KOMPAS.com - Beberapa hari lalu, terjadi fenomena burung dari Rusia dan China terbang ke Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.
"Mereka datang mulai sekitar bulan September. Nanti sekitar Maret akan balik ke daerah asalnya untuk berkembang biak," kata Polisi Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah I Kediri, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur, Ahmad David Kurnia Putra, dilaporkan oleh Kompas.com, Selasa (23/1/2026).
Baca juga:
Hal tersebut ternyata bagian dari proses migrasi burung, yang telah berlangsung ribuan tahun. Proses itu menjadi bagian dari evolusi yang memungkinkan burung tetap eksis hingga saat ini.
Proses evolusi mencakup penyesuaian jalur, serta adaptasi morfologi dan waktu bermigrasi.
Saat ini, diketahui ada sembilan jalur migrasi utama burung di dunia. Indonesia menjadi salah satu bagian penting dari jalur Asia Timur-Australia (East Asia Australia Flyway).
Sebagai negara yang menjadi jalur migrasi burung dari Asia Timur ke Australia, Indonesia akan menjadi lintasan dalam dua periode pada setiap tahunnya.
Periode pertama terjadi saat awal musim dingin di belahan bumi utara, yang mana burung-burung akan datang ke Indonesia untuk menetap selama akhir bulan September-November.
Kemudian, burung-burung itu kembali bermigrasi ke Asia Timur pada periode bulan Maret-Mei.
Kalau memilih jalur dari utara, burung-burung akan melewati Semenanjung Thailand, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa, serta bisa berakhir di Bali atau pun Lombok. Jalur migrasi juga berlaku pula untuk arah sebaliknya.
Baca juga:
Fenomena burung migran dari Rusia dan China terpantau di Tulungagung dan Trenggalek. Ini penjelasan soal jalur migrasi dan ancaman habitatnya.Perubahan lingkungan, seperti reklamasi di daerah pesisir pantai dan alih fungsi lahan basah menjadi sawah, ladang kering, atau permukiman, akan mengancam habitat dan ketersediaan burung-burung itu. Khususnya, burung pantai dan burung lahan basah yang bermigrasi.
Selain itu, dosen biologi dari Universitas Andalas, Wilson Novarino menekankan adanya jenis burung lain yang ikut bermigrasi yaitu, spesies burung-burung yang ada di daerah hutan dan berbagai jenis elang.
"Jadi setiap tahun itu ratusan spesies burung bermigrasi melewati Indonesia. Ketika terjadi perubahan-perubahan habitat yang ada di Indonesia, tentu ini mempengaruhi populasinya secara global. Dengan demikian, kita perlu memberikan perhatian terkait dengan permasalahan ini," jelas Wilson kepada Kompas.com, Jumat (30/1/2026).
Untuk mencegah penurunan ratusan spesies burung yang bermigrasi melintasi Indonesia, dibutuhkan berbagai kajian mendalam untuk kebijakan-kebijakan reklamasi di daerah pesisir pantai.
Wilson juga menegaskan pentingnya mempertahankan keberadaan lahan basah dan hutan-hutan yang dapat menjadi batu pijakan (stepping stone) bagi burung-burung itu ketika membutuhkan waktu untuk istirahat.
"Dengan demikian, harapannya nanti kita masih tetap bisa menikmati kehadiran burung-burung bermigrasi di sekitar kita," ucapnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya