Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Darurat Sampah, Pemkot Tangsel Salahkan Pedagang Kaki Lima

Kompas.com, 13 Januari 2026, 19:38 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Tangerang Selatan (Tangsel), kota strategis yang diapit oleh tiga provinsi,  kini menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah.

Dengan jumlah penduduk hampir 1,5 juta jiwa pada 2024, Tangsel menghasilkan 1.029,26 ton sampah per hari, dengan perbandingan komposisi organik dan anorganik 50:50.

Tempat pemrosesan akhir (TPA) Cipeucang, yang menjadi andalan sejak awal berdirinya Tangsel pada 2008 lalu, saat ini mengalami kelebihan kapasitas.

Baca juga: Darurat Sampah di Tangsel, Hujan Perparah Keadaan

Daya tampung TPA Cipeucang berangsur-angsur tergerus seiring kenaikan jumlah penduduk dan semakin banyaknya pembangunan permukiman di Tangsel, termasuk Bumi Serpong Damai (BSD) dan Alam Sutera.

"Dalam beberapa pekan terakhir, Tangsel, Kota Bandung, Depok, dan lain sebagainya sedang menghadapi masalah sama, yaitu masalah sampah," ujar Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan dalam webinar, Selasa (13/1/2026).

Kata dia, memang ada informasi adanya longsoran sampah di TPA Cipeucang pada akhir tahun 2025 lalu. Ini diperparah dengan banjir yang menggenangi perkampungan berlokasi sangat dekat dengan TPA Cipeucang.

Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel melakukan evaluasi dan perbaikan TPA Cipeucang karena khawatir dengan risiko dari curah hujan tinggi dan kelebihan kapasitas. Ini mengingat pernah terjadi longsor samah di TPA beberapa daerah lain pada masa lalu, yang menimbulkan banyak korban jiwa.

Dengan adanya perbaikan, operasional TPA Cipeucang terhenti dan banyak sekai sampah tidak terangkut di sejumlah titik dalam beberapa pekan terakhir. Selain permasalahan TPA Cipeucang, kata dia, masyarakat Tangsel belum terdidik dengan baik untuk membuang sampah sesuai tempatnya.

Ia menyoroti sangat banyaknya pedagang kaki lima yang membuang sampah sembarangan di pinggiran jalan.

"Pedagang kaki lima seperti pedagang bakso, pedagang sayur ataupun pedagang-pedagang ketoprak dan lain sebagainya yang jumlahnya sangat banyak sekali. Itu pembuangan sampahnya masih sporadis. Akhirnya mereka buang sampah di mana bayar, ya itu tumpuk," ucapnya.

Gandeng Pemda Lain

Sebagai solusi jangka pendek, Pemkot Tangsel bekerja sama dengan Kota Serang, sehingga dapat membuang 40 ton sampah per hari ke TPA Cilowong. Pemkot Tangsel juga mengirim 200 ton sampah per hari sampah ke TPA yang dikelola PT Aspex Kumbong di Cileungsi, Kabupaten Bogor.

"Ada beberapa pertimbangan karena memang di sekitar Tangsel sendiri daerahnya TPA itu lagi terkena sanksi dari KLH (Kementerian Lingkungan Hidup) untuk dilakukan penutupan dan pembenahan. Jadi, dikasih waktu. Maka dari itu, banyak kota kabupaten yang saat ini sedang takut untuk membuka aksesnya," tutur Pilar.

"Bahkan, sampai Nambo pun, Jawa Barat sekarang belum buka akses besar. Kami hanya bisa buang di Bogor per hari. Walaupun kita lihat di Nambo itu sangat ideal sekali,".

Sebagai solusi jangka menengah, Pemkot Tangsel sedang mempersiapkan pembangunan MRF (Material Recovery Facility) atau fasilitas daur ulang. Pembangunan MRF ditargetkan selesai pertengahan tahun 2026 atau diperkirakan bisa berjaan pada bulan Agustus dan September 2026.

Andalkan WtE

Solusi jangka panjang, pemkot Tangsel akan mempersiapkan pembangunan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) atau waste to energy (WtE) untuk membantu mengurangi sampah yang mencapai lebih dari 1.000 ton per hari.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Pemerintah
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
Pemerintah
Ketika Fenomena 'Overwork' Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
Ketika Fenomena "Overwork" Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
LSM/Figur
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Pemerintah
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
Swasta
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Pemerintah
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Pemerintah
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
BUMN
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
LSM/Figur
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
LSM/Figur
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
Pemerintah
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
LSM/Figur
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau