Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mangrove Jadi Perangkap Sampah Plastik, Apa Dampaknya?

Kompas.com, 26 Januari 2026, 21:15 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dalam beberapa tahun terakhir, hutan mangrove menjadi tempat berkumpulnya sampah manusia, antara lain kantong plastik, botol plastik, dan wadah makanan. Beberapa di antaranya tersangkut di antara akar atau terkubur. 

Penelitian baru dari Kolombia menjelaskan bagaimana hutan mangrove berubah menjadi perangkap sampah jangka panjang, serta mengapa masyarakat di sekitarnya menghadapi risiko yang semakin meningkat.

Baca juga: 

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Environmental Pollution ini, tim dari Universitas Barcelona, Spanyol, mempelajari 29 lokasi hutan mangrove dan menggabungkan survei sampah langsung dengan 671 wawancara dari penduduk pesisir.

"Temuan ini menunjukkan bahwa hutan mangrove bertindak sebagai perangkap alami untuk sampah makro, terlepas dari komposisi atau struktur hutan, dan sangat terdampak oleh sampah dari masyarakat sekitar," tulis para peneliti, dilansir dari Science Direct, Senin (26/1/2026).

Sampah menumpuk di hutan mangrove

Aktivitas manusia menjadi pendorong utama

Hutan mangrove menjadi tempat berkumpulnya sampah manusia, sebagian besar sampah plastik. Simak dampaknya. Hutan mangrove menjadi tempat berkumpulnya sampah manusia, sebagian besar sampah plastik. Simak dampaknya.

Hutan mangrove terbagi menjadi tiga bagian yaitu mangrove tepi sungai (riverine), mangrove pinggiran (fringe), dan mangrove cekungan (basin), dikutip dari Earth.com

Mangrove tepi sungai tumbuh di sepanjang sungai dan dataran banjir, sedangkan mangrove pinggiran tumbuh di sepanjang teluk terbuka dan laguna.

Sementara itu, mangrove cekungan terbentuk lebih jauh ke arah daratan dengan aliran pasang surut yang terbatas.

Penelitian menunjukkan bahwa mangrove pinggiran menjebak lebih banyak sampah dibandingkan jenis lainnya.

Pasang surut air laut mendorong sampah terapung ke arah pinggiran hutan, tempat akar-akar pohon menghentikan pergerakannya.

Rata-rata tingkat sampah mencapai sekitar 2,5 item per meter persegi di zona-zona tersebut.

Sementara itu, mangrove tepi sungai dan mangrove cekungan mengumpulkan jauh lebih sedikit sampah, sering kali di bawah 0,4 item per meter persegi.

Jarak dari kota juga penting. Mangrove yang lebih dekat ke kota mengumpulkan lebih banyak sampah.

Ukuran pohon, usia pohon, dan kepadatan hutan menunjukkan sedikit pengaruh pada tingkat sampah. Aktivitas manusia tetap menjadi pendorong utama.

Baca juga:

Sampah plastik paling banyak

Mikroplastik bisa ganggu ekosistem pesisir

Beberapa sampah plastik tersangkut di tanaman mangrove di Pulau Serangan, Bali, pada Jumat (5/12/2025).KOMPAS.com/Ni Nyoman Wira Beberapa sampah plastik tersangkut di tanaman mangrove di Pulau Serangan, Bali, pada Jumat (5/12/2025).

Plastik menyumbang hampir 90 persen dari semua sampah yang menumpuk di hutan mangrove.

Sampah terapung seperti botol, tutup botol, wadah makanan, dan potongan gabus paling sering muncul.

Sementara itu, material berat seperti kaca dan logam lebih sering ditemukan di mangrove cekungan karena di titik itulah terjadi pembuangan sampah secara langsung.

Seiring waktu, sinar matahari, gelombang, dan hewan memecah plastik menjadi potongan-potongan yang lebih kecil. Tidak hanya itu, kepiting menarik fragmen plastik ke dalam liang.

Lumpur pun perlahan menutupi plastik yang terkubur. Plastik yang terkubur tersebut dapat tetap terkubur selama puluhan tahun.

"Plastik perlahan-lahan hancur berkeping-keping karena paparan sinar matahari, pergerakan air, dan interaksi dengan makhluk hidup di mangrove, seperti kepiting. Hal ini menghasilkan potongan yang semakin kecil yang secara bertahap tertimbun, sehingga membuat plastik tersebut bertahan sangat lama di dalam tanah: inilah yang disebut sebagai ‘karbon plastik tanah’," kata Ostin Garcés Ordonez, yang memimpin studi ini.

Selain terkubur, potensi yang tak kalah berbahaya adalah plastik yang hancur berkeping-keping atau yang dikenal dengan sebutan mikroplastik.

Fragmen tersebut dapat memasuki rantai makanan laut, suatu proses yang juga menimbulkan risiko bagi satwa liar dan, pada akhirnya, bagi keseimbangan ekosistem pesisir.

Baca juga: Perjanjian Plastik Global Dinilai Mandek, Ilmuwan Minta Negara Lakukan Aksi Nyata

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Pemerintah
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau