KOMPAS.com - Dalam beberapa tahun terakhir, hutan mangrove menjadi tempat berkumpulnya sampah manusia, antara lain kantong plastik, botol plastik, dan wadah makanan. Beberapa di antaranya tersangkut di antara akar atau terkubur.
Penelitian baru dari Kolombia menjelaskan bagaimana hutan mangrove berubah menjadi perangkap sampah jangka panjang, serta mengapa masyarakat di sekitarnya menghadapi risiko yang semakin meningkat.
Baca juga:
Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Environmental Pollution ini, tim dari Universitas Barcelona, Spanyol, mempelajari 29 lokasi hutan mangrove dan menggabungkan survei sampah langsung dengan 671 wawancara dari penduduk pesisir.
"Temuan ini menunjukkan bahwa hutan mangrove bertindak sebagai perangkap alami untuk sampah makro, terlepas dari komposisi atau struktur hutan, dan sangat terdampak oleh sampah dari masyarakat sekitar," tulis para peneliti, dilansir dari Science Direct, Senin (26/1/2026).
Hutan mangrove menjadi tempat berkumpulnya sampah manusia, sebagian besar sampah plastik. Simak dampaknya.Hutan mangrove terbagi menjadi tiga bagian yaitu mangrove tepi sungai (riverine), mangrove pinggiran (fringe), dan mangrove cekungan (basin), dikutip dari Earth.com.
Mangrove tepi sungai tumbuh di sepanjang sungai dan dataran banjir, sedangkan mangrove pinggiran tumbuh di sepanjang teluk terbuka dan laguna.
Sementara itu, mangrove cekungan terbentuk lebih jauh ke arah daratan dengan aliran pasang surut yang terbatas.
Penelitian menunjukkan bahwa mangrove pinggiran menjebak lebih banyak sampah dibandingkan jenis lainnya.
Pasang surut air laut mendorong sampah terapung ke arah pinggiran hutan, tempat akar-akar pohon menghentikan pergerakannya.
Rata-rata tingkat sampah mencapai sekitar 2,5 item per meter persegi di zona-zona tersebut.
Sementara itu, mangrove tepi sungai dan mangrove cekungan mengumpulkan jauh lebih sedikit sampah, sering kali di bawah 0,4 item per meter persegi.
Jarak dari kota juga penting. Mangrove yang lebih dekat ke kota mengumpulkan lebih banyak sampah.
Ukuran pohon, usia pohon, dan kepadatan hutan menunjukkan sedikit pengaruh pada tingkat sampah. Aktivitas manusia tetap menjadi pendorong utama.
Baca juga:
Beberapa sampah plastik tersangkut di tanaman mangrove di Pulau Serangan, Bali, pada Jumat (5/12/2025).Plastik menyumbang hampir 90 persen dari semua sampah yang menumpuk di hutan mangrove.
Sampah terapung seperti botol, tutup botol, wadah makanan, dan potongan gabus paling sering muncul.
Sementara itu, material berat seperti kaca dan logam lebih sering ditemukan di mangrove cekungan karena di titik itulah terjadi pembuangan sampah secara langsung.
Seiring waktu, sinar matahari, gelombang, dan hewan memecah plastik menjadi potongan-potongan yang lebih kecil. Tidak hanya itu, kepiting menarik fragmen plastik ke dalam liang.
Lumpur pun perlahan menutupi plastik yang terkubur. Plastik yang terkubur tersebut dapat tetap terkubur selama puluhan tahun.
"Plastik perlahan-lahan hancur berkeping-keping karena paparan sinar matahari, pergerakan air, dan interaksi dengan makhluk hidup di mangrove, seperti kepiting. Hal ini menghasilkan potongan yang semakin kecil yang secara bertahap tertimbun, sehingga membuat plastik tersebut bertahan sangat lama di dalam tanah: inilah yang disebut sebagai ‘karbon plastik tanah’," kata Ostin Garcés Ordonez, yang memimpin studi ini.
Selain terkubur, potensi yang tak kalah berbahaya adalah plastik yang hancur berkeping-keping atau yang dikenal dengan sebutan mikroplastik.
Fragmen tersebut dapat memasuki rantai makanan laut, suatu proses yang juga menimbulkan risiko bagi satwa liar dan, pada akhirnya, bagi keseimbangan ekosistem pesisir.
Baca juga: Perjanjian Plastik Global Dinilai Mandek, Ilmuwan Minta Negara Lakukan Aksi Nyata
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya