Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pakar ITB Sebut Longsor Cisarua Dipicu Hujan Ekstrem, Bagaimana dengan Alih Fungsi Lahan?

Kompas.com, 27 Januari 2026, 21:23 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Lingkungan geologi wilayah Kabupaten Bandung Barat berada pada produk-produk vulkanik tua, yang secara alamiah memiliki lapisan pelapukan relatif tebal.

Batas antara tanah hasil pelapukan dan batuan dasar relatif lebih kedap air sering kali menjadi bidang gelincirnya, yang semakin diperlemah oleh hujan dalam durasi panjang.

Ketika air hujan meresap dan mengisi pori-pori tanah hingga jenuh, kekuatan geser material pembentuk lereng akan menurun drastis. Di kondisi inilah, kata Imam, lereng sering tidak lagi mampu menahan beratnya sendiri.

Selain durasi, intensitas hujan juga menjadi pemicu longsor. Meski berintensitas sedang, jika hujan tersebut berlangsung lama, risiko bahayanya sama saja dengan kategori sangat lebat dalam durasi yang singkat. 

Imam menggarisbawahi pentingnya vegetasi dalam menjaga stabilitas lereng. Secara mekanik, vegetasi berfungsi meningkatkan kohesivitas tanah melalui perakarannya.

Secara hidrologis, vegetasi juga berfungsi memperlambat kejenuhan tanah akibat air hujan.

Baca juga:

Dalam kasus Cisarua, Imam mengungkapkan adanya indikasi longsoran di hulu salah satu sungai pada sistem lereng selatan Gunung Burangrang, yang menutup alur alirannya dan membentuk sumbatan atau bendungan alam (landslide dam).

Aliran air yang tertahan sementara dan membentuk genangan di bagian hulu menutup alur sungai. Hal itu diperparah dengan akumulasi sedimen berupa lumpur, pasir, dan batu.

Saat tidak lagi mampu menahan tekanan air dalam volume tertentu, bendungan alam ini jebol dan memicu aliran lumpur (mudflow) ke arah hilir mengikuti jalur sungai yang ada.

Bukan sekadar air, aliran lumpur kerap membawa bongkah-bongkah batu dan ranting-ranting kayu, bergerak cepat dengan daya kerusakan yang semakin dahsyat.

Dari karakternya, kata Imam, aliran air semacam itu mempunyai daya rusak yang jauh lebih tinggi dibandingkan yang biasanya dijumpai karena memuat sedimen dalam jumlah sangat besar.

Dengan demikian, kejadian longsor di Cisarua dapat dikategorikan sebagai aliran lumpur (mudflow). Atau, bahkan bisa menjadi aliran debris (debris flow).

Itulah jawaban mengapa terdapat kerusakan parah sepanjang jalur alirannya atau yang berada di kawasan bantaran sungai, meski wilayahnya tidak secara langsung terletak di di zona sumber longsoran.

Imam memperingatkan risiko bahaya dari longsoran susulan yang terindikasi dari indikasi sumbatan-sumbatan di bagian hulu sungai.

Jika hujan dengan intensitas tinggi terulang, akumulasi air berpotensi mendobrak sumbatan-sumbatan tersebut dan kembali memicu aliran lumpur yang membahayakan wilayah hilir.

Kendati mayoritas wilayah terdampak berada dia zona kerentanan longsoran yang relatif rendah hingga menengah secara regional, kata dia, area itu masih tetap berisiko tinggi. Khususnya, lokasi permukiman yang berada di sempadan sungai berisiko tinggi dilanda aliran lumpur maupun aliran debris dari bagian hulu.

Hal ini mengingat bahaya longsor tidak selalu berasal dari lereng tempat rumah itu berada, tapi bisa pula datang dari sistem aliran yang terhubung langsung dengan lereng terjal di bagian hulunya.

"Jadi, memang yang perlu diwaspadai adalah penduduk-penduduk yang dilintasi material yang mengalir dari lereng Gunung Bularangrang, dengan lumpur sampai batu-batu lah, yang menghantam area perkebunan dan pemukiman penduduk. Itu yang memang harus hati-hatilah penduduknya," tutur Imam.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Konservasi Terumbu Karang Indonesia Diperkuat Lewat Pendanaan TFCCA
Konservasi Terumbu Karang Indonesia Diperkuat Lewat Pendanaan TFCCA
Pemerintah
Emisi Listrik China dan India Turun, Pertama Kalinya dalam 52 Tahun
Emisi Listrik China dan India Turun, Pertama Kalinya dalam 52 Tahun
Pemerintah
UHN Dirikan Sustainabilitas Center of Sustainability Studies, Jawab Tantangan Keberlanjutan
UHN Dirikan Sustainabilitas Center of Sustainability Studies, Jawab Tantangan Keberlanjutan
Swasta
UNDRR: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyebaran Virus Nipah di Asia
UNDRR: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyebaran Virus Nipah di Asia
LSM/Figur
Pakar ITB Sebut Longsor Cisarua Dipicu Hujan Ekstrem, Bagaimana dengan Alih Fungsi Lahan?
Pakar ITB Sebut Longsor Cisarua Dipicu Hujan Ekstrem, Bagaimana dengan Alih Fungsi Lahan?
LSM/Figur
AS Resmi Menarik Diri dari Perjanjian iklim Paris
AS Resmi Menarik Diri dari Perjanjian iklim Paris
Pemerintah
Laut Arktik Makin Berisik Akibat Perubahan Iklim, Satwa Bisa Terganggu
Laut Arktik Makin Berisik Akibat Perubahan Iklim, Satwa Bisa Terganggu
LSM/Figur
Populasi Lansia Bisa Pangkas Pengambilan Air Global hingga 31 Persen
Populasi Lansia Bisa Pangkas Pengambilan Air Global hingga 31 Persen
LSM/Figur
Menteri LH Kaitkan Longsor Cisarua dengan Pola Makan, Pakar ITB Sebut Terlalu Jauh
Menteri LH Kaitkan Longsor Cisarua dengan Pola Makan, Pakar ITB Sebut Terlalu Jauh
LSM/Figur
Sebelum Terbakar Revolusi Biodiesel
Sebelum Terbakar Revolusi Biodiesel
Pemerintah
Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Bisa Terdampak
Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Bisa Terdampak
LSM/Figur
Pemkot Yogya Kumpulkan 27,5 Ton Sampah Organik per Hari lewat Emberisasi
Pemkot Yogya Kumpulkan 27,5 Ton Sampah Organik per Hari lewat Emberisasi
Pemerintah
Fokus Dana Desa 2026 untuk Atasi Kemiskinan hingga Pembentukan Desa Tangguh Iklim
Fokus Dana Desa 2026 untuk Atasi Kemiskinan hingga Pembentukan Desa Tangguh Iklim
Pemerintah
Perubahan Iklim Picu Penyebaran Amoeba Berbahaya di Air Hangat
Perubahan Iklim Picu Penyebaran Amoeba Berbahaya di Air Hangat
LSM/Figur
Pembangunan PLTU di RI Naik, Risiko Ekonomi dan Emisi Kian Besar
Pembangunan PLTU di RI Naik, Risiko Ekonomi dan Emisi Kian Besar
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau