KOMPAS.com - Dampak krisis iklim mulai bisa dirasakan. Selain panas ekstrem, krisis iklim juga memengaruhi siklon sehingga memicu bencana alam.
Berangkat dari hal itu, model adaptasi iklim telah berkembang di seluruh dunia, dengan mendesain ulang cara masyarakat lokal dalam merespons iklim yang lebih keras.
Baca juga:
Apa saja model adaptasi tersebut? Simak selengkapnya, dilansir dari Eco-Business, Selasa (13/1/2026).
Krisis iklim memicu bencana global. Simak beberapa model adaptasi iklim beberapa negara.Sebagai negara-negara paling rawan di dunia, Filipina dan Indonesia memilih mengembangkan adaptasi krisis iklim dengan solusi berbasis alam (nature-based solutions/NbS).
Sebagai contoh, menghidupkan hutan mangrove sebagai penyimpanan karbon sekaligus penyangga pantai, yang mampu menahan erosi tanah dan kenaikan permukaan air laut. Hutan mangrove juga melindungi masyarakat pesisir dari badai dan gelombang laut yang mematikan.
Jalur "sabuk hijau pesisir" yang terdiri dari hutan mangrove, ekosistem pantai, dan vegetasi lahan basah sebagai zona penyangga alami, menjadi model adaptasi iklim di Filipina.
Sementara itu, di Indonesia, upaya penanaman mangrove menjadi respons terhadap kenaikan permukaan laut dan memburuknya banjir rob.
Baca juga:
Krisis iklim memicu bencana global. Simak beberapa model adaptasi iklim beberapa negara.Kenaikan suhu global akibat krisis iklim berdampak buruk terhadap pembelajaran anak-anak di seluruh dunia.
Berdasarkan analisis United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF), pada 2024, sedikitnya 242 juta siswa di 85 negara mengalami gangguan pendidikan disebabkan bencana yang dipicu krisis iklim, seperti siklon tropis, badai, banjir, gelombang panas, dan kekeringan.
Solusi kenaikan suhu, seperti pendingin ruangan (AC), menjadi model adaptasi yang mahal dan justru memperparah krisis iklim.
Oleh karena itu, para arsitek di Burkina Faso dan Kenya menggunakan desain pendinginan pasif dengan dinding dari tanah liat atau tembikar, ventilasi silang, dan atap yang ditinggikan untuk menjaga ruang kelas tetap lebih sejuk.
Adaptasi krisis iklim di sekolah juga dilakukan memanfaatkan material lokal dan energi terbarukan, seperti tenaga surya.
Sekolah berwawasan iklim bisa menjadi model infrastruktur berbiaya rendah dan rendah karbon untuk mengatasi ancaman panas ekstrem terhadap pendidikan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya