Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW

Kompas.com, 10 Januari 2026, 18:52 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Institute for Essential Services Reform (IESR), menyebut kinerja energi baru terbarukan (EBT) belum mencapai target. Dalam laporannya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bauran EBT di tahun 2025 sebesar 15,75 persen dari total pembangkit nasional.

"Kinerja energi terbarukan tidak sesuai target. Bila dibandingkan dengan realisasi total kapasitas energi terbarukan terpasang di 2024 sebesar 14,3 GW, di tahun 2025 penambahan kapasitas hanya berkisar 1,3 GW," ungkap CEO IESR, Fabby Tumiwa, dalam keterangannya, Sabtu (9/1/2026).

Menurut dia, realisasi bauran EBT untuk listrik hanya mencapai 15,75 persen meskipun target dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) telah direvisi dari 23 persen menjadi 17–19 persen pada 2025.
Capaian itu, kata Fabby, masih di bawah target KEN.

Baca juga: Indonesia Bisa Contoh India, Ini 4 Strategi Kembangkan EBT

"Di lain sisi, penambahan pembangkit energi terbarukan yang diklaim sebagai yang terbesar di 2025, khusus untuk PLTS sebagian besar ditopang oleh PLTS atap yang dipasang oleh konsumen listrik," ucap dia.

IESR juga menyoroti realisasi proyek energi terbarukan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN tidak sesuai target.

Investasi EBT yang Tak Optimal

Selain itu, Fabby menyatakan bahwa investasi EBT masih belum optimal, mengingat trennya di Indonesia tertinggal dibandingkan global. Terlebih, investasi energi fosil tidak lagi menjadi primadona.

Kementerian ESDM mencatat realisasi investasi energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE) sebesar 2,4 miliar dollar AS pada 2025 dari target 1,5 miliar dollar AS. Realisasi investasi tersebut salah satunya disumbangkan oleh proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi.

Sementara, pada 2024 investasi EBTKE hanya mencapai 1,8 miliar dollar AS dari target 2,6 miliar dollar.

"Untuk meningkat investasi energi terbarukan, diperlukan perbaikan kebijakan, penerapan secara konsisten, insentif fiskal, dan percepatan implementasi proyek yang sudah direncanakan serta mengidentifikasi proyek-proyek baru," papar Fabby.

Baca juga: 89 Persen Masyarakat Indonesia Dukung EBT untuk Listrik Menurut Studi Terbaru

Indonesia, lanjut dia, harus banyak berinvestasi di sektor energi bersih agar bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Merujuk asesmen IESR, RI membutuhkan investasi transisi energi 30-40 miliar dollar AS per tahun untuk mencapai puncak emisi di 2030 dan zero emission pada 2050.

"Selain itu, IESR juga melihat pentingnya menumbuhkan industri energi terbarukan dan teknologi bersih dalam negeri. Indonesia harus berfokus pada produksi domestik dan tidak hanya mengandalkan impor teknologi seperti panel surya dan baterai," ucap dia.

Pengembangan industri tersebut akan berkontribusi pada ketahanan energi, menyerap tenaga kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai visi strategis presiden.

Lainnya, transparansi target, rencana aksi, dan indikator capaian amat penting untuk meningkatkan kredibilitas serta kepercayaan investor dan publik terhadap komitmen transisi energi nasional.

Sebelumnya Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mencatat capaian bauran EBT sebesar 15,75 persen yang didominasi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) menyumbang sebesar 7,5 GW. Disusul bioenergi sebesar 3,14 GW, dan panas bumi sebesar 2,74 GW.

Selain itu, pembangkit listrik tenaga surya sebesar 1,4 GW, gasifikasi batu bara sebesar 450 megawatt, angin sebesar 152 MW, pemanfaatan sampah sebesar 36 MW, dan sumber lainnya sebanyak 18 MW.

"Sebenarnya penambahan EBT ini cukup besar di tahun 2025, tetapi kalau dikonversi menjadi turun persentasenya karena ada penambahan (pembangkit) dari gas dan batu bara," ucap Bahlil dalam keterangannya, Jumat (9/1/2026).

Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi menyampaikan bauran EBT sektor listrik tahun 2025 melampaui target Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN). Kapasitas EBT terpasang bertambah menjadi 15,63 Giga Watt (GW) dalam lima tahun terakhir.

"Kalau khusus di ketenagalistrikan, itu (bauran EBT) tercapai 16,3 persen. Itu di atas RUKN yang hanya menargetkan 15,9 persen," kata Eniya Listiani Dewi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Ketika AI 'Haus' Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
Ketika AI "Haus" Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
LSM/Figur
'Long Service Award', Humanisasi di Tengah Era Transaksional
"Long Service Award", Humanisasi di Tengah Era Transaksional
Swasta
Target PLTS 100 GW Butuh Perencanaan Ketenagalistrikan yang Lebih Transparan
Target PLTS 100 GW Butuh Perencanaan Ketenagalistrikan yang Lebih Transparan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau