Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hujan Ekstrem Bikin Jakarta Dikepung Banjir, Pakar Ingatkan RTH Perlu Dikaji Ulang

Kompas.com, 26 Januari 2026, 12:36 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Curah hujan di Jakarta dan berbagai daerah di Indonesia mengalami tren kenaikan yang dipicu krisis iklim.  Di sisi lain, ruang terbuka hijau (RTH) untuk serapan air di Jakarta saat ini masih minim atau di bawah 10 persen.

Padahal, pembangunan tidak boleh melewati ambang batas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup (D3TLH) dengan menyediakan RTH untuk resapan minimal 30 persen dari luas kota.

Baca juga:

Banjir di Jakarta berdampak ke daerah penyangga

Luasan ruang terbuka hijau perlu dikaji ulang

Dosen Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (STMKG), Rista Hernandi Virgianto menganggap, luasan RTH di Jakarta perlu dikaji ulang agar bisa berkontribusi dalam mengurangi banjir di tengah cuaca ekstrem akibat krisis iklim.

Apalagi, pembangunan secara masif terjadi di kota/kabupaten penyangga Jakarta, yang datarannya lebih tinggi dari ibukota itu.

"Jadi, Jakarta kan tidak berdiri sendiri ya. Tidak berdiri sendirinya kan wilayah-wilayah, banyak wilayah penyangganya. Nah, wilayah penyangganya ini lebih tinggi ya. Dari yang terdekat, terdekat yang tertinggi kan Depok. Depok sendiri pengembangannya juga juga cukup masif," ujar Rista kepada Kompas.com, Jumat (23/1/2026).

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kementerian Lingkungan Hidup, dan berbagai pemerintah kota/kabupaten, kata dia, sering berkoordinasi untuk menekan alih fungsi lahan.

Hal itu termasuk kawasan hulu daerah aliran sungai (DAS) di Bogor, yang berkontribusi "mengirim air", dengan memenuhi volume sungai-sungai di Jakarta.

Namun, progres dari menekan alih fungsi lahan atau menghijaukan kembali kawasan hulu DAS di Bogor atau daerah-daerah penyangga Jakarta lainnya tidak instan, sedangkan cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim tidak akan menunggu proses perubahan itu.

Baca juga:

Banjir kembali merendam permukiman warga di Jalan Pulo Indah, Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat pada Senin (26/1/2026) pagiKOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo Banjir kembali merendam permukiman warga di Jalan Pulo Indah, Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat pada Senin (26/1/2026) pagi

Oleh karena itu, masyarakat Jakarta perlu mengoptimalkan infrastruktur eksisting yang dapat meminimalisasi dampaknya.

Hal itu mengingat pembangunan infrastruktur baru berskala besar untuk penanganan banjir membutuhkan biaya yang sangat mahal. Misalnya, memastikan saluran-saluran yang sudah ada benar-benar bisa mengalirkan air dengan membersihkan lumpur atau endapan material-material dari banjir lainnya supaya tidak terjadi pendangkalan.

Kemudian, mengelola sampah di lingkungan sekitar untuk mencegah ada yang menyumbang saluran air.

Sebaiknya, setiap membangun gedung atau perumahan baru di atas seluruh lahan yang tersedia. Sudah sepatutnya memikirkan komposisi lahan terbuka dan luas untuk sumur resapan.

"Apakah bisa (masyarakat Jakarta beradaptasi dengan cuaca ekstrem)? Ya harus bisa, karena alam itu tidak menunggu kita berubah. Alam pasti terus berubah mengikuti dengan krisis iklim, pemanasan global," tutur Rista.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau