Penulis
Tekanan terhadap tumbuhan hutan tidak berhenti sampai di situ. Populasi berlebihan dari bajing dan jelarang juga memicu kompetisi antar-satwa lain yang bergantung pada sumber pakan yang sama.
"Selain tekanan terhadap tumbuhan hutan, over populasi bajing dan jelarang dapat menyebabkan kompetisi dengan hewan pemakan buah dan biji lain seperti burung," ujar Donan.
Ketika makanan terbatas, persaingan meningkat. Satwa yang kalah akan tersingkir dari habitatnya. Hal ini dapat memicu penurunan populasi spesies lain secara bertahap.
Donan menilai keseimbangan populasi menjadi kunci utama dalam menjaga daya dukung hutan. Tanpa keseimbangan, ekosistem akan melemah dan rentan rusak.
Baca juga:
Selain ancaman ekologis, Donan juga menyoroti peran manusia terkait menyusutnya ruang hidup elang jawa. Alih fungsi hutan, fragmentasi habitat, serta aktivitas manusia membuat wilayah jelajah elang semakin terbatas.
"Semua makhluk hidup termasuk elang jawa adalah ciptaan Tuhan dan mereka berhak untuk tinggal di bumi-Nya. Kita wajib berbagi lahan dengan hewan dan tumbuhan," ujar dia.
Menurut Donan, penyelamatan elang jawa tidak bisa dipisahkan dari perlindungan habitatnya. Kawasan bersarang, wilayah jelajah, dan area berburu harus mendapat perlindungan kuat dari pemerintah.
"Ketika kita menyelamatkan elang jawa, maka hewan maupun tumbuhan lain di dalam area konservasi juga otomatis terlindungi," tutur Donan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya