Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nasib Karyawan Jadi Sorotan Usai Izin 28 Perusahaan di Sumatera Dicabut

Kompas.com, 22 Januari 2026, 14:05 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai, langkah pemerintah mencabut izin 28 perusahaan imbas longsor dan banjir di Sumatera bisa berdampak terhadap ekonomi korporasi, salah satunya nasib karyawan yang bekerja di perusahaan itu.

Meski demikian, Direktur Pengembangan Big Data Indef, Eko Listiyanto menyebutkan, dampak terhadap tenaga kerja merupakan konsekuensi dari operasional perusahaan yang terbukti merusak lingkungan.

Baca juga: 

"Ini konsekuensi, memang akan ada dampak yang tidak terhindarkan terhadap karyawannya, mungkin juga terhadap supplier dan seterusnya. Karena terlepas dari konteks bahwa ini memang melanggar, ada memang dampak ekonomi yang sifatnya adalah punya dampak langsung tetapi karena ini sudah melanggar ya memang harus ditutup dicabut izinnya," jelas Eko saat dihubungi Kompas.com, Kamis (22/1/2026).

Pencabutan izin 28 perusahaan berdampak pada karyawan

Harus ada upaya transisi dari sisi karyawan

Pembangunan jembatan Bailey dilakukan di daerah terdampak bencana banjir dan tanah longsor, Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada Sabtu (27/12/2025). Dok Kodam I Bukit Barisan Pembangunan jembatan Bailey dilakukan di daerah terdampak bencana banjir dan tanah longsor, Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada Sabtu (27/12/2025).

Kasus pencabutan izin usaha pertambangan di Bangka Belitung, misalnya, berdampak terhadap ketidakpastian nasib pekerja.

Maka dari itu, Eko mengusulkan pekerja terdampak di Sumatera bisa dialihkan ke perusahaan lain ataupun diberi pelatihan khusus agar bisa mendapat pekerjaan baru.

"Setidaknya ada upaya untuk melakukan transisi dari karyawannya, kalau memang perusahaan tidak bisa beroperasi lagi pasti ada dampaknya, tetapi ya bagaimana lagi itu adalah konsekuensi dari bertahun-tahun mungkin pelanggaran-pelanggaran yang terus dilakukan," jelas dia.

Eko menambahkan, kebijakan pencabutan izin tidak boleh hanya sebatas menghentikan operasional perusahaan. Harus ada langkah pemulihan lingkungan lebih lanjut.

Di samping itu, dia berpandangan bahwa dicabutnya izin 28 perusahaan pelanggar aturan lingkungan merupakan keputusan yang tepat untuk memberikan kepastian usaha dan citra positif terhadap investasi ke depannya.

"Karena bagaimana pun tidak hanya di Indonesia, di setiap negara yang investasinya bagus selalu diiringi dengan penegakan regulasi yang bagus memang tidak boleh main-main," tutur Eko.

Sebagai informasi, Presiden Prabowo Subianto mencabut mencabut 22 Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), dan enam izin perusahaan di sektor tambang hingga perkebunan.

Hal ini menyusul evaluasi yang menemukan operasional perusahaan yang terindikasi memicu banjir Sumatera akhir November 2025 lalu.

Baca juga: 

Akan dibahas ke Kemnaker

Sekretaris Utama KLH, Rosa Vivien Ratnawati (tengah) menyebutkan KLH bakal membicarakan nasib karyawan dari 28 perusahaan yang dicabut izinnya, Kamis (21/1/2026). KOMPAS.com/ZINTAN Sekretaris Utama KLH, Rosa Vivien Ratnawati (tengah) menyebutkan KLH bakal membicarakan nasib karyawan dari 28 perusahaan yang dicabut izinnya, Kamis (21/1/2026).

Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengaku bakal menemui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) terkait nasib karyawan dari 28 perusahaan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang dicabut izinnya.

"Bagaimana dengan karyawannya? Nah ini yang memang harus kami bicarakan juga dengan Kemenaker dan sebagainya. Tetapi yang jelas kami dari KLH dalam hal ini mendukung penuh bahwa kami harus mencabut perizinan 28 perusahaan yang ada di daerah tersebut," kata Sekretaris Utama (Sestama) KLH, Rosa Vivien Ratnawati dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Rabu (21/1/2026).

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Populasi Salmon Chum di Jepang Menurun, Ada Apa?
Populasi Salmon Chum di Jepang Menurun, Ada Apa?
LSM/Figur
4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
Pemerintah
Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan
Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan
LSM/Figur
Emisi Turun Tipis, Jerman Dinilai Kehilangan Momentum Capai Target Iklim
Emisi Turun Tipis, Jerman Dinilai Kehilangan Momentum Capai Target Iklim
Pemerintah
Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Korsel Pastikan Stabilnya Pasokan Energi Alternatif
Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Korsel Pastikan Stabilnya Pasokan Energi Alternatif
Pemerintah
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak
LSM/Figur
Jepang Mulai Cari Energi Alternatif akibat Krisis Selat Hormuz
Jepang Mulai Cari Energi Alternatif akibat Krisis Selat Hormuz
Pemerintah
Misteri Ratusan Kura-kura Mati Massal di Kanada, akibat Krisis Iklim?
Misteri Ratusan Kura-kura Mati Massal di Kanada, akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Pemerintah Jajaki Pendanaan dari Perdagangan Karbon untuk Biayai Taman Nasional
Pemerintah Jajaki Pendanaan dari Perdagangan Karbon untuk Biayai Taman Nasional
Pemerintah
Saat Berbagi Jadi Harapan, Starlead Ajak Anak Panti Kejar Mimpi
Saat Berbagi Jadi Harapan, Starlead Ajak Anak Panti Kejar Mimpi
Swasta
PGE Area Ulubelu Bangun Jembatan Ulu Semong dari Bonus Produksi Panas Bumi
PGE Area Ulubelu Bangun Jembatan Ulu Semong dari Bonus Produksi Panas Bumi
BUMN
KLH Minta Pemda di Jabodetabek Cegah Polusi Udara Saat Musim Kemarau
KLH Minta Pemda di Jabodetabek Cegah Polusi Udara Saat Musim Kemarau
Pemerintah
Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah, Pemerintah Siapkan Strategi Efisiensi Energi
Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah, Pemerintah Siapkan Strategi Efisiensi Energi
Pemerintah
10 Kota Terpanas di Indonesia pada 17-18 Maret, Ada Jakarta dan Medan
10 Kota Terpanas di Indonesia pada 17-18 Maret, Ada Jakarta dan Medan
Pemerintah
Apa Itu Green Jobs? Intip Potensi dan Skill yang Dibutuhkan
Apa Itu Green Jobs? Intip Potensi dan Skill yang Dibutuhkan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau