KOMPAS.com - Sinkhole muncul di persawahan di Jorong Tepi, Nagar Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Diketahui, lubang runtuhan besar tersebut cenderung meluas jika dibandingkan dengan kondisi awal ditemukan.
Sehubungan dengan fenomena itu, adakah cara untuk mengantisipasi sinkhole di suatu daerah? Serta, apa yang sebaiknya dilakukan jika sudah ada sinkhole?
Baca juga:
"Kalau sudah diketahui terjadi fenomena sinkhole, berarti di situ ada lapisna batu gamping yang berongga. (Jadi), di permukaan tanah di situ ada potensi terbentuknya sinkhole maka pemerintah daerah harusnya memetakan," kata Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari kepada Kompas.com, Sabtu (17/1/2026).
Sebagai informasi, sinkhole terjadi saat hujan lebat mengguyur kawasan dengan lapisan bebatuan gamping yang telah rapuh.
Sebagai penyangga, lapisan bebatuan itu sudah semakin rapuh karena air bersifat asam dari permukaan yang terserap ke tanah melarutkan unsur kimia, mineral kalsit, yang terkandung dalam batuan gamping.
Air bersifat asam, yang mengalir secara terus-menerus melalui celah rekahan, menyebabkan rongga dalam bebatuan gamping semakin membesar.
Seiring berjalannya waktu, rongga-rongga dalam lapisan bebatuan gamping menjadi saling terhubung satu sama lainnya, yang pada gilirannya membentuk air sungai di bawah permukaan tanah.
Sinkhole relatif sering terjadi di wilayah bentang alam batu gamping di Indonesia.
Wilayah dengan lapisan batu gamping cukup tebal di bawah permukaan tanah menjadi daerah rawan sinkhole, seperti Gunungkidul di Daerah Istimewa Yogyakarta; Pacitan di Jawa Timur; serta Maros di Sulawesi Selatan.
Baca juga:
Fenomena sinkhole atau tanah berlubang mengejutkan warga Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, pada Minggu (4/1/2026). Air jernih dari sinkhole di Limapuluh Kota yang sempat diambil warga dipastikan mengandung bakteri E. coli berdasarkan hasil pemeriksaan pemerintah.Menurut Adrin, sulitnya mendeteksi tanda-tanda awal kemunculan menjadi tantangan terberat dalam mitigasi sinkhole.
Proses terbentuknya rongga-rongga dalam lapisan bebatuan gamping berlangsung lama dan terjadi di bawah permukaan tanah, yang menyulitkannya untuk dikenali secara kasat mata.
Keberadaan rongga-rongga dalam lapisan bantuan gamping bisa diidentifikasi melalui survei geofisika.
Untuk memetakan sebaran, kedalaman, dan ukuran rongga dalam lapisan batuan gamping, dapat dilakukan dengan metode yang memberikan gambaran citra kondisi di bawah permukaan tanah. Misalnya, metode gayaberat, georadar, dan geolistrik.
Identifikasi keberadaan rongga-rongga dalam lapisan batuan gamping bisa mengantisipasi potensi dan dampak sinkhole lebih dini.
Kawasan permukiman di atas lapisan batuan gamping mempunyai risiko lebih tinggi mengalami sinkhole.
Baca juga:
Hilangnya aliran air di permukaan secara tiba-tiba menjadi salah satu pertanda yang perlu diwaspadai.
Kalau aliran air mendadak menghilang, kemungkinan sudah mengisi rongga-rongga lapisan batuan gamping di bawah tanah.
Dengan demikian, dalam kondisi tersebut, kata Adrin, perlu segera diinvestigasi lantaran berisiko terjadi sinkhole.
"Kalau (sudah terjadi sinkhole dan lokasinya berada) masih di daerah permukiman, ya harus dipetakan. Kira-kira ada di mana lagi rongga-rongga di lapisan batu gamping yang akan bisa menimbulkan ancaman sinkhole. Harus disurvei, diteliti, dipetakan sebaran rongga-rongga di lapisan batu gamping itu, sebarapa luas, seberapa besar itu, volume rongganya," jelas Adrin.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya