Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ada Sejumlah Syarat yang Harus Dipenuhi untuk Implementasikan WtE

Kompas.com, 28 Januari 2026, 13:47 WIB
Add on Google
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste-to-energy (WtE) memiliki peluang besar untuk menjadi solusi nasional pengelolaan sampah, khususnya di wilayah perkotaan.

Guru Besar IPB University Prof Arief Sabdo Yuwono, menilai persoalan sampah di Indonesia telah memasuki fase darurat. Ketergantungan pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dengan sistem open dumping tidak hanya memicu pencemaran lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.

"Dalam kondisi ini, WtE dapat berfungsi sebagai instrumen pengelolaan sampah yang efektif, selama diterapkan dengan prasyarat teknologi dan lingkungan yang ketat," kata dosen di Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University dalam penjelasan resmi, Rabu (28/1/2026).

Baca juga: Bandarlampung Tambah 46 Mobil Sampah Baru

Arief menjelaskan dari sisi lingkungan, WtE berpotensi mempercepat waktu pengolahan sampah sekaligus mereduksi volumenya secara signifikan. WtE juga membantu menurunkan emisi kebauan, memperbaiki sanitasi lingkungan, serta mengurangi produksi air lindi dan populasi lalat sebagai vektor penyakit.

"Panas hasil pembakaran selanjutnya dapat dikonversi menjadi energi listrik yang berkontribusi pada penurunan emisi karbon nasional," ujarnya.

Namun, Arief menegaskan keberhasilan WtE sangat ditentukan oleh kesesuaian teknologi dengan karakteristik sampah nasional. Sampah perkotaan di Indonesia, kata Arief, masih didominasi oleh sampah organik dengan kadar air tinggi sehingga membutuhkan penanganan awal dan pemilahan di sumber.

“Teknologi harus dipilih setelah karakteristik sampah diketahui, bukan sebaliknya. Sampah perkotaan kita cenderung basah, sehingga perlu pengolahan awal agar proses pembakaran efisien dan aman bagi lingkungan,” ujar Arief.

Syarat Keamanan Lingkungan

Lebih jauh Arief menyoroti aspek keamanan lingkungan sebagai prasyarat utama penerapan WtE. Ini dimulai dari sistem flue gas treatment untuk mengendalikan emisi, hingga pengelolaan abu sisa pembakaran yang dapat dikategorikan sebagai limbah B3 maupun non-B3.

Selain itu, edukasi dan komunikasi publik dinilai penting agar masyarakat memahami manfaat serta risiko teknologi ini secara proporsional.

Arief menyebutkan sejumlah negara telah membuktikan keberhasilan WtE dengan pendekatan lingkungan yang ketat, di antaranya di Osaka dan Yokohama Jepang, Zurich di Swis, serta Dubai. Praktik tersebut juga dapat ditemukan di Tiongkok, Singapura, Jerman, dan Belgia.

Baca juga: Jalan Panjang Keluar dari Darurat Sampah

“Insinerator modern mampu mengurangi volume sampah hingga lebih dari 90 persen dengan standar pengendalian emisi yang ketat. Kunci keberhasilannya terletak pada pemilihan teknologi yang sesuai dengan karakteristik sampah nasional, serta pengawasan lingkungan yang transparan dan berkelanjutan untuk melindungi kesehatan masyarakat,” jelas Arief.

Arief menilai langkah pemerintah yang tengah mengembangkan program WtE melalui Danantara sudah berada pada jalur yang tepat, meski tetap memerlukan kehati-hatian dalam implementasi.

“Insinerator itu memang cara efektif untuk menyelesaikan sampah dalam waktu yang singkat, tetapi harus dijalankan dengan tata kelola dan pengawasan yang kuat agar benar-benar menjadi solusi, bukan sumber masalah baru,” katanya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
LSM/Figur
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Pemerintah
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
LSM/Figur
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau