KOMPAS.com - Terlepas dari penarikan AS dari Perjanjian Paris dan kesulitan dalam mengajak para pemimpin dunia untuk menghadiri COP30, kerja sama internasional untuk aksi iklim semakin menguat seiring negara-negara menjalin kesepakatan baru tentang pendanaan dan perdagangan energi bersih.
Hal tersebut berdasarkan analisis baru dari Forum Ekonomi Dunia.
Melansir Edie, Jumat (9/1/2026) para peneliti menyimpulkan bahwa tekanan kuat pada lembaga multilateral justru membuat kerja sama global berkembang daripada mundur.
Hasil ini didapat setelah peneliti menilai kolaborasi pada lima tema utama yaitu perdagangan dan modal; inovasi dan teknologi; iklim dan modal alam; kesehatan dan kesejahteraan; dan perdamaian dan keamanan.
Mereka kemudian menyimpulkan bahwa tingkat kerja sama secara keseluruhan sebagian besar tidak berubah dalam beberapa tahun terakhir.
Baca juga: Aksi Iklim Sederhana dan Berbiaya Rendah Bisa Selamatkan 725.000 Jiwa per Tahun
Namun, dinamika kolaborasi telah bergeser dari inisiatif besar yang melibatkan puluhan atau bahkan ratusan pemerintah pusat dan daerah menjadi koalisi yang lebih kecil dan lebih dinamis.
Laporan juga mencatat, meski tetap menantang untuk mengubah kerja sama menjadi perjanjian internasional, banyak ahli yang merasa optimis akan lebih banyak kerja sama internasional dalam lingkungan.
Lebih lanjut, peneliti juga melihat kolaborasi di bidang iklim dan alam secara khusus dengan melacak peningkatan kerja sama di bidang perdagangan lintas batas dan pembiayaan iklim global.
Perdagangan sangat kuat di industri seperti energi terbarukan, hidrogen, transportasi listrik, dan penangkapan karbon.
Namun, kolaborasi dalam pembiayaan iklim sebagian besar terfokus pada mitigasi, dengan tingkat peningkatan yang melambat pada tahun 2024. Terlebih lagi, tren kolaborasi dalam hal adaptasi sebenarnya justru menurun.
Hal ini mengkhawatirkan karena cuaca ekstrem di seluruh dunia menjadi semakin sering terjadi dan semakin parah.
Baca juga: Bukan Hanya Surga, Pemimpin Agama Perlu Dorong Aksi Iklim di Mimbarnya
Negara-negara kaya secara kolektif hanya memberikan dana publik sebesar 26 miliar dolar AS untuk adaptasi iklim pada tahun 2023, turun 2 miliar dolar AS dari tahun sebelumnya.
PBB telah memperingatkan dunia akan menghadapi biaya bencana yang terus meningkat setiap tahunnya kecuali negara meningkatkan pendanaan adaptasi secara drastis sekarang.
Laporan ini pun merekomendasikan peningkatan pendanaan dari sumber publik hingga dua belas kali lipat dan peningkatan pendanaan swasta hingga sepuluh kali lipat pada tahun 2035.
Laporan menilai pula kurangnya kerja sama internasional dalam melestarikan dan memulihkan keanekaragaman hayati baik itu di lingkungan laut dan darat.
Namun pertemuan Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global untuk menghentikan penurunan keanekaragaman hayati yang akan diadakan tahun ini diharapkan memberikan hasil positif.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya