Ditemui di lokasi yang sama, salah satu pembeli bernama Evita mengaku senang saat mengetahui uang hasil penjualan kegiatan Palmerah, Yuk bakal didonasikan ke korban banjir Sumatera.
Di samping itu, dia memilih membeli baju bekas lantaran harganya yang jauh lebih murah ketimbang baju baru.
"Pertama harganya pasti sudah lebih turun gitu kan, dan kalau misalnya baju kan kayak kita bakal sering ganti-ganti, jadi kayaknya enggak apa-apa deh beli thrift selama kualitasnya masih bagus, masih oke, kenapa enggak," ucap Evita.
Evita mengaku menemukan outer yang sudah lama ia cari. Selain sesuai kebutuhan, harga yang ditawarkan juga masih berada dalam anggaran yang ia siapkan yakni di bawah Rp 100.000.
Meski mengaku jarang berburu pakaian bekas, Evita menilai thrifting menjadi alternatif menarik, terutama jika lokasinya dekat dan tujuannya jelas.
Baca juga:
Menurutnya, membeli pakaian bekas bukan menjadi persoalan selama kualitasnya masih layak pakai.
“Kalau baju kan sering ganti-ganti juga, jadi enggak apa-apa beli thrift selama kualitasnya masih oke,” katanya.
Dia pun tak khawatir dengan kebersihan pakaian bekas, selama pencuciannya tepat. Evita biasa mencuci pakaian hasil thrifting menggunakan air panas yang diketahuinya dari informasi di internet.
Lebih dari sekadar berbelanja, Evita menilai kegiatan thrifting juga membawa dampak positif bagi lingkungan dan sosial.
Menurutnya, thrifting dapat membantu mengurangi limbah tekstil akibat fast fashion, sekaligus memberi akses bantuan kepada mereka yang membutuhkan.
"Saya sudah tahu Palmerah, Yuk akan donasi ke korban banjir Sumatera, makanya mumpung di sini terus juga tujuannya buat donasi kenapa enggak (membeli), begitu," papar Evita.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya