KOMPAS.com - Pegunungan di seluruh dunia disebut menghangat lebih cepat dibanding dataran rendah di sekitarnya. Peristiwa ini bisa berdampak parah bagi miliaran orang yang tinggal atau bergantung pada wilayah tersebut.
Studi internasional, yang diterbitkan dalam Nature Reviews Earth & Environment ini, memperingatkan pergeseran iklim di ketinggian yang lebih tinggi terjadi lebih cepat dengan intensitas yang lebih besar, meningkatkan risiko bagi pasokan air, ekosistem, dan keselamatan manusia.
Baca juga:
Studi ini menganalisis informasi dari kumpulan data iklim global bersama dengan studi kasus terperinci dari wilayah pegunungan utama.
Termasuk di antaranya Pegunungan Rocky, Alpen, Andes, dan Dataran Tinggi Tibet, yang menawarkan gambaran luas tentang bagaimana kondisi berkembang di berbagai benua.
"Pegunungan memiliki banyak karakteristik yang sama dengan wilayah Arktik dan mengalami perubahan yang sama cepatnya," kata Associate Professor dari University of Portsmouth, Dr. Nick Pepin, dikutip dari Science Daily, Senin (26/1/2026).
"Sebab, kedua lingkungan tersebut kehilangan salju dan es dengan cepat dan mengalami perubahan mendalam dalam ekosistem. Yang kurang diketahui adalah bahwa semakin tinggi Anda mendaki gunung, laju perubahan iklim dapat menjadi lebih intens," tambah dia.
Analisis kemudian mengungkapkan tren yang mengkhawatirkan antara tahun 1980 dan 2020.
Wilayah pegunungan mengalami pemanasan rata-rata 0,21 derajat celsius per abad lebih cepat daripada dataran rendah di sekitarnya. Sementara itu, pola curah hujan menjadi lebih tidak menentu dan salju semakin tergantikan oleh hujan.
Baca juga:
Ilustrasi resor ski di Pegunungan Alpen, Eropa. Studi mengungkap pegunungan memanas lebih cepat dibanding dataran rendah. Dampaknya mengancam ekosistem dan keselamatan manusia.Konsekuensi dari perubahan ini pun akan berpengaruh bagi banyak orang. Lebih dari satu miliar orang bergantung pada salju dan gletser pegunungan sebagai sumber air tawar yang sangat penting, termasuk populasi besar di China dan India.
"Es Himalaya berkurang lebih cepat dari yang kita duga. Ketika terjadi transisi dari salju ke hujan karena suhu menjadi lebih hangat, kemungkinan terjadinya banjir yang dahsyat akan lebih besar. Peristiwa berbahaya juga menjadi lebih ekstrem," terang Dr. Pepin.
Kenaikan suhu juga memaksa tumbuhan dan hewan untuk berpindah lebih tinggi ke lereng gunung untuk mencari kondisi yang lebih dingin.
Saat suhu naik, pohon dan hewan berpindah lebih tinggi ke pegunungan, mengejar kondisi yang lebih dingin.
Namun, pada akhirnya, dalam beberapa kasus, mereka akan kehabisan tempat di gunung. Tanpa tempat tujuan lain, spesies mungkin akan hilang dan ekosistem akan berubah secara fundamental.
Bencana baru-baru ini menyoroti betapa mendesaknya situasi ini. Dr. Pepin menunjuk pada peristiwa di Pakistan, ketika badai monsun yang hebat bergabung dengan curah hujan ekstrem di pegunungan.
Hujan deras ini menyebabkan banjir mematikan yang menewaskan lebih dari 1.000 orang, menggarisbawahi bagaimana perubahan cuaca pegunungan yang cepat dapat memperkuat bencana alam.
Baca juga: Ilmuwan Simpan Es Gletser Kuno di Antartika, Jadi Arsip Es Pertama di Dunia
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya