Lingkungan geologi wilayah Kabupaten Bandung Barat berada pada produk-produk vulkanik tua, yang secara alamiah memiliki lapisan pelapukan relatif tebal.
Batas antara tanah hasil pelapukan dan batuan dasar relatif lebih kedap air sering kali menjadi bidang gelincirnya, yang semakin diperlemah oleh hujan dalam durasi panjang.
Ketika air hujan meresap dan mengisi pori-pori tanah hingga jenuh, kekuatan geser material pembentuk lereng akan menurun drastis. Di kondisi inilah, kata Imam, lereng sering tidak lagi mampu menahan beratnya sendiri.
Selain durasi, intensitas hujan juga menjadi pemicu longsor. Meski berintensitas sedang, jika hujan tersebut berlangsung lama, risiko bahayanya sama saja dengan kategori sangat lebat dalam durasi yang singkat.
Imam menggarisbawahi pentingnya vegetasi dalam menjaga stabilitas lereng. Secara mekanik, vegetasi berfungsi meningkatkan kohesivitas tanah melalui perakarannya.
Secara hidrologis, vegetasi juga berfungsi memperlambat kejenuhan tanah akibat air hujan.
Baca juga:
Dalam kasus Cisarua, Imam mengungkapkan adanya indikasi longsoran di hulu salah satu sungai pada sistem lereng selatan Gunung Burangrang, yang menutup alur alirannya dan membentuk sumbatan atau bendungan alam (landslide dam).
Aliran air yang tertahan sementara dan membentuk genangan di bagian hulu menutup alur sungai. Hal itu diperparah dengan akumulasi sedimen berupa lumpur, pasir, dan batu.
Saat tidak lagi mampu menahan tekanan air dalam volume tertentu, bendungan alam ini jebol dan memicu aliran lumpur (mudflow) ke arah hilir mengikuti jalur sungai yang ada.
Bukan sekadar air, aliran lumpur kerap membawa bongkah-bongkah batu dan ranting-ranting kayu, bergerak cepat dengan daya kerusakan yang semakin dahsyat.
Dari karakternya, kata Imam, aliran air semacam itu mempunyai daya rusak yang jauh lebih tinggi dibandingkan yang biasanya dijumpai karena memuat sedimen dalam jumlah sangat besar.
Dengan demikian, kejadian longsor di Cisarua dapat dikategorikan sebagai aliran lumpur (mudflow). Atau, bahkan bisa menjadi aliran debris (debris flow).
Itulah jawaban mengapa terdapat kerusakan parah sepanjang jalur alirannya atau yang berada di kawasan bantaran sungai, meski wilayahnya tidak secara langsung terletak di di zona sumber longsoran.
Imam memperingatkan risiko bahaya dari longsoran susulan yang terindikasi dari indikasi sumbatan-sumbatan di bagian hulu sungai.
Jika hujan dengan intensitas tinggi terulang, akumulasi air berpotensi mendobrak sumbatan-sumbatan tersebut dan kembali memicu aliran lumpur yang membahayakan wilayah hilir.
Kendati mayoritas wilayah terdampak berada dia zona kerentanan longsoran yang relatif rendah hingga menengah secara regional, kata dia, area itu masih tetap berisiko tinggi. Khususnya, lokasi permukiman yang berada di sempadan sungai berisiko tinggi dilanda aliran lumpur maupun aliran debris dari bagian hulu.
Hal ini mengingat bahaya longsor tidak selalu berasal dari lereng tempat rumah itu berada, tapi bisa pula datang dari sistem aliran yang terhubung langsung dengan lereng terjal di bagian hulunya.
"Jadi, memang yang perlu diwaspadai adalah penduduk-penduduk yang dilintasi material yang mengalir dari lereng Gunung Bularangrang, dengan lumpur sampai batu-batu lah, yang menghantam area perkebunan dan pemukiman penduduk. Itu yang memang harus hati-hatilah penduduknya," tutur Imam.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya