KOMPAS.com - Perempuan migran, termasuk pekerja migran perempuan, berisiko mengalami kekerasan, diskriminasi, dan eksploitasi, menurut UN Women yang berada di bawah naungan PBB.
Bahkan, di beberapa rute migrasi, perempuan terancam dipaksa bekerja di luar kehendak mereka dan menghadapi ancaman penculikan.
Baca juga:
Kekerasan selalu ada di semua tahapan migrasi, mulai dari perjalanan, penyeberangan perbatasan, kehidupan di negara tujuan, hingga pada kepulangan mereka.
"Perempuan migran sering kali mengalami kekerasan berulang oleh pelaku yang berbeda. Risikonya sangat tinggi bagi perempuan yang bepergian tanpa dokumen, dengan sedikit dan tanpa informasi tentang migrasi yang aman atau sumber daya keuangan yang terbatas sehingga mereka berisiko lebih besar menjadi korban pemerasan dan eksploitasi," tulis keterangan resmi UN Women, dilansir Selasa (13/1/2026).
UN Women memperingatkan perempuan migran berisiko mengalami kekerasan, eksploitasi, dan perdagangan manusia.Menurut catatan, satu dari tiga perempuan di seluruh dunia mengalami kekerasan fisik atau kekerasan seksual, dengan perempuan migran menghadapi risiko yang lebih tinggi.
UN Women menyatakan, hak-hak kaum perempuan seakan ikut ditinggalkan ketika kaki mereka melangkah pergi dari negara asalnya.
Perempuan migran juga kerap kali diberikan janji palsu dengan iming-iming pekerjaan. Mereka harus membayar sejumlah uang, dan tak sedikit yang terlilit utang.
Situasi ini membuat korban terpaksa bergantung pada perekrut kerja, tak mampu menolak tuntutan, dan akhirnya sangat rentan terhadap eksploitasi yang berujung pada perdagangan manusia.
"Bagi perempuan yang menggunakan jalur tidak resmi, risikonya makin besar. Perempuan mengalami perjalanan yang ditandai dengan pemerasan, pelecehan, dan penyerangan oleh penyelundup, pedagang manusia, dan pejabat korup serta migran lainnya," tulis UN Women.
Di sepanjang koridor Afrika Selatan–Zimbabwe, misalnya, Human Rights Watch melaporkan bahwa hampir semua perempuan migran yang baru tiba diperkosa atau menyaksikan pemerkosaan selama penyeberangan.
Beberapa laki-laki yang diwawancarai mengakui bahwa mereka memperkosa perempuan migran sebagai harga untuk izin memasuki Afrika Selatan.
Sementara itu, di Celah Darien, antara Kolombia dengan Panama, kasus kekerasan seksual melonjak tujuh kali lipat pada tahun 2024.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya