Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

UHN Dirikan Sustainabilitas Center of Sustainability Studies, Jawab Tantangan Keberlanjutan

Kompas.com, 27 Januari 2026, 22:04 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Rektor Universitas Harkat Negeri (UHN), Sudirman Said meresmikan berdirinya Sustainabilitas, Center of Sustainability Studies pada Selasa (27/1/2026) di Jakarta.

Istilah "sustainabilitas" dipakai sebagai jenama dan terminologi baru yang diharapkan membawa semangat dan mampu menjawab berbagai tantangan keberlanjutan.

Baca juga:

Kosa kata "sustanabilitas" diambil dari bahasa Inggris sustainability, yang memuat tiga konsep utama yaitu kepemimpinan (leadership), kebijakan (policy), dan aksi nyata (action). Dengan demikian, pemimpin sustainabilitas harus berintegritas, dengan ketajaman analisis dan kemampuan mengeksekusi program.

Dari aspek kebijakan, "DNA sustainabilitas" tercermin dari standar pasar yang jelas dengan insentif cerdas. Lalu, kewajiban transparansi dan pelaporannya ketat dan penegakan kepatuhan yang kredibel. 

Sementara itu, aksi nyata terwujud dari keberhasilan dalam menjembatani aktivisme dan investasi.

"Jadi tidak semata-mata bicara sains, tapi juga bicara implementasinya. Dan center (pusat) ini pada waktunya akan bermetamorfosis menjadi school of sustainability. Jadi semacam fakultas atau program studi yang mendalami aspek-aspek sustainability baik dalam urusan ekonomi, urusan lingkungan, transportasi, tata kota, maupun yang berkaitan sama sosial," ujar Sudirman di Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Baca juga:

Sustainabilitas, Center of Sustainability Studies diluncurkan

Dibentuk untuk menjawab isu keberlanjutan

UHN memperkenalkan Sustainabilitas sebagai Center of Sustainability Studies terlebih dahulu. 

Sustainabilitas disebut akan menjadi embrio dari fakultas atau program studi ke depan. Ilmu pengetahuan tentang sustainability memerlukan semacam pendekatan multidisiplin (multi-discipline approach).

"Jadi, fakultasnya bukan fakultas bidang studi tertentu, tapi memayungi banyak sekali disiplin dan memang benar sekali. Itu bisa dibahas sebagai filosofi, bisa dibahas sebagai pendekatan, bisa dibahas sebagai cara kerja. Karena itu memang harus melibatkan banyak disiplin," tutur Sudirman.

Selain Sudirman, Direktur Sustainabilitas UHN, William Sabandar, serta Secretary General Global Alliance for a Sustainable Planet dan mantan UN Assistant Secretary, Satya Tripathi, juga ikut meresmikan berdirnya lembaga ini.

Menurut Sudirman, Sustainabilitas dibentuk untuk menjawab isu keberlanjutan dengan melibatkan partisipasi semua pihak dalam menghadapi krisis nyata di Indonesia.

Hal itu khususnya banjir, kekeringan, kebakaran hutan, naiknya permukaan air laut yang mengancam kehidupan.

Target Net Zero Emissions (NZE) Indonesia tahun 2030 dan 2060 menjadi milestone atau tonggak pencapaian Sustainabilitas.

Suasana banjir di jalanan di Kabupaten Bekasi, pada Minggu (18/1/2026).Kompas.com/Manda Firmansyah Suasana banjir di jalanan di Kabupaten Bekasi, pada Minggu (18/1/2026).

Sustainabilitas berorientasi memperkuat hubungan antara pengetahuan dan riset, dengan proses pembuatan kebijakan, yang bisa mempercepat kerja sama lintas sektor pada implementasi nyata.

William mengatakan, alam jangka panjang, Sustainabilitas, Center of Sustainability Studies akan berubah menjadi School of Sustainability, yang menggabungkan antara kekuatan dari Indonesia dan koneksi internasional melalui Satya Tripathi.

"Karena tadi mimpinya kan kita mau menempatkan Indonesia sebagai contoh untuk untuk dunia. Nah, pembinaan sumber daya manusia ini akan menggunakan teman-teman anak-anak yang sekarang yang masih sekolah di S1 di UHN ya. Tapi nanti ke depannya kita berharap pada level S2 ya. Jadi interdisciplinary di S1-nya, di S2-nya nanti kita bayangkan akan ada sekolah khusus sustainability," jelas William.

Dalam waktu dekat, setiap dua bulan pada pagi hari, pusat studi di bawah naungan UHN ini juga akan membuat kursus-kursus singkat.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Aceh Barat terus meluas.DOKUMENTASI BPBD ACEH BARAT Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Aceh Barat terus meluas.

Menurut William, pusat ini hadir dalam masa transisi keberlanjutan Indonesia, dengan cara menjembatani kesenjangan dari sumber daya dan tenaga penggerak.

Ia menilai, Indonesia kekurangan kapabilitas dalam menjawab isu-isu sustainabilitas.

"Inilah paradoks sustainabilitas di Indonesia. kita terkenal sangat kaya dengan aset alam, hutan, mangrove, lautan, keanekaragaman hayati, mineral kritis, potensi energi terbarukan,  namun kita masih kekurangan sumber daya yang paling menentukan: Keahlian manusia. Menjawab kesenjangan itu, lembaga ini hadir dengan fokus pembentukan kepemimpinan, kompetensi kebijakan, dan aksi yang benar-benar berjalan,” tutur William.

Baca juga:

Dalam menjawab tantangan penanganan bencana di Indonesia, sustainabilitas bergerak berdasarkan bukti yang sudah terjadi di lapangan. 

"Kalau sustainabilitas itu cocok untuk tantangan hari ini terutama bencana itu. Misalnya, yang bencana Aceh itu kan belum sampai penyelesaian panjang gitu. Bagaimana kita melihat visi kita jangka panjang tapi aksi kita short term (jangka pendek). Ya, ini kita bisa jangka panjang tapi aksinya kita perlu short term," ucap mantan Kepala Pemulihan Kepulauan Nias, Badan Rekonstruksi Aceh dan Nias (BRR Aceh-Nias) ini.

"Jadi, kalau kita berpikir soal menangani sebuah bencana agar bencana itu tidak terulang lagi atau kita bisa melakukan mitigasi lebih baik ke depan, kan melihatnya long term gitu ya, apa yang harus kita lakukan. Tapi kemudian tindakan-tindakan segeranya harus juga dilakukan," imbuh dia. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau