Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemulihan Pasca-Bencana Sumatera, Perlu Inovasi Pemanfaatan Kayu dan Lumpur Sisa Banjir

Kompas.com, 12 Januari 2026, 21:18 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com — Program pemulihan pascabencana banjir bandang di Sumatera dinilai perlu mengakomodasi pemanfaatan sampah sisa bencana, seperti kayu dan lumpur, sebagai bagian dari strategi pemulihan ekonomi masyarakat.

Direktur Pusat Kajian Perubahan Iklim dan Mitigasi Bencana Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara, Achmad Siddik Thoha, mengatakan material sisa banjir bandang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan untuk hunian sementara maupun hunian tetap.

“Kami berharap ke depan ada inovasi dalam pemanfaatan sampah banjir, baik sisa kayu maupun lumpur. Ini bisa menggerakkan masyarakat untuk mendapatkan mata pencaharian secepatnya dari apa yang sudah ada di depan mereka,” ujar Siddik dalam webinar, Senin (12/1/2026).

Selain pemanfaatan material sisa bencana, Siddik juga mengusulkan sejumlah program pemulihan pascabencana di Sumatera Utara.

Pertama, pemulihan lahan pertanian yang rusak melalui penyaluran bantuan benih dan pupuk. Kedua, dukungan bagi kampus untuk menormalisasi kembali fasilitas pendidikan yang terdampak dan tidak dapat berfungsi.

Ketiga, program pemulihan harus mengaktifkan kembali fasilitas kesehatan yang terdampak bencana. Keempat, dukungan psikososial perlu menjadi bagian dari pemulihan jangka panjang karena trauma masyarakat tidak serta-merta hilang meskipun banjir telah surut.

Kelima, Siddik menekankan pentingnya inovasi infrastruktur tahan bencana yang dilengkapi peralatan mitigasi berbasis kearifan lokal.

Ia mencontohkan sejumlah desa di Langkat, Tapanuli Tengah, dan Aceh Tamiang yang mampu meminimalkan korban jiwa karena memiliki sarana mitigasi sederhana seperti perahu.

“Kami menemukan desa-desa yang terdampak sangat parah, tetapi tidak ada korban jiwa karena mereka memiliki pengetahuan dan fasilitas mitigasi berbasis kearifan lokal,” kata Siddik.

Berdasarkan kajian tim USU, lokasi terdampak banjir bandang di Sumatera Utara umumnya berada di luar kawasan hutan dan sebagian besar merupakan kawasan permukiman. Karena itu, evaluasi kawasan permukiman di zona risiko bencana dinilai mendesak untuk dilakukan.

Siddik juga menyoroti menurunnya fungsi daerah aliran sungai (DAS) sebagai regulator air akibat alih fungsi tutupan lahan menjadi perkebunan dan pertanian lahan kering.

Menurut dia, sisa hutan yang ada saat ini tidak cukup untuk menahan dampak bencana berskala besar, sehingga perlindungan hutan yang tersisa harus menjadi bagian penting dari pemulihan pascabencana.

Sumatera Barat

Sementara itu, Guru Besar Fisika Atmosfer Universitas Andalas, Marzuki, menilai tata kelola dan koordinasi penanganan pascabencana di Sumatera Barat masih belum terpadu.

Menurut dia, kapasitas pemerintah daerah serta pendanaan untuk pengurangan risiko bencana masih terbatas. Penanganan bencana cenderung bersifat reaktif dan belum bergeser ke pendekatan pencegahan.

“Perlu ada pergeseran dari penanganan berbasis respons ke manajemen berbasis risiko, sehingga fokusnya bukan hanya saat bencana terjadi, tetapi juga pada pencegahan dan pengurangan risiko sejak dini,” ujar Marzuki.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau