemanasan iklim dua derajat celsius dibandingkan dengan tingkat pra-industri.
Jika suhu rata-rata global meningkat sebesar empat derajat celsius, hampir semua resor di Eropa atau 98 persen tidak akan dapat mengandalkan jumlah salju yang cukup.
Banyak resor ski mengatasinya dengan salju buatan, tapi salju buatan menjadi solusi berisiko yang mahal. Salju buatan hanya sebagai pendukung dan tidak dapat menggantikan yang alami.
Di sisi lain, krisis iklim juga mengancam sumber daya air dan ketersediaannya di sekitar resor ski.
"Faktanya, sering kali perlu membuat danau buatan agar air yang dibutuhkan tersedia, dan pekerjaan ini menimbulkan beban biaya yang tidak sedikit," ujar peneliti di Inrae (Institut Nasional Pertanian, Pangan, dan Lingkungan Prancis), François Hugues, dilansir dari Euronews, Rabu (7/1/2026).
Meriam dan tombak dalam memproduksi salju buatan meningkatkan konsumsi listrik dan emisi gas rumah kaca (GRK). Hal tersebut berkontribusi terhadap krisis iklim.
Baca juga:
Krisis iklim membuat salju di Eropa kian langka. Lebih dari separuh resor ski berisiko kekurangan salju dan salju buatan dinilai bukan solusi jangka Biaya tiket untuk ski di Eropa naik sebesar 34,8 persen dalam 10 tahun terakhir. Kenaikan biaya tiket tertinggi di Swiss, Austria, dan Italia, yang dinilai menyebabkan banyak resor besar saat ini sudah tidak terjangkau bagi mayoritas wisatawan.
"Ski akan menjadi olahraga bagi orang kaya," ujar dosen di Universitas Lausanne, Christophe Clivaz, dilansir dari Volori.it.
Ke depannya, biaya tiket diprediksi akan terus meningkat, mengingat pengeluaran pemeliharaan lereng juga semakin mahal.
Hal itu belum termasuk kebutuhan membeli atau menyewa perlengkapan bermain ski, seperti sepatu bot, jaket, celana, sarung tangan, dan kacamata.
"Bahkan saat ini, di negara seperti Swiss, sebagian besar penduduk tidak mampu bermain ski, terutama keluarga besar," tutur Clivaz.
Krisis iklim membuat salju di Eropa kian langka. Lebih dari separuh resor ski berisiko kekurangan salju dan salju buatan dinilai bukan solusi jangka CEO Federasi Ski dan Snowboard Internasional, Urs Lehmann memperingatkan bahwa mencairnya gletser dan berkurangnya salju dapat berdampak buruk pada olahraga musim dingin.
"Ternyata, dunia olahraga salju, tidak hanya di tingkat kompetitif, tapi juga bagi seluruh komunitas yang berada di sekitar resor ski, termasuk yang pertama kali merasakan dampak buruk ini secara langsung," ujar Lehmann, dilansir dari Daily Mail.
Krisis iklim dinilai mengacaukan penyelenggaran Olimpiade Musim Dingin di Milan dan Cortina d'Ampezzo di Pegunungan Alpen.
Beberapa minggu sebelum olimpiade tersebut digelar, suhu berada sedikit di atas titik beku dan cuaca kering melanda timur laut Italia, yang membatasi tutupan salju.
Bahkan, salju buatan tidak memberikan banyak solusi dan jalur ski menjadi berlumpur.
Baca juga: Pakar Ungkap Peran Hutan dan Iklim Mikro untuk Kurangi Risiko Banjir Bandang
Penyelenggara olimpiade mengakui mengalami "masalah teknis" dalam produksi salju buatan karena masalah dengan pasokan air. Sekitar 90 persen jalur ski di Italia sudah bergantung pada salju buatan untuk memastikan distribusi yang merata.
Sebelumnya, curah salju di Pegunungan Alpen menurun hingga 34 persen dalam dalam 100 tahun terakhir. Ilmuwan dari pusat penelitian Eurac di Italia menyatakan, fenomena tersebut disebabkan karena krisis iklim.
Studi terbaru yang diterbitkan di International Journal of Climatology menunjukkan, menganalisis data curah salju musiman serta curah hujan dari 46 lokasi di Pegunungan Alpen, dari Perancis hingga Slovenia.
"Terdapat tren negatif yang nyata terkait curah salju di Pegunungan Alpen. Secara khusus, penurunan yang signifikan diamati setelah tahun 1980. Tanggal ini juga bertepatan dengan peningkatan suhu yang sama tajamnya,” ujar ahli meteorologi Lingkungan di Eurac sekaligus penulis utama studi, Michele Bozzoli.
Baca juga: Krisis Iklim Picu Kematian Pohon Massal di Hutan Australia
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya