KOMPAS.com - Institute for Essential Services Reform (IESR), menyebut kinerja energi baru terbarukan (EBT) belum mencapai target. Dalam laporannya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bauran EBT di tahun 2025 sebesar 15,75 persen dari total pembangkit nasional.
"Kinerja energi terbarukan tidak sesuai target. Bila dibandingkan dengan realisasi total kapasitas energi terbarukan terpasang di 2024 sebesar 14,3 GW, di tahun 2025 penambahan kapasitas hanya berkisar 1,3 GW," ungkap CEO IESR, Fabby Tumiwa, dalam keterangannya, Sabtu (9/1/2026).
Menurut dia, realisasi bauran EBT untuk listrik hanya mencapai 15,75 persen meskipun target dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) telah direvisi dari 23 persen menjadi 17–19 persen pada 2025.
Capaian itu, kata Fabby, masih di bawah target KEN.
Baca juga: Indonesia Bisa Contoh India, Ini 4 Strategi Kembangkan EBT
"Di lain sisi, penambahan pembangkit energi terbarukan yang diklaim sebagai yang terbesar di 2025, khusus untuk PLTS sebagian besar ditopang oleh PLTS atap yang dipasang oleh konsumen listrik," ucap dia.
IESR juga menyoroti realisasi proyek energi terbarukan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN tidak sesuai target.
Selain itu, Fabby menyatakan bahwa investasi EBT masih belum optimal, mengingat trennya di Indonesia tertinggal dibandingkan global. Terlebih, investasi energi fosil tidak lagi menjadi primadona.
Kementerian ESDM mencatat realisasi investasi energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE) sebesar 2,4 miliar dollar AS pada 2025 dari target 1,5 miliar dollar AS. Realisasi investasi tersebut salah satunya disumbangkan oleh proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi.
Sementara, pada 2024 investasi EBTKE hanya mencapai 1,8 miliar dollar AS dari target 2,6 miliar dollar.
"Untuk meningkat investasi energi terbarukan, diperlukan perbaikan kebijakan, penerapan secara konsisten, insentif fiskal, dan percepatan implementasi proyek yang sudah direncanakan serta mengidentifikasi proyek-proyek baru," papar Fabby.
Baca juga: 89 Persen Masyarakat Indonesia Dukung EBT untuk Listrik Menurut Studi Terbaru
Indonesia, lanjut dia, harus banyak berinvestasi di sektor energi bersih agar bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Merujuk asesmen IESR, RI membutuhkan investasi transisi energi 30-40 miliar dollar AS per tahun untuk mencapai puncak emisi di 2030 dan zero emission pada 2050.
"Selain itu, IESR juga melihat pentingnya menumbuhkan industri energi terbarukan dan teknologi bersih dalam negeri. Indonesia harus berfokus pada produksi domestik dan tidak hanya mengandalkan impor teknologi seperti panel surya dan baterai," ucap dia.
Pengembangan industri tersebut akan berkontribusi pada ketahanan energi, menyerap tenaga kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai visi strategis presiden.
Lainnya, transparansi target, rencana aksi, dan indikator capaian amat penting untuk meningkatkan kredibilitas serta kepercayaan investor dan publik terhadap komitmen transisi energi nasional.
Sebelumnya Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mencatat capaian bauran EBT sebesar 15,75 persen yang didominasi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) menyumbang sebesar 7,5 GW. Disusul bioenergi sebesar 3,14 GW, dan panas bumi sebesar 2,74 GW.
Selain itu, pembangkit listrik tenaga surya sebesar 1,4 GW, gasifikasi batu bara sebesar 450 megawatt, angin sebesar 152 MW, pemanfaatan sampah sebesar 36 MW, dan sumber lainnya sebanyak 18 MW.
"Sebenarnya penambahan EBT ini cukup besar di tahun 2025, tetapi kalau dikonversi menjadi turun persentasenya karena ada penambahan (pembangkit) dari gas dan batu bara," ucap Bahlil dalam keterangannya, Jumat (9/1/2026).
Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi menyampaikan bauran EBT sektor listrik tahun 2025 melampaui target Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN). Kapasitas EBT terpasang bertambah menjadi 15,63 Giga Watt (GW) dalam lima tahun terakhir.
"Kalau khusus di ketenagalistrikan, itu (bauran EBT) tercapai 16,3 persen. Itu di atas RUKN yang hanya menargetkan 15,9 persen," kata Eniya Listiani Dewi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya