Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Bisa Terdampak

Kompas.com, 27 Januari 2026, 15:37 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber AFP

KOMPAS.com - Hampir 3,8 miliar orang di dunia disebut berisiko mengalami panas ekstrem pada tahun 2050, dengan negara-negara tropis menanggung dampak terberatnya.

Permintaan akan pendinginan diprediksi naik secara drastis di sejumlah negara, seperti Brasil, Indonesia, dan Nigeria. Di negara tersebut, ratusan orang dinilai tidak punya pendingin udara atau cara lain untuk mengatasi panas ekstrem.

Baca juga:

Masyarakat di negara-negara dengan cuaca lebih dingin masih perlu beradaptasi dengan hari-hari yang lebih panas. Khususnya, negara-negara yang tidak terbiasa dengan kondisi tersebut, seperti Kanada, Rusia, dan Finlandia.

Penduduk dunia disebut tak siap dengan panas ekstrem

Hampir 3,8 miliar orang di dunia berisiko alami panas ekstrem pada 2050, Indonesia termasuk yang terdampak.Shutterstock/Panorama Images Hampir 3,8 miliar orang di dunia berisiko alami panas ekstrem pada 2050, Indonesia termasuk yang terdampak.

Studi terbaru meneliti berbagai skenario pemanasan global untuk memproyeksikan seberapa sering orang pada masa depan mengalami suhu yang dianggap terlalu panas atau terlalu dingin.

Hasilnya, jumlah penduduk yang mengalami kondisi panas ekstrem diproyeksikan akan hampir berlipat ganda pada tahun 2050, jika suhu rata-rata global naik dua derajat celsius di atas suhu pra-industri.

"Namun, sebagian besar dampaknya akan terasa pada dekade ini seiring dunia dengan cepat mendekati angka 1,5 derajat celsius. Kesimpulan utama dari ini adalah bahwa kebutuhan untuk beradaptasi dengan panas ekstrem lebih mendesak daripada yang diketahui sebelumnya," ujar penulis utama studi tersebut, Jesus Lizana, dilansir dari AFP, Selasa (27/1/2026).

Pendingin udara berkelanjutan, pendinginan pasif, atau infrastuktur baru lainnya perlu dibangun dalam beberapa tahun ke depan demi memastikan masyarakat dapat mengatasi panas yang berbahaya.

Paparan panas ekstrem berkepanjangan bisa melampaui kemampuan sistem pendinginan alami tubuh sehingga menyebabkan gejala seperti pusing, sakit kepala, kegagalan organ, dan bahkan kematian.

Mayoritas kematian akibat panas terjadi secara bertahap seiring suhu tinggi dan faktor lingkungan lainnya bekerja bersama untuk melemahkan termostat internal tubuh. Itulah mengapa disebut sebagai pembunuh senyap.

Krisis iklim mengakibatkan gelombang panas menjadi lebih panjang dan semakin kuat, serta membuat akses terhadap pendinginan akan sangat penting pada masa depan.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sebelum Terbakar Revolusi Biodiesel
Sebelum Terbakar Revolusi Biodiesel
Pemerintah
Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Bisa Terdampak
Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Bisa Terdampak
LSM/Figur
Pemkot Yogya Kumpulkan 27,5 Ton Sampah Organik per Hari lewat Emberisasi
Pemkot Yogya Kumpulkan 27,5 Ton Sampah Organik per Hari lewat Emberisasi
Pemerintah
Fokus Dana Desa 2026 untuk Atasi Kemiskinan hingga Pembentukan Desa Tangguh Iklim
Fokus Dana Desa 2026 untuk Atasi Kemiskinan hingga Pembentukan Desa Tangguh Iklim
Pemerintah
Perubahan Iklim Picu Penyebaran Amoeba Berbahaya di Air Hangat
Perubahan Iklim Picu Penyebaran Amoeba Berbahaya di Air Hangat
LSM/Figur
Pembangunan PLTU di RI Naik, Risiko Ekonomi dan Emisi Kian Besar
Pembangunan PLTU di RI Naik, Risiko Ekonomi dan Emisi Kian Besar
LSM/Figur
Singapura Luncurkan Program Karbon Biru, Perkuat Ambisi Jadi Pusat Karbon Asia Tenggara
Singapura Luncurkan Program Karbon Biru, Perkuat Ambisi Jadi Pusat Karbon Asia Tenggara
Pemerintah
Ancaman Plastik untuk Kesehatan Diprediksi Melonjak hingga 2040
Ancaman Plastik untuk Kesehatan Diprediksi Melonjak hingga 2040
LSM/Figur
Percepat Pengakuan Masyarakat Adat, Kalimantan Timur Bentuk Tim Khusus
Percepat Pengakuan Masyarakat Adat, Kalimantan Timur Bentuk Tim Khusus
Pemerintah
Trump Pertanyakan Pemanasan Global di Saat  AS Dilanda Badai Musim Dingin, Para Ilmuwan Beri Penjelasan
Trump Pertanyakan Pemanasan Global di Saat AS Dilanda Badai Musim Dingin, Para Ilmuwan Beri Penjelasan
Pemerintah
Pegunungan Menghangat Lebih Cepat dari Perkiraan, Bisa Picu Bencana
Pegunungan Menghangat Lebih Cepat dari Perkiraan, Bisa Picu Bencana
LSM/Figur
Laut Makin Panas, Paus di Atlantik Utara Terpaksa Ubah Pola Makan
Laut Makin Panas, Paus di Atlantik Utara Terpaksa Ubah Pola Makan
LSM/Figur
Energi Terbarukan Tekan Batu Bara, Listrik Termal China Menurun pada 2025
Energi Terbarukan Tekan Batu Bara, Listrik Termal China Menurun pada 2025
Pemerintah
Mangrove Jadi Perangkap Sampah Plastik, Apa Dampaknya?
Mangrove Jadi Perangkap Sampah Plastik, Apa Dampaknya?
LSM/Figur
Penertiban Kawasan Hutan Perlu Selaras dengan Kepastian Hukum HGU
Penertiban Kawasan Hutan Perlu Selaras dengan Kepastian Hukum HGU
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau