Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem

Kompas.com, 20 Januari 2026, 22:35 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Apa yang terjadi jika elang jawa punah dari alam? Menurut pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dampak yang muncul tidak hanya menyangkut hilangnya satu spesies. Kepunahan elang jawa berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem hutan di Pulau Jawa secara menyeluruh.

Dosen Fakultas Biologi UGM sekaligus pemerhati satwa liar, Donan Satria Yudha, menyampaikan bahwa elang jawa memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas alam. Elang jawa dikenal sebagai predator puncak yang mengontrol populasi satwa lain di hutan.

Baca juga:

"Jika elang jawa punah maka bajing dan jelarang populasinya akan meledak dan menjadi banyak karena tidak dikontrol oleh pemangsanya," kata Donan, dilansir dari Antara, Selasa (20/1/2026).

Ia menambahkan, hilangnya predator utama akan memicu gangguan besar dalam rantai makanan. Dampaknya tidak berhenti pada satu jenis hewan, tapi menjalar ke seluruh sistem ekosistem.

Apa yang terjadi jika elang jawa punah?

Pakar UGM mengingatkan dampak ekologis besar jika elang jawa punah. Mulai dari ledakan populasi mangsa hingga rusaknya hutan.Dokumentasi Humas TN Baluran Pakar UGM mengingatkan dampak ekologis besar jika elang jawa punah. Mulai dari ledakan populasi mangsa hingga rusaknya hutan.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), populasi elang jawa dengan nama ilmiah Nisaetus bartelsi saat ini diperkirakan hanya tersisa 511 pasang atau sekitar 1.000 ekor.

Sementara itu, menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), populasi elang jawa termasuk satwa terancam punah. Dilansir dari laman IUCN, spesies ini diyakini sedang mengalami penurunan yang terus-menerus akibat perdagangan.

Elang jawa saat ini hidup tersebar di 74 kawasan hutan di Pulau Jawa. Jumlah tersebut tergolong sangat kecil jika dibandingkan dengan luas wilayah dan tekanan aktivitas manusia yang terus meningkat.

Kondisi ini membuat elang jawa masuk dalam kategori satwa yang sangat terancam punah. Jika tidak ada perlindungan serius, risiko kepunahan bisa terjadi dalam waktu yang tidak lama.

Elang jawa menentukan ekosistem hutan

Pakar UGM mengingatkan dampak ekologis besar jika elang jawa punah. Mulai dari ledakan populasi mangsa hingga rusaknya hutan.Dok. Balai Besar TNGGP Pakar UGM mengingatkan dampak ekologis besar jika elang jawa punah. Mulai dari ledakan populasi mangsa hingga rusaknya hutan.

Donan menjelaskan bahwa elang jawa bukan sekadar simbol satwa langka. Keberadaannya sangat menentukan kesehatan ekosistem hutan.

Sebagai predator puncak, elang jawa mengontrol populasi hewan seperti tikus, tupai, monyet, musang, kadal, dan bahkan ular. Ketika jumlah predator ini stabil, populasi mangsa juga ikut seimbang.

"Ketika ada elang jawa, maka ekosistem terjaga dan sehat, karena hewan lain seperti tikus, tupai, monyet, musang, kadal, ular terjaga atau terkontrol populasinya," tutur Donan.

Baca juga:

Populasi bajing dan jelarang bakal "meledak"

Salah satu dampak utama jika elang jawa punah adalah ledakan populasi bajing dan jelarang. Hewan-hewan ini merupakan pemakan buah dan biji yang memiliki peran dalam penyebaran tumbuhan.

Namun, ketika jumlahnya berlebihan, justru muncul masalah baru.

"Ketika populasi bajing dan jelarang terlalu banyak maka tumbuhan berbuah dan berbiji di hutan akan cepat habis sebelum regenerasi tumbuhan muncul," tutur Donan.

Kompetisi antar-satwa meningkat

Pakar UGM mengingatkan dampak ekologis besar jika elang jawa punah. Mulai dari ledakan populasi mangsa hingga rusaknya hutan.Dok. Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) Pakar UGM mengingatkan dampak ekologis besar jika elang jawa punah. Mulai dari ledakan populasi mangsa hingga rusaknya hutan.

Tekanan terhadap tumbuhan hutan tidak berhenti sampai di situ. Populasi berlebihan dari bajing dan jelarang juga memicu kompetisi antar-satwa lain yang bergantung pada sumber pakan yang sama.

"Selain tekanan terhadap tumbuhan hutan, over populasi bajing dan jelarang dapat menyebabkan kompetisi dengan hewan pemakan buah dan biji lain seperti burung," ujar Donan.

Ketika makanan terbatas, persaingan meningkat. Satwa yang kalah akan tersingkir dari habitatnya. Hal ini dapat memicu penurunan populasi spesies lain secara bertahap.

Donan menilai keseimbangan populasi menjadi kunci utama dalam menjaga daya dukung hutan. Tanpa keseimbangan, ekosistem akan melemah dan rentan rusak.

Baca juga:

Aktivitas manusia mempersempit habitat elang jawa

Selain ancaman ekologis, Donan juga menyoroti peran manusia terkait menyusutnya ruang hidup elang jawa. Alih fungsi hutan, fragmentasi habitat, serta aktivitas manusia membuat wilayah jelajah elang semakin terbatas.

"Semua makhluk hidup termasuk elang jawa adalah ciptaan Tuhan dan mereka berhak untuk tinggal di bumi-Nya. Kita wajib berbagi lahan dengan hewan dan tumbuhan," ujar dia.

Menurut Donan, penyelamatan elang jawa tidak bisa dipisahkan dari perlindungan habitatnya. Kawasan bersarang, wilayah jelajah, dan area berburu harus mendapat perlindungan kuat dari pemerintah.

"Ketika kita menyelamatkan elang jawa, maka hewan maupun tumbuhan lain di dalam area konservasi juga otomatis terlindungi," tutur Donan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau