Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kubah Es Raksasa di Greenland Berpotensi Mencair Lagi, Ini Penjelasan Pakar

Kompas.com, 13 Januari 2026, 17:48 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Penelitian sebelumnya

Inti sedimen Kubah Prudhoe pertama kali diambil oleh proyek GreenDrill, yang didanai oleh National Science Foundation dan melibatkan para peneliti di beberapa universitas Amerika Serikat.

Waktu itu, para peneliti berharap bisa memperoleh informasi tentang iklim masa lalu dari tanah di bawah lapisan es, yang mereka sebut sebagai bagian permukaan daratan bumi yang paling sedikit dieksplorasi.

Inti sedimen yang dibor pada tahun 1966 dari bawah es di Camp Century, fasilitas militer bertenaga nuklir Amerika Serikat yang beroperasi selama delapan tahun selama Perang Dingin, menunjukkan seluruh lapisan es di Greenland bagian barat laut mencair sekitar 400.000 tahun lalu.

Pada tahun 1993, inti batuan dasar yang diambil fasilitas penelitian ilmiah di Greenland, Summit Station, membuktikan bahwa seluruh lapisan es Kubah Prudhoe diperkirakan pernah mencair sekitar 1,1 juta tahun lalu.

Namun, GreenDrill telah membawa penelusuran informasi tentang iklim masa lalu lebih jauh dengan mengambil sampel di beberapa titik dekat pantai utara.

“Pertanyaannya adalah kapan tepi Greenland mencair di masa lalu? Karena di sinilah kenaikan permukaan laut pertama akan terjadi," ujar Caleb Walcott-George dari Universitas Kentucky, yang terlibat dalam studi terbaru ini.

Baca juga:

Kubah es Prudhoe di Greenland seluas 2.500 kilometer persegi berpotensi mencari kembali abad ini. Aktivitas manusia termasuk penyebabnya.SHUTTERSTOCK/Vadim Nefedoff Kubah es Prudhoe di Greenland seluas 2.500 kilometer persegi berpotensi mencari kembali abad ini. Aktivitas manusia termasuk penyebabnya.

Terdapat beberapa perbedaan pendapat mengenai apakah Greenland utara atau selatan akan mencair lebih cepat pada masa depan.

Menurut Axford, studi terbaru tersebut memperkuat prediksi bahwa pemanasan global terjadi lebih awal dan lebih intens di Greenland utara.

Salah satu kemungkinan penyebabnya erat kaitannya dengan hukum sebab-akibat, seperti hilangnya es Laut Arktik, yang dapat melepaskan lebih banyak panas laut ke atmosfer di wilayah paling utara.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau