Badan-badan PBB telah mengingatkan bahwa 400-430 juta ton plastik diproduksi setiap tahunnya dan sekitar setengahnya untuk barang sekali pakai, seperti kemasan dan sedotan.
Bahkan, kurang dari 10 persen yang didaur ulang, yang kalau dibiarkan tanpa intervensi, produksi plastik global dapat meningkat tiga kali lipat pada tahun 2060.
Mayoritas material yang pernah diproduksi masih ada hingga saat ini karena plastik terurai sangat lambat.
Studi tersebut memperkirakan, lebih dari delapan miliar ton plastik telah diproduksi secara global, dengan sekitar 80 persen berakhir di tempat pembuangan sampah.
Baca juga:
Studi tersebut mendesak badan-badan internasional dan seluruh negara di dunia untuk tidak memperlakukan polusi plastik dan krisis iklim sebagai tantangan yang terpisah.
Studi tersebut mengusulkan agar Sustainable Development Goals (SDGs) PBB lebih mencerminkan risiko yang ditimbulkan oleh mikroplastik. Apalagi, plastik saat ini hanya disematkan pada satu indikator saja.
Studi tersebut menyarankan sejumlah rekomendasi. Pertama, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Kedua, meningkatkan pengelolaan sampah, dan ketiga, mempromosikan alternatif yang dapat terurai secara alami.
Keempat, berinvestasi dalam penelitian untuk lebih memahami bagaimana mikroplastik memengaruhi suhu laut dan siklus karbon.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya