Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Burung Rusia dan China Migrasi ke Jawa Timur, Alih Fungsi Lahan Basah Ancam Habitatnya

Kompas.com, 30 Januari 2026, 15:08 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Beberapa hari lalu, terjadi fenomena burung dari Rusia dan China terbang ke Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. 

"Mereka datang mulai sekitar bulan September. Nanti sekitar Maret akan balik ke daerah asalnya untuk berkembang biak," kata Polisi Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah I Kediri, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur, Ahmad David Kurnia Putra, dilaporkan oleh Kompas.com, Selasa (23/1/2026).

Baca juga:

Hal tersebut ternyata bagian dari proses migrasi burung, yang telah berlangsung ribuan tahun. Proses itu menjadi bagian dari evolusi yang memungkinkan burung tetap eksis hingga saat ini.

Proses evolusi mencakup penyesuaian jalur, serta adaptasi morfologi dan waktu bermigrasi.

Burung dari Rusia dan China terbang ke Jawa Timur, ada apa?

Indonesia jadi bagian penting dari jalur migrasi utama burung dunia

Saat ini, diketahui ada sembilan jalur migrasi utama burung di dunia. Indonesia menjadi salah satu bagian penting dari jalur Asia Timur-Australia (East Asia Australia Flyway).

Sebagai negara yang menjadi jalur migrasi burung dari Asia Timur ke Australia, Indonesia akan menjadi lintasan dalam dua periode pada setiap tahunnya.

Periode pertama terjadi saat awal musim dingin di belahan bumi utara, yang mana burung-burung akan datang ke Indonesia untuk menetap selama akhir bulan September-November.

Kemudian, burung-burung itu kembali bermigrasi ke Asia Timur pada periode bulan Maret-Mei.

Kalau memilih jalur dari utara, burung-burung akan melewati Semenanjung Thailand, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa, serta bisa berakhir di Bali atau pun Lombok. Jalur migrasi juga berlaku pula untuk arah sebaliknya.

Baca juga:

Perubahan lingkungan mengancam habitat dan ketersediaan burung

Fenomena burung migran dari Rusia dan China terpantau di Tulungagung dan Trenggalek. Ini penjelasan soal jalur migrasi dan ancaman habitatnya.freepik Fenomena burung migran dari Rusia dan China terpantau di Tulungagung dan Trenggalek. Ini penjelasan soal jalur migrasi dan ancaman habitatnya.

Perubahan lingkungan, seperti reklamasi di daerah pesisir pantai dan alih fungsi lahan basah menjadi sawah, ladang kering, atau permukiman, akan mengancam habitat dan ketersediaan burung-burung itu. Khususnya, burung pantai dan burung lahan basah yang bermigrasi.

Selain itu, dosen biologi dari Universitas Andalas, Wilson Novarino menekankan adanya jenis burung lain yang ikut bermigrasi yaitu, spesies burung-burung yang ada di daerah hutan dan berbagai jenis elang.

"Jadi setiap tahun itu ratusan spesies burung bermigrasi melewati Indonesia. Ketika terjadi perubahan-perubahan habitat yang ada di Indonesia, tentu ini mempengaruhi populasinya secara global. Dengan demikian, kita perlu memberikan perhatian terkait dengan permasalahan ini," jelas Wilson kepada Kompas.com, Jumat (30/1/2026).

Untuk mencegah penurunan ratusan spesies burung yang bermigrasi melintasi Indonesia, dibutuhkan berbagai kajian mendalam untuk kebijakan-kebijakan reklamasi di daerah pesisir pantai.

Wilson juga menegaskan pentingnya mempertahankan keberadaan lahan basah dan hutan-hutan yang dapat menjadi batu pijakan (stepping stone) bagi burung-burung itu ketika membutuhkan waktu untuk istirahat.

"Dengan demikian, harapannya nanti kita masih tetap bisa menikmati kehadiran burung-burung bermigrasi di sekitar kita," ucapnya.

Salah satu burung migrasi, Trinil Semak (Actitis hypoleucos) terpantau melalui teropong binokular saat mencari makan di area persawahan Desa Bungur, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Fenomena burung migran dari Rusia dan China terpantau di Tulungagung dan Trenggalek. Ini penjelasan soal jalur migrasi dan ancaman habitatnya.ANTARA/HO-@AkhmadDavid Kurnia Salah satu burung migrasi, Trinil Semak (Actitis hypoleucos) terpantau melalui teropong binokular saat mencari makan di area persawahan Desa Bungur, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Fenomena burung migran dari Rusia dan China terpantau di Tulungagung dan Trenggalek. Ini penjelasan soal jalur migrasi dan ancaman habitatnya.

Sebelumnya, kedatangan burung-burung dari Rusia dan China dideteksi di Kabupaten Tulungagung.

BKSDA Wilayah I Kediri bersama Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Himalaya UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung menggelar acara Tulungagung Bird Walk pada Selasa (13/1/2026).

Para peserta menggunakan teropong untuk mengamati ciri-ciri dan perilaku burung. Ahmad merinci temuan tujuh jenis burung yang berasal dari Rusia dan China.

Baca juga:

Ketujuh jenis burung tersebut adalah trinil pantai (Actitis hypoleuscos), trinil semak (Tringa glareola), kicuit kerbau (Motacilla flava), cerek kernyut (Pluvialis fulva), cerek kalung kecil (Charadrius dubius), terik asia (Glareola maldivarum), serta burung layang-layang asia (Hirundo rustica).

Sementara itu, burung asal Rusia lain yang ditemukan di Kabupaten Trenggalek adalah gajahan pengala (Numenius Phaeopus).

Burung yang bermigrasi dari wilayah sub-artik itu terpantau singgah di kawasan Hutan Magrove Pantai Cengkrong, Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Panas Ekstrem Jadi Ancaman Nyata Bagi Kelangsungan Hidup Satwa Liar
Panas Ekstrem Jadi Ancaman Nyata Bagi Kelangsungan Hidup Satwa Liar
LSM/Figur
Formula 1 Kejar Target Ramah Lingkungan
Formula 1 Kejar Target Ramah Lingkungan
Pemerintah
Studi: Perusahaan Sulit Terapkan Strategi Iklim secara Menyeluruh
Studi: Perusahaan Sulit Terapkan Strategi Iklim secara Menyeluruh
Pemerintah
'Langkah Membumi', Memantik Aksi Nyata Generasi Muda untuk Gaya Hidup Berkelanjutan
"Langkah Membumi", Memantik Aksi Nyata Generasi Muda untuk Gaya Hidup Berkelanjutan
Swasta
Dorong Anak Muda Suarakan Gagasan, Lembaga Filantropi Dukung Festival Film Mikro 2026
Dorong Anak Muda Suarakan Gagasan, Lembaga Filantropi Dukung Festival Film Mikro 2026
LSM/Figur
Literasi Keuangan Inklusif Penting untuk Wujudkan Kemandirian Penyandang Disabilitas
Literasi Keuangan Inklusif Penting untuk Wujudkan Kemandirian Penyandang Disabilitas
Pemerintah
Pengamat: Target PLTS 100 GW di RUPTL Harus Dibarengi Pengurangan PLTU
Pengamat: Target PLTS 100 GW di RUPTL Harus Dibarengi Pengurangan PLTU
LSM/Figur
Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB
Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB
Pemerintah
Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Pemerintah
PBB Peringatkan 13 Wilayah Dunia Terancam Kelaparan yang Lebih Parah
PBB Peringatkan 13 Wilayah Dunia Terancam Kelaparan yang Lebih Parah
Pemerintah
Belajar dari Singapura, Ketika Sampah menjadi Peluang Ekonomi
Belajar dari Singapura, Ketika Sampah menjadi Peluang Ekonomi
Pemerintah
238 Batang Kayu Ilegal Disembunyikan di Pabrik Humbang Hasundutan Sumut
238 Batang Kayu Ilegal Disembunyikan di Pabrik Humbang Hasundutan Sumut
Pemerintah
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Pemerintah
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Swasta
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau