Studi tersebut menggarisbawahi pergeseran kondisi ekstrem air di tingkat global yang terjadi sekitar tahun 2011-2012.
Sebelum tahun 2011, kondisi ekstrem basah menjadi lebih umum. Sementara itu, setelah tahun 2012, kondisi ekstrem kering mendominasi.
Pergeseran kondisi ekstrem air erat kaitannya dengan pola iklim selama satu dekade di Pasifik yang memodulasi efek ENSO.
Wakil ilmuwan proyek untuk misi GRACE-FO di Jet Propulsion Laboratory NASA dan manajer Program Disiplin JPL untuk Siklus Air dan Energi, JT Reager mengatakan, studi tersebut menunjukkan betapa saling terkaitnya iklim dan air di seluruh planet.
Baca juga: Peringatan WMO: Perubahan Cepat El Nino ke La Nina Picu Musim Badai
Studi tersebut benar-benar menangkap ritme siklus iklim berskala global, seperti El Nino dan La Nina, serta bagaimana pengaruhnya terhadap banjir maupun kekeringan.
"Bukan hanya Samudera Pasifik yang bertindak sendiri. Semua yang terjadi di kawasan itu tampaknya akhirnya memengaruhi kita semua di daratan," ujar Reager, yang tidak terlibat dalam studi ini.
Menurut Scanlon, hubungan antara kejadian air ekstrem dan pola iklim menekankan pentingnya mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
"Sering kali kita mendengar ungkapan bahwa kita kehabisan air, tetapi sebenarnya yang kita hadapi adalah mengelola kondisi ekstrem dan itu adalah pesan yang sangat berbeda," ucapnya.
Baca juga: Perubahan Iklim Sebabkan Teori El Nino dan La Nina Tidak Relevan
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya