Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh peneliti adalah kurangnya pengamatan cuaca yang andal di wilayah pegunungan.
"Pegunungan adalah lingkungan yang keras, terpencil, dan sulit dijangkau," kata Dr. Nadine Salzmann dari Institut Penelitian Salju dan Longsor WSL SLF di Davos, Swiss.
Kesenjangan data tersebut membuat para ilmuwan mungkin meremehkan seberapa cepat suhu pegunungan meningkat dan seberapa cepat salju serta es dapat menghilang.
Tinjauan baru ini pun juga mengungkapkan perlunya peningkatan model iklim dengan detail spasial yang jauh lebih halus.
Baca juga:
Banyak model saat ini hanya melacak perubahan setiap beberapa kilometer, padahal kondisi di lapangan bisa berbeda drastis di antara lereng-lereng yang jaraknya hanya terpaut beberapa meter.
Dr. Emily Potter dari Universitas Sheffield mencatat bahwa kemajuan sedang dicapai tetapi memperingatkan bahwa itu saja tidak cukup.
"Kabar baiknya adalah model komputer semakin membaik. Tetapi teknologi yang lebih baik saja tidak cukup. Kita membutuhkan tindakan mendesak terkait komitmen iklim dan infrastruktur pemantauan yang jauh lebih baik di wilayah pegunungan yang rentan ini," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya