Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), Laos menghadapi permasalahan kebakaran hutan setiap tahunnya dari Maret hingga Mei. Studi menunjukkan, 90 persen kebakaran hutan di negara itu dipicu pertanian tebang bakar.
"Situasi memburuk seiring kenaikan suhu, dan kebakaran yang terkendali lebih cepat menjadi tidak terkendali. Portal Global Forest Watch melacak 7.671 peringatan kebakaran antara 17 Juni 2024 sampai 16 Juni 2025," tulis UNEP.
Dalam waktu yang lama, Laos sulit mendeteksi emisi gas rumah kaca dari kebakaran. Alhasil pemerintah terhambat mengembangkan langkah pengurangan emisi yang erat kaitannya dengan perubahan iklim.
Pemerintah pun tidak dapat melaporkan secara akurat komitmen Laos berdasarkan Perjanjian Paris tentang perubahan iklim, yang menargetkan pengurangan emisi sekitar 60 persen pada 2030.
Padahal transparansi data sangat dibutuhkan dalam membangun kepercayaan antar negara dan calon donor internasional serta membuka akses pendanaan.
Baca juga:
“Sangat penting bagi negara-negara untuk mengetahui posisi mereka dalam upaya mengendalikan emisi gas rumah kaca. Ini bukan sesuatu yang bisa ditebak oleh dunia, seluruh kerangka Perjanjian Paris bergantung pada data yang akurat dan transparansi," ucap Pejabat Kepala Cabang Mitigasi di Divisi Iklim UNEP, Gulnara Roll.
UNEP yang didanai Global Environment Facility (GEF) kemudian membentuk sistem manajemen inventarisasi gas rumah kaca nasional di Laos.
Sistem ini menggunakan citra satelit dan semakin banyak menggunakan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan serta data historis untuk memantau kebakaran, dan memperkirakan gas rumah kaca yang dipancarkannya.
Data emisinya menggunakan jumlah karbon diokisda ekuivalen yang dilepaskan per hektar lahan terbakar dari berbagai aktivitas, dengan merujuk data masa lalu dan studi ilmiah serta disempurnakan dengan pengamatan waktu nyata atau hampir waktu nyata dari satelit.
UNEP menilai, upaya itu memungkinkan pemetaan peristiwa kebakaran yang lebih akurat dan perhitungan dampak iklimnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya