KOMPAS.com - Banjir dan badai di Asia dinilai sering terjadi, tapi semakin sedikit menelan korban jiwa, menurut studi terbaru.
Studi tersebut menghitung peningkatan jumlah korban meninggal dunia akibat banjir, badai, dan suhu ekstrem yang dipicu krisis iklim sejak tahun 1988.
Baca juga:
Studi menggunakan Basis Data Kejadian Darurat (EM-DAT) dan memangkas dari subset 1.974 bencana melalui empat cara.
Pertama, kejadian bencana sebelum tahun 1988 dan setelah 2024 tidak dipertimbangkan. Kedua, kejadian bencana dengan 30 kematian atau lebih yang disertakan atau mencakup 95 persen dari semua kematian.
Sementara itu, ketiga, hanya bencana terkait dengan iklim yang diperhatikan, seperti klimatologi, hidrologi, dan meteorologi. Jadi, tidak termasuk korban gempa bumi, gunung berapi, pandemi, wabah penyakit, kebakaran hutan, kekeringan, dan luapan danau glasial.
Keempat, kejadian bencana dikelompokkan berdasarkan jenisnya dan benuanya, dengan mengecualikan Amerika Selatan dan Australia.
Setelah disaring, ditemukan 300 kejadian terkait suhu ekstrem, 1.088 banjir, dan 586 badai, dengan total 940.9895 kematian.
Berdasarkan benua, terdapat 270 kejadian di Afrika, 1.215 di Asia, 181 di Eropa, 220 di Amerika Latin, serta 88 di Amerika Utara.
Banjir dan badai ekstrem di Asia menjadi sering terjadi, tetapi kurang menelan jiwa. Apa sebabnya? Untuk menentukan besarnya jumlah kematian, studi memakai Generalized Pareto Distribution, dengan setiap kejadian bencana terkait iklim akan mewakili jumlah kematian yang tersebar sepanjang garis waktu.
Untuk menganalisis ujung ekor (nilai besar atau kecil) dari distribusi lain, studi menggunakan Generalized Pareto Distribution Secara matematis, dapat dibuktikan bahwa ekor dari banyak distribusi konvergen ke Generalized Pareto Distribution dan Generalized Pareto Distribution sering dipakai untuk menganalisis bahaya iklim.
Hasil matematis tersebut akan menjadi perkiraan akurat dari distribusi kematian sebenarnya karena yang dipertimbangkan hanyalah kejadian bencana paling mematikan.
Observasi yang telah difilter dapat dijelaskan sebagai distribusi Generalized Pareto Distribution, dengan Generalized Pareto Distribution untuk setiap wilayah dari masing-masing jenis kejadian.
Hal itu nantinya dipakai untuk memperkirakan apakah kejadian dari jenis tertentu di wilayah tertentu menjadi lebih atau kurang mematikan dari waktu ke waktu.
Hasil temuan studi mengungkapkan, banjir dan badai ekstrem di Asia menjadi sering terjadi tetapi kurang mematikan. Bencana itu disebabkan berkurangnya kerentanan akibat peningkatan kapasitas adaptasi, dengan menyelamatkan sekitar 350.000 jiwa dalam periode tahun 1988-2024.
Secara khusus, analisis statistiknya menemukan adanya probabilitas 95 persen dengan jumlah yang terselamatkan berada antara 220.000 dan 560.000 jiwa. Jumlah nyawa yang terselamatkan sangat besar secara absolut dan relatif.
"Pengurangan kerentanan yang didorong oleh pembangunan di Asia selama periode 1988–2024 telah mengakibatkan ratusan ribu orang lebih sedikit meninggal akibat banjir dan badai dibandingkan dengan skenario di mana kerentanan tetap konstan dan populasi Asia terus tumbuh dengan laju seperti yang terjadi," ujar penulis studi, BB Cael, dari Departemen Ilmu Geofisika di Universitas Chicago, dilansir dari Phys, Senin (26/1/2026).
Banjir dan badai ekstrem di Asia menjadi sering terjadi, tetapi kurang menelan jiwa. Apa sebabnya? Kejadian banjir dan badai di Asia dengan 30 atau lebih kematian bertanggung jawab atas 511.875 korban yang tercatat selama tahun 1988–2024. Bahkan, hasil tersebut tanpa memperhitungkan peningkatan kejadian curah hujan ekstrem akibat krisis iklim.
Untuk penurunan angka kematian di Asia akibat banjir dan badai, Cael mengaku agak terkejut dengan besarnya perkiraan tersebut.
"Tentu saja penting untuk diingat bahwa hasil ini sangat umum dan berskala benua, meskipun hal itu sama sekali tidak berarti bahwa risiko banjir dan badai di Asia akibat krisis iklim bukanlah masalah besar," ucapnya.
Adapun Badai Daniel melanda wilayah Mediterania pada September 2023 dan merupakan siklon tropis mirip paling mematikan dalam sejarah. Badai ini menyebabkan sekitar 13.200 kematian, dengan mayoritas di Libya, tempat 30 juta meter kubik air terlepas akibat Bendungan Abu Mansour dan Bendungan Derna runtuh. Kerugian yang ditimbulkan setidaknya mencapai 21 miliar dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 352,2 triliun).
Baca juga:
Banjir mematikan di Afrika menjadi lebih sering terjadi seiring peningkatan populasi pada periode 1988-2024. Dengan mengecualikan BadaiDaniel, tidak ditemukan tren kematian akibat badai di Afrika selama tahun 1988-2024, menjadikannya hal luar biasa yang terjadi sekali dalam dua abad.
Sementara itu, gelombang panas di Eropa menjadi lebih mematikan dari waktu ke waktu. Gelombang panas di Eropa terjadi lebih sering daripada gelombang dingin.
Waktu terjadinya kematian cenderung bergeser dari musim gugur dan musim dingin (Oktober hingga Februari), menjadi ke musim semi dan musim panas (Mei hingga Agustus).
Gelombang panas menjadi lebih sering terjadi dibandingkan dengan gelombang dingin yang kurang mematikan. Namun, tampaknya hal itu bukan disebabkan oleh paparan cuaca ekstrem, mengingat populasi Eropa hanya tumbuh kurang dari empat persen sejak tahun 1988.
Selain itu, tidak ada tren kematian yang signifikan secara statistik di Amerika. Tinjauan baru tentang tren dan anomali iklim ini telah diterbitkan dalam Geophysical Research Letters .
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya