Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kubah Es Raksasa di Greenland Berpotensi Mencair Lagi, Ini Penjelasan Pakar

Kompas.com, 13 Januari 2026, 17:48 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kubah Prudhoe (Prudhoe Dome), gumpalan es raksasa seluas 2.500 kilometer persegi atau seukuran negara Luksemburg, di Greenland berpotensi kembali mencair pada abad ini.

Studi terbaru mengungkapkan, pencairan lapisan es Kubah Prudhoe dapat menaikkan permukaan laut global. Para peneliti mengebor sedalam 500 meter menembus pusat Kubah Prudhoe untuk mengumpulkan inti sedimen dan batuan dasar sepanjang tujuh meter.

Baca juga:

Kubah es Prudhoe di Greenland berpotensi mencair kembali

Bisa memicu kenaikan permukaan laut global

Kubah es Prudhoe di Greenland seluas 2.500 kilometer persegi berpotensi mencari kembali abad ini. Aktivitas manusia termasuk penyebabnya.canva.com Kubah es Prudhoe di Greenland seluas 2.500 kilometer persegi berpotensi mencari kembali abad ini. Aktivitas manusia termasuk penyebabnya.

Teknik penanggalan menggunakan cahaya inframerah menunjukkan bahwa pasir di permukaan inti sedimen Kubah Prudhoe telah memutih akibat sinar matahari sekitar 7.000 tahun lalu, sekitar awal periode Holosen.

Temuan tersebut dinilai jauh lebih "baru" dibanding temuan sebelumnya. Tidak hanya itu, pencairan tersebut menunjukkan bahwa Kubah Prudhoe lebih sensitif terhadap suhu yang relatif hangat, dilansir dari Euronews, Selasa (13/1/2026).

Periode Holosen berlangsung sekitar 11.700 tahun terakhir, yang ditandai dengan iklim yang relatif hangat, serta suhu sekitar tiga derajat celsius sampai lima derajat celsius lebih tinggi dibanding saat ini. 

Suhu di Greenland bisa kembali mencapai tiga derajat celsius hingga lima derajat celsius pada tahun 2100 akibat krisis iklim yang dipicu oleh ulah manusia.

"Hal ini adalah bukti yang sangat langsung bahwa lapisan es sangat sensitif terhadap pemanasan, bahkan dalam jumlah yang relatif kecil yang terjadi pada zaman Holosen, seperti yang kita khawatirkan,” ujar Yarrow Axford dari Northwestern University di Illinois, Amerika Serikat, yang tidak terlibat dalam studi ini, dilansir dari NewScientist.

Sementara itu, profesor yang memimpin studi ini, Jason Briner mengatakan, periode Holosen merupakan masa yang dikenal dengan stabilitas iklim.

Pada periode tersebut, manusia pertama kali mulai mengembangkan praktik pertanian dan mengambil langkah-langkah menuju peradaban.

"Jika perubahan iklim alami dan moderat pada era tersebut telah melelehkan Kubah Prudhoe dan membuatnya tetap mundur selama ribuan tahun, mungkin hanya masalah waktu sebelum ia mulai meleleh kembali akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia saat ini," ucap Briner.

Adapun pencairan lapisan es Greenland dapat memicu kenaikan permukaan laut secara global, mulai dari puluhan sentimeter hingga satu meter pada abad ini.

Para peneliti perlu lebih memahami seberapa cepat berbagai bagian lapisan es akan menghilang dengan mempersempit prediksi tersebut.

Baca juga:

Penelitian sebelumnya

Kubah es Prudhoe di Greenland seluas 2.500 kilometer persegi berpotensi mencari kembali abad ini. Aktivitas manusia termasuk penyebabnya.Dok. wirestock Kubah es Prudhoe di Greenland seluas 2.500 kilometer persegi berpotensi mencari kembali abad ini. Aktivitas manusia termasuk penyebabnya.

Inti sedimen Kubah Prudhoe pertama kali diambil oleh proyek GreenDrill, yang didanai oleh National Science Foundation dan melibatkan para peneliti di beberapa universitas Amerika Serikat.

Waktu itu, para peneliti berharap bisa memperoleh informasi tentang iklim masa lalu dari tanah di bawah lapisan es, yang mereka sebut sebagai bagian permukaan daratan bumi yang paling sedikit dieksplorasi.

Inti sedimen yang dibor pada tahun 1966 dari bawah es di Camp Century, fasilitas militer bertenaga nuklir Amerika Serikat yang beroperasi selama delapan tahun selama Perang Dingin, menunjukkan seluruh lapisan es di Greenland bagian barat laut mencair sekitar 400.000 tahun lalu.

Pada tahun 1993, inti batuan dasar yang diambil fasilitas penelitian ilmiah di Greenland, Summit Station, membuktikan bahwa seluruh lapisan es Kubah Prudhoe diperkirakan pernah mencair sekitar 1,1 juta tahun lalu.

Namun, GreenDrill telah membawa penelusuran informasi tentang iklim masa lalu lebih jauh dengan mengambil sampel di beberapa titik dekat pantai utara.

“Pertanyaannya adalah kapan tepi Greenland mencair di masa lalu? Karena di sinilah kenaikan permukaan laut pertama akan terjadi," ujar Caleb Walcott-George dari Universitas Kentucky, yang terlibat dalam studi terbaru ini.

Baca juga:

Kubah es Prudhoe di Greenland seluas 2.500 kilometer persegi berpotensi mencari kembali abad ini. Aktivitas manusia termasuk penyebabnya.SHUTTERSTOCK/Vadim Nefedoff Kubah es Prudhoe di Greenland seluas 2.500 kilometer persegi berpotensi mencari kembali abad ini. Aktivitas manusia termasuk penyebabnya.

Terdapat beberapa perbedaan pendapat mengenai apakah Greenland utara atau selatan akan mencair lebih cepat pada masa depan.

Menurut Axford, studi terbaru tersebut memperkuat prediksi bahwa pemanasan global terjadi lebih awal dan lebih intens di Greenland utara.

Salah satu kemungkinan penyebabnya erat kaitannya dengan hukum sebab-akibat, seperti hilangnya es Laut Arktik, yang dapat melepaskan lebih banyak panas laut ke atmosfer di wilayah paling utara.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau