Hasil wawancara menunjukkan sebagian besar penduduk setempat memahami nilai hutan mangrove dan risiko polusi.
Banyak penduduk menyalahkan sistem pengumpulan sampah yang buruk. Pembuangan terbuka, pembakaran, dan penguburan masih umum terjadi di dekat sungai dan garis pantai.
Pasalnya, sampah yang terperangkap di hutan mangrove membahayakan satwa liar dan manusia. Zat kimia beracun berpindah melalui rantai makanan, kualitas perikanan menurun, dan erlindungan banjir melemah karena akar mengalami kerusakan.
Baca juga:
Mengurangi kemasan plastik sekali pakai tetap menjadi salah satu solusi tercepat. Botol yang dapat digunakan kembali dan sistem pengembalian dapat mengurangi aliran sampah.
Selain itu, peningkatan layanan sanitasi mengurangi tekanan pembuangan sampah di dekat pantai. Program pendidikan juga akan membantu mengedukasi masyarakat.
“Akses terhadap sanitasi dasar dan pengelolaan sampah serta jenis sampah lainnya yang tepat adalah hak mendasar untuk kehidupan yang bermartabat, dan persyaratan utama untuk melindungi ekosistem pesisir bagi generasi sekarang dan masa depan di Kolombia dan negara-negara lain di kawasan ini dan di seluruh dunia,” jelas para peneliti.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya