KOMPAS.com - Hampir 3,8 miliar orang di dunia disebut berisiko mengalami panas ekstrem pada tahun 2050, dengan negara-negara tropis menanggung dampak terberatnya.
Permintaan akan pendinginan diprediksi naik secara drastis di sejumlah negara, seperti Brasil, Indonesia, dan Nigeria. Di negara tersebut, ratusan orang dinilai tidak punya pendingin udara atau cara lain untuk mengatasi panas ekstrem.
Baca juga:
Masyarakat di negara-negara dengan cuaca lebih dingin masih perlu beradaptasi dengan hari-hari yang lebih panas. Khususnya, negara-negara yang tidak terbiasa dengan kondisi tersebut, seperti Kanada, Rusia, dan Finlandia.
Hampir 3,8 miliar orang di dunia berisiko alami panas ekstrem pada 2050, Indonesia termasuk yang terdampak.Studi terbaru meneliti berbagai skenario pemanasan global untuk memproyeksikan seberapa sering orang pada masa depan mengalami suhu yang dianggap terlalu panas atau terlalu dingin.
Hasilnya, jumlah penduduk yang mengalami kondisi panas ekstrem diproyeksikan akan hampir berlipat ganda pada tahun 2050, jika suhu rata-rata global naik dua derajat celsius di atas suhu pra-industri.
"Namun, sebagian besar dampaknya akan terasa pada dekade ini seiring dunia dengan cepat mendekati angka 1,5 derajat celsius. Kesimpulan utama dari ini adalah bahwa kebutuhan untuk beradaptasi dengan panas ekstrem lebih mendesak daripada yang diketahui sebelumnya," ujar penulis utama studi tersebut, Jesus Lizana, dilansir dari AFP, Selasa (27/1/2026).
Pendingin udara berkelanjutan, pendinginan pasif, atau infrastuktur baru lainnya perlu dibangun dalam beberapa tahun ke depan demi memastikan masyarakat dapat mengatasi panas yang berbahaya.
Paparan panas ekstrem berkepanjangan bisa melampaui kemampuan sistem pendinginan alami tubuh sehingga menyebabkan gejala seperti pusing, sakit kepala, kegagalan organ, dan bahkan kematian.
Mayoritas kematian akibat panas terjadi secara bertahap seiring suhu tinggi dan faktor lingkungan lainnya bekerja bersama untuk melemahkan termostat internal tubuh. Itulah mengapa disebut sebagai pembunuh senyap.
Krisis iklim mengakibatkan gelombang panas menjadi lebih panjang dan semakin kuat, serta membuat akses terhadap pendinginan akan sangat penting pada masa depan.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya