KOMPAS.com - Fenomena El Nino dan La Nina bisa membuat kekeringan dan banjir terjadi secara bersamaan, meskipun wilayahnya berjauhan, menurut studi yang terbit di AGU Advances.
El Nino-Southern Oscillation (ENSO), pola iklim di Samudera Pasifik ekuator yang melibatkan El Nino dan La Nina, menjadi pendorong utama ekstremitas penyimpanan air secara total di tingkat global selama 20 tahun terakhir. ENSO mempunyai efek sinkronisasi pada ekstremitas penyimpanan air di berbagai benua.
Baca juga:
Profesor riset di Biro Geologi Ekonomi di Sekolah Geosains Jackson UT, Bridget Scanlon mengatakan, memahami bagaimana kejadian ekstrem terjadi di seluruh dunia bisa berdampak terhadap kebijakan.
"Jika kita melihat skala global, kita dapat mengidentifikasi wilayah mana yang secara bersamaan basah atau kering. Dan tentu saja hal itu memengaruhi ketersediaan air, produksi pangan, perdagangan pangan, semua hal global ini," ujar Scanton, salah satu penulis studi itu, dilansir dari Phys.org, Rabu (14/1/2026).
Sebagai informasi, El Nino adalah fenomena alam ketika terjadi peningkatan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian timur, dilansir dari Ensiklopedia Fenomena Alam Seri III (2024) karya Tjahjono Tri via Kompas.com, Jumat (26/4/2024).
Sementara itu, La Nina adalah fenomena alam yang menyebabkan udara terasa lebih dingin atau mengalami curah hujan yang lebih tinggi, dilaporkan Kompas.com, Sabtu (12/4/2025).
Fenomena El Nino dan La Nina bisa membuat kekeringan dan banjir terjadi secara bersamaan, menurut studi yang terbit di AGU Advances. Total penyimpanan air di area tertentu menjadi metrik iklim yang penting. Hal itu termasuk air permukaan di danau, sungai, lapisan salju, kelembapan tanah, serta yang berada di bawah tanah.
Studi tersebut juga melacak total ekstrem air dan ENSO di tingkat global. Asisten profesor riset di Biro Geologi Ekonomi di Sekolah Geosains Jackson UT, Ashraf Rateb mengatakan, hal tersebut memungkinkan para peneliti untuk mengamati bagaimana ekstrem air saling terkait.
Menurut dia, sebagian besar studi menghitung kejadian ekstrem atau mengukur seberapa parah dampaknya.
"Sebagian besar penelitian menghitung peristiwa ekstrem atau mengukur seberapa parahnya peristiwa tersebut, tapi secara definisi, peristiwa ekstrem itu langka. Hal itu memberikan sangat sedikit data untuk mempelajari perubahan seiring waktu," kata Rateb, dilansir dari Science Daily.
"Alih-alih, kami meneliti bagaimana peristiwa ekstrem terhubung secara spasial, yang memberikan informasi jauh lebih banyak tentang pola-pola yang mendasari kekeringan dan banjir secara global," tambah dia.
Untuk memperkirakan total penyimpanan air, para peneliti mengandalkan pengukuran gravitasi dari satelit GRACE dan GRACE Follow-On (GRACE-FO) milik NASA.
Data ini memungkinkan para peneliti untuk mendeteksi perubahan massa air di area seluas sekitar 300 hingga 400 kilometer persegi atau seukuran negara bagian Indiana, Amerika Serikat.
Mereka mengklasifikasikan kondisi ekstrem basah sebagai tingkat penyimpanan air di atas persentil ke-90 untuk wilayah tertentu. Kondisi ekstrem kering didefinisikan sebagai tingkat di bawah persentil ke-10.
Baca juga:
Fenomena El Nino dan La Nina bisa membuat kekeringan dan banjir terjadi secara bersamaan, menurut studi yang terbit di AGU Advances. Analisis para peneliti menunjukkan bahwa aktivitas abnormal ENSO dapat mendorong wilayah-wilayah yang terpisah jauh ke dalam kondisi ekstrem kering atau basah secara bersamaan.
Kondisi kering ekstrem dikaitkan dengan El Nino di beberapa wilayah dan La Nina di wilayah lain, dengan pola sebaliknya untuk kondisi basah ekstrem.
Misalnya, kekeringan ekstrem terjadi selama El Nino di Afrika Selatan pada pertengahan 2000-an dan di Amazon selama tahun 2015–2016.
Di sisi lain, La Nina bertepatan dengan kondisi yang sangat basah di Australia, Brasil bagian tenggara, dan Afrika Selatan selama tahun 2010–2011.
Fenomena El Nino dan La Nina bisa membuat kekeringan dan banjir terjadi secara bersamaan, menurut studi yang terbit di AGU Advances. Studi tersebut menggarisbawahi pergeseran kondisi ekstrem air di tingkat global yang terjadi sekitar tahun 2011-2012.
Sebelum tahun 2011, kondisi ekstrem basah menjadi lebih umum. Sementara itu, setelah tahun 2012, kondisi ekstrem kering mendominasi.
Pergeseran kondisi ekstrem air erat kaitannya dengan pola iklim selama satu dekade di Pasifik yang memodulasi efek ENSO.
Wakil ilmuwan proyek untuk misi GRACE-FO di Jet Propulsion Laboratory NASA dan manajer Program Disiplin JPL untuk Siklus Air dan Energi, JT Reager mengatakan, studi tersebut menunjukkan betapa saling terkaitnya iklim dan air di seluruh planet.
Baca juga: Peringatan WMO: Perubahan Cepat El Nino ke La Nina Picu Musim Badai
Studi tersebut benar-benar menangkap ritme siklus iklim berskala global, seperti El Nino dan La Nina, serta bagaimana pengaruhnya terhadap banjir maupun kekeringan.
"Bukan hanya Samudera Pasifik yang bertindak sendiri. Semua yang terjadi di kawasan itu tampaknya akhirnya memengaruhi kita semua di daratan," ujar Reager, yang tidak terlibat dalam studi ini.
Menurut Scanlon, hubungan antara kejadian air ekstrem dan pola iklim menekankan pentingnya mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
"Sering kali kita mendengar ungkapan bahwa kita kehabisan air, tetapi sebenarnya yang kita hadapi adalah mengelola kondisi ekstrem dan itu adalah pesan yang sangat berbeda," ucapnya.
Baca juga: Perubahan Iklim Sebabkan Teori El Nino dan La Nina Tidak Relevan
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya