Studi yang diterbitkan di Nature Sustainability ini memproyeksikan bahwa 3,79 miliar orang di seluruh dunia dapat terpapar panas ekstrem pada pertengahan abad ini.
Permintaan pendingin, seperti AC atau kipas angin, diproyeksikan meningkatkan terjadi di negara-negara tropis atau khatulistiwa, terutama di Afrika.
Permintaan energi untuk pendinginan juga akan meningkat secara drastis di negara-negara berkembang dengan populasi terbesar yang terdampak, seperti India, Filipina, dan Bangladesh.
Selain itu, Republik Afrika Tengah, Nigeria, Sudan Selatan, Laos, dan Brasil akan mengalami peningkatan terbesar dalam suhu panas yang berbahaya.
"Sederhananya, orang-orang yang paling kurang beruntung adalah mereka yang akan menanggung dampak terberat dari tren yang ditunjukkan oleh studi kami yaitu hari-hari yang semakin panas," kata ilmuwan iklim perkotaan dan salah satu penulis penelitian, Radhika Khosla.
Baca juga:
Di sisi lain, negara-negara seperti Kanada, Rusia, dan Finlandia, juga terancam mengalami penurunan tajam dalam "hari derajat pemanasan" (heating degree days).
Imbasnya, pemanasan dalam ruangan dibutuhkan untuk mengatasi suhu yang cukup rendah, dengan skenario kenaikan suhu dua derajat celsius. Bahkan, kenaikan suhu yang moderat sekalipun, akan terasa lebih parah di negara-negara yang tidak dirancang untuk menahan panas.
Rumah dan bangunan di negara-negara itu biasanya dibangun untuk mengoptimalisasi sinar matahari dan mengurangi ventilasi, serta transportasi umum beroperasi tanpa pendingin udara.
Sejumlah negara beriklim dingin kemungkinan akan mengalami penurunan tagihan pemanas. Namun, seiring waktu penghematan ini kemungkinan akan digantikan oleh biaya pendinginan, termasuk di Eropa yang mana pendingin ruangan masih jarang.
"Negara-negara yang lebih kaya tidak bisa berpuas diri dan berasumsi bahwa mereka akan baik-baik saja, dalam banyak kasus, mereka sangat tidak siap menghadapi gelombang panas yang akan datang dalam beberapa tahun ke depan," ucap Lizana.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya