Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kerja Sama Iklim Internasional Meningkat Meskipun Ada 'Efek Trump'

Kompas.com, 12 Januari 2026, 16:33 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Terlepas dari penarikan AS dari Perjanjian Paris dan kesulitan dalam mengajak para pemimpin dunia untuk menghadiri COP30, kerja sama internasional untuk aksi iklim semakin menguat seiring negara-negara menjalin kesepakatan baru tentang pendanaan dan perdagangan energi bersih.

Hal tersebut berdasarkan analisis baru dari Forum Ekonomi Dunia.

Melansir Edie, Jumat (9/1/2026) para peneliti menyimpulkan bahwa tekanan kuat pada lembaga multilateral justru membuat kerja sama global berkembang daripada mundur.

Hasil ini didapat setelah peneliti menilai kolaborasi pada lima tema utama yaitu perdagangan dan modal; inovasi dan teknologi; iklim dan modal alam; kesehatan dan kesejahteraan; dan perdamaian dan keamanan.

Mereka kemudian menyimpulkan bahwa tingkat kerja sama secara keseluruhan sebagian besar tidak berubah dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Aksi Iklim Sederhana dan Berbiaya Rendah Bisa Selamatkan 725.000 Jiwa per Tahun

Namun, dinamika kolaborasi telah bergeser dari inisiatif besar yang melibatkan puluhan atau bahkan ratusan pemerintah pusat dan daerah menjadi koalisi yang lebih kecil dan lebih dinamis.

Laporan juga mencatat, meski tetap menantang untuk mengubah kerja sama menjadi perjanjian internasional, banyak ahli yang merasa optimis akan lebih banyak kerja sama internasional dalam lingkungan.

Pembiayaan iklim

Lebih lanjut, peneliti juga melihat kolaborasi di bidang iklim dan alam secara khusus dengan melacak peningkatan kerja sama di bidang perdagangan lintas batas dan pembiayaan iklim global.

Perdagangan sangat kuat di industri seperti energi terbarukan, hidrogen, transportasi listrik, dan penangkapan karbon.

Namun, kolaborasi dalam pembiayaan iklim sebagian besar terfokus pada mitigasi, dengan tingkat peningkatan yang melambat pada tahun 2024. Terlebih lagi, tren kolaborasi dalam hal adaptasi sebenarnya justru menurun.

Hal ini mengkhawatirkan karena cuaca ekstrem di seluruh dunia menjadi semakin sering terjadi dan semakin parah.

Baca juga: Bukan Hanya Surga, Pemimpin Agama Perlu Dorong Aksi Iklim di Mimbarnya

Negara-negara kaya secara kolektif hanya memberikan dana publik sebesar 26 miliar dolar AS untuk adaptasi iklim pada tahun 2023, turun 2 miliar dolar AS dari tahun sebelumnya.

PBB telah memperingatkan dunia akan menghadapi biaya bencana yang terus meningkat setiap tahunnya kecuali negara meningkatkan pendanaan adaptasi secara drastis sekarang.

Laporan ini pun merekomendasikan peningkatan pendanaan dari sumber publik hingga dua belas kali lipat dan peningkatan pendanaan swasta hingga sepuluh kali lipat pada tahun 2035.

Laporan menilai pula kurangnya kerja sama internasional dalam melestarikan dan memulihkan keanekaragaman hayati baik itu di lingkungan laut dan darat.

Namun pertemuan Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global untuk menghentikan penurunan keanekaragaman hayati yang akan diadakan tahun ini diharapkan memberikan hasil positif.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Fitoplankton Bisa 'Kunci' Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
Fitoplankton Bisa "Kunci" Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
LSM/Figur
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Swasta
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
Pemerintah
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Pemerintah
Program 'SNI Goes to Campus' Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Program "SNI Goes to Campus" Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Swasta
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Pemerintah
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Pemerintah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
LSM/Figur
El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam
El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam
Pemerintah
Saat Plastik Tak Lagi Murah, Sistem Guna Ulang Jadi Makin Relevan
Saat Plastik Tak Lagi Murah, Sistem Guna Ulang Jadi Makin Relevan
BrandzView
Reformasi Subsidi BBM-LPG Bisa Hemat Ratusan Triliun untuk Energi Terbarukan
Reformasi Subsidi BBM-LPG Bisa Hemat Ratusan Triliun untuk Energi Terbarukan
LSM/Figur
Emil Salim Serukan Perubahan Model Pembangunan yang Lebih Holistik
Emil Salim Serukan Perubahan Model Pembangunan yang Lebih Holistik
LSM/Figur
BNPB: Karhutla hingga Banjir Landa Sejumlah Wilayah Indonesia
BNPB: Karhutla hingga Banjir Landa Sejumlah Wilayah Indonesia
Pemerintah
Reformasi Subsidi Energi Jadi Kunci Pulihkan Kredibilitas Fiskal dan Percepat Transisi Energi
Reformasi Subsidi Energi Jadi Kunci Pulihkan Kredibilitas Fiskal dan Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau