Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pengasaman Laut Bikin Gigi Hiu Berlubang dan Retak, Ini Alasannya

Kompas.com, 18 Januari 2026, 18:16 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber Phys.org, NOAA

KOMPAS.com - Gigi hiu berpotensi melemah akibat pengasaman laut, menurut studi ilmuwan Jerman yang meneliti dampak pengasaman laut terhadap struktur gigi hiu. 

Dipublikasikan di jurnal Frontiers in Marine Science, studi tersebut menyampaikan bahwa perubahan pada gigi hiu tidak terjadi secara tiba-tiba.

Baca juga:

Namun, dampaknya bisa mengganggu posisi hiu sebagai predator puncak di ekosistem laut. Hal tersebut belum ditambah dengan ancaman lain, seperti polusi, penangkapan ikan berlebihan, dan perubahan iklim. 

"Kami menemukan adanya efek korosi pada gigi hiu. Kesuksesan ekologi mereka di lautan sebagai penguasa populasi lain dapat terancam," tutur penulis utama penelitian tersebut dan ahli biologi kelautan dari Universitas Heinrich Heine Düsseldorf, Maximilian Baum, dikutip dari Phys.org, Minggu (18/1/2026).

Sebagai informasi, dikutip dari laman National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), pengasaman laut terjadi ketika pH laut menurun dalam jangka waktu panjang.

Peristiwa ini utamanya disebabkan oleh penyerapan karbon dioksida (CO2) dari atmosfer, serta berhubungan erat dengan aktivitas manusia, seperti pembakaran batu bara, minyak, dan gas. 

Baca juga:

Pengasaman laut bisa membahayakan gigi hiu

Penelitian dilakukan pada hiu sirip hitam

Ilustrasi hiu sirip hitam. Studi ilmuwan Jerman mengungkap pengasaman laut bisa melemahkan gigi hiu dan mengancam peran mereka sebagai predator puncak.Dok. Wikimedia Commons/Charles J. Sharp Ilustrasi hiu sirip hitam. Studi ilmuwan Jerman mengungkap pengasaman laut bisa melemahkan gigi hiu dan mengancam peran mereka sebagai predator puncak.

Para ilmuwan memperkirakan laut bisa menjadi hampir 10 kali lebih asam pada tahun 2300 dibanding kondisi saat ini. Perubahan kimia ini berpotensi memengaruhi banyak organisme laut, termasuk hiu.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan mengumpulkan lebih dari 600 gigi hiu yang copot secara alami dari akuarium.

Akuarium tersebut menjadi tempat bagi hiu blacktip reef shark (hiu sirip hitam), spesies yang hidup di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia dengan panjang tubuh sekitar 1,7 meter.

Gigi-gigi itu kemudian direndam dalam dua kondisi air. Satu mewakili tingkat keasaman laut saat ini, sedangkan satu lagi mewakili tingkat keasaman laut yang diproyeksikan terjadi pada tahun 2300.

Hasilnya cukup mencolok. Gigi yang terpapar air lebih asam mengalami kerusakan lebih parah. Para peneliti menemukan retakan, lubang kecil, korosi pada akar gigi, serta degradasi struktur gigi secara menyeluruh.

Menurut para ilmuwan, hasil tersebut menunjukkan bahwa pengasaman laut akan berdampak signifikan terhadap sifat morfologi gigi.

Baca juga:

Hiu masih punya kemampuan bertahan

Ilustrasi hiu sirip hitam. Studi ilmuwan Jerman mengungkap pengasaman laut bisa melemahkan gigi hiu dan mengancam peran mereka sebagai predator puncak.Dok. Wikimedia Commons/Charles J. Sharp Ilustrasi hiu sirip hitam. Studi ilmuwan Jerman mengungkap pengasaman laut bisa melemahkan gigi hiu dan mengancam peran mereka sebagai predator puncak.

Meski begitu, beberapa ilmuwan menilai hiu masih memiliki kemampuan bertahan.

Nick Whitney, ilmuwan senior di Anderson Cabot Center for Ocean Life, New England Aquarium dan tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan, penelitian ini dilakukan dengan metode yang baik.

Whitney menjelaskan bahwa gigi hiu tumbuh di dalam jaringan mulut. Kondisi ini memberi perlindungan sementara dari perubahan kimia laut. Tidak hanya itu, sejarah juga menunjukkan bahwa hiu adalah penyintas sejati.

"Mereka telah ada selama 400 juta tahun dan mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan lingkungan," kata Whitney.

Namun, ia tetap menilai pengasaman laut sebagai ancaman yang perlu diperhatikan, meskipun ancaman terbesar tetap penangkapan berlebihan.

Untuk Baum, pengasaman laut tidak bisa diabaikan. Dalam beberapa tahun ke depan, sebagian spesies hiu bisa mendekati kepunahan. Perubahan kimia laut bisa menjadi salah satu faktor penyebabnya.

"Kesuksesan evolusi hiu bergantung pada gigi mereka yang berkembang sempurna," kata Baum.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau