Penulis
KOMPAS.com - Apa yang terjadi jika elang jawa punah dari alam? Menurut pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dampak yang muncul tidak hanya menyangkut hilangnya satu spesies. Kepunahan elang jawa berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem hutan di Pulau Jawa secara menyeluruh.
Dosen Fakultas Biologi UGM sekaligus pemerhati satwa liar, Donan Satria Yudha, menyampaikan bahwa elang jawa memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas alam. Elang jawa dikenal sebagai predator puncak yang mengontrol populasi satwa lain di hutan.
Baca juga:
"Jika elang jawa punah maka bajing dan jelarang populasinya akan meledak dan menjadi banyak karena tidak dikontrol oleh pemangsanya," kata Donan, dilansir dari Antara, Selasa (20/1/2026).
Ia menambahkan, hilangnya predator utama akan memicu gangguan besar dalam rantai makanan. Dampaknya tidak berhenti pada satu jenis hewan, tapi menjalar ke seluruh sistem ekosistem.
Pakar UGM mengingatkan dampak ekologis besar jika elang jawa punah. Mulai dari ledakan populasi mangsa hingga rusaknya hutan.Berdasarkan data Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), populasi elang jawa dengan nama ilmiah Nisaetus bartelsi saat ini diperkirakan hanya tersisa 511 pasang atau sekitar 1.000 ekor.
Sementara itu, menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), populasi elang jawa termasuk satwa terancam punah. Dilansir dari laman IUCN, spesies ini diyakini sedang mengalami penurunan yang terus-menerus akibat perdagangan.
Elang jawa saat ini hidup tersebar di 74 kawasan hutan di Pulau Jawa. Jumlah tersebut tergolong sangat kecil jika dibandingkan dengan luas wilayah dan tekanan aktivitas manusia yang terus meningkat.
Kondisi ini membuat elang jawa masuk dalam kategori satwa yang sangat terancam punah. Jika tidak ada perlindungan serius, risiko kepunahan bisa terjadi dalam waktu yang tidak lama.
Pakar UGM mengingatkan dampak ekologis besar jika elang jawa punah. Mulai dari ledakan populasi mangsa hingga rusaknya hutan.Donan menjelaskan bahwa elang jawa bukan sekadar simbol satwa langka. Keberadaannya sangat menentukan kesehatan ekosistem hutan.
Sebagai predator puncak, elang jawa mengontrol populasi hewan seperti tikus, tupai, monyet, musang, kadal, dan bahkan ular. Ketika jumlah predator ini stabil, populasi mangsa juga ikut seimbang.
"Ketika ada elang jawa, maka ekosistem terjaga dan sehat, karena hewan lain seperti tikus, tupai, monyet, musang, kadal, ular terjaga atau terkontrol populasinya," tutur Donan.
Baca juga:
Salah satu dampak utama jika elang jawa punah adalah ledakan populasi bajing dan jelarang. Hewan-hewan ini merupakan pemakan buah dan biji yang memiliki peran dalam penyebaran tumbuhan.
Namun, ketika jumlahnya berlebihan, justru muncul masalah baru.
"Ketika populasi bajing dan jelarang terlalu banyak maka tumbuhan berbuah dan berbiji di hutan akan cepat habis sebelum regenerasi tumbuhan muncul," tutur Donan.
Pakar UGM mengingatkan dampak ekologis besar jika elang jawa punah. Mulai dari ledakan populasi mangsa hingga rusaknya hutan.Tekanan terhadap tumbuhan hutan tidak berhenti sampai di situ. Populasi berlebihan dari bajing dan jelarang juga memicu kompetisi antar-satwa lain yang bergantung pada sumber pakan yang sama.
"Selain tekanan terhadap tumbuhan hutan, over populasi bajing dan jelarang dapat menyebabkan kompetisi dengan hewan pemakan buah dan biji lain seperti burung," ujar Donan.
Ketika makanan terbatas, persaingan meningkat. Satwa yang kalah akan tersingkir dari habitatnya. Hal ini dapat memicu penurunan populasi spesies lain secara bertahap.
Donan menilai keseimbangan populasi menjadi kunci utama dalam menjaga daya dukung hutan. Tanpa keseimbangan, ekosistem akan melemah dan rentan rusak.
Baca juga:
Selain ancaman ekologis, Donan juga menyoroti peran manusia terkait menyusutnya ruang hidup elang jawa. Alih fungsi hutan, fragmentasi habitat, serta aktivitas manusia membuat wilayah jelajah elang semakin terbatas.
"Semua makhluk hidup termasuk elang jawa adalah ciptaan Tuhan dan mereka berhak untuk tinggal di bumi-Nya. Kita wajib berbagi lahan dengan hewan dan tumbuhan," ujar dia.
Menurut Donan, penyelamatan elang jawa tidak bisa dipisahkan dari perlindungan habitatnya. Kawasan bersarang, wilayah jelajah, dan area berburu harus mendapat perlindungan kuat dari pemerintah.
"Ketika kita menyelamatkan elang jawa, maka hewan maupun tumbuhan lain di dalam area konservasi juga otomatis terlindungi," tutur Donan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya