Survei geofisika dan kajian geologi dapat menjadi dasar perencanaan tata ruang untuk mengantisipasi potensi ancaman sinkhole ke depannya.
Pemetaan risiko sinkhole penting untuk mengetahui seberapa parah rongga-rongga dalam lapisan batuan gamping.
"Kalau sudah ada kajian bahaya dan risikonya, berarti suatu saat nanti ada rumah-rumah masyarakat di daerah-daerah tertentu yang harus dipindahkan. Kira-kira risikonya tinggi, sedang, atau rendah. Nah, daerah-daerah yang punya risiko tingga ya itu harus direlokasi permukimannya," jelas Adrin.
Metode rekayasa geoteknik bisa digunakan untuk mencegah semakin parahnya pembentukan rongga-rongga dalam lapisan batuan gamping yang meningkatkan risiko terjadinya sinkhole.
Hal tersebut bisa dilakukan dengan menginjeksikan semen, mortar, atau bahan kimia tertentu untuk mengisi rongga-rongga yang ada di lapisan batuan gamping di bawah permukaan tanah (cement grounting).
Setelah dibor, material semen, mortar, atau bahan kimia tertentu diinjeksikan melalui pipa dengan tekanan dan volume secara terukur agar tidak merusak struktur batuan gamping yang tidak berongga.
Kemudian, mengecek efektifitas grouting melalui uji permeabilitas atau pengujian geofisika lainnya untuk memastikan rongga-rongga sudah terisi dan stabilitas lapisan batuan gamping sudah meningkat.
"Kalau daerah di permukiman penduduk seperti itu ya, lubang-lubang rongganya besar, itu mahal banget untuk mitigasinya. Lebih mudah, lebih murah mungkin kalau memindahkan saja, relokasi. Berarti dipetakan, dilakukan kajian risikonya, ditentukan mana daerah-daerah permukiman yang risiko tinggi. Yang risiko tinggi itu yang direlokasi," jelas Adrin.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya