JAKARTA, KOMPAS.com – Pakaian aneka warna digantung di rak baju besi yang disusun rapi dalam ruangan Bentara Budaya Jakarta, Jakarta Pusat, Jumat (30/1/2026), sedangkan pakaian lainnya diletakkan tertumpuk di atas meja panjang. Sepatu bekas, aksesori dari topi hingga gelang turut dijajakan.
Menjelang siang, kegiatan thrifting di Palmerah, Yuk yang digagas Corporate Human Resource (CHR) Kompas Gramedia Group ini kian ramai.nBeberapa pengunjung tampak memilih pakaian yang tersedia dengan harga Rp 10.000 sampai Rp 75.000.
Baca juga:
Culture and Employer Branding Analyst KG Media, Timmy Permana menuturkan, Palmerah, Yuk merupakan upaya menghidupi nilai-nilai perusahaan, terutama terkait kepedulian serta keberlanjutan. Kegiatan ini berlangsung hingga Jumat (30/1/2026) dan terbuka untuk umum.
"Kalau di thrifting-nya sebenarnya kami mau menghidupi nilainya Kompas Gramedia, yaitu caring, kepedulian dalam berbaginya. Pakaian-pakaian ini didapatkan dari donasi teman-teman karyawan semua, terus nanti hasil penjualannya dari thrifting ini bakal disalurkan ke Gerakan Peduli Sumatera," jelas Timmy saat ditemui di lokasi, Jumat (30/1/2026).
Pakaian hasil donasi dijual dalam kegiatan Thrifting di Palmerah, Yuk, Jumat (30/1/2026). Panitia, lanjut Timmy, berhasil mengumpulkan lebih dari 800 barang donasi mulai dari baju, celana, syal, aksesori, hingga sepatu.
Sampai hari pertama pelaksanaan, estimasi hasil penjualan yang terkumpul mencapai Rp 3 juta sampai Rp 4 juta, yang nantinya bakal disalurkan bagi korban bencana banjir dan longsor di Sumatera.
Kegiatan tersebut juga membawa misi lingkungan, khususnya dalam mengurangi dampak sampah fast fashion.
Panitia berharap acara thrifting ini dapat menjadi bagian dari gerakan berkelanjutan di bidang fesyen.
“Kami ingin ini bisa sustain, jadi bukan berhenti di satu acara saja, tapi menjadi pergerakan yang sirkular dan bisa berkolaborasi lebih luas,” ucap Timmy.
Baca juga:
Sementara itu, Ketua Pelaksana Palmerah, Yuk, M Fajri Fadillah memastikan semua barang sudah melalui proses kurasi dari sisi kebersihan hingga kelayakan pakai sebelum dijual.
Donatur diminta mencuci pakaian terlebih dahulu, kemudian panitia memastikan kualitas barang sebelum menentukan harga jual.
"Terus kami juga lihat dari kualitas barang-barangnya, karena ada kayak Rp 15.000 mungkin baju-baju biasa. Nanti mulai ke harga Rp 50.000, Rp75.000 ada batik, kemeja, gaun. Terus kami juga lihat kayak sepatu seharga Rp 75.000,karena masih banyak yang bersih dan sebenarnya bisa langsung dipakai juga," jelas Fajri.
Sebagian besar pengunjung, lanjut dia, merupakan karyawan dari KG Media. Ke depannya, KG Media berencana menjadikan kegiatan serupa dalam mendukung fesyen berkelanjutan.
Thrifting di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (30/1/2026). Ditemui di lokasi yang sama, salah satu pembeli bernama Evita mengaku senang saat mengetahui uang hasil penjualan kegiatan Palmerah, Yuk bakal didonasikan ke korban banjir Sumatera.
Di samping itu, dia memilih membeli baju bekas lantaran harganya yang jauh lebih murah ketimbang baju baru.
"Pertama harganya pasti sudah lebih turun gitu kan, dan kalau misalnya baju kan kayak kita bakal sering ganti-ganti, jadi kayaknya enggak apa-apa deh beli thrift selama kualitasnya masih bagus, masih oke, kenapa enggak," ucap Evita.
Evita mengaku menemukan outer yang sudah lama ia cari. Selain sesuai kebutuhan, harga yang ditawarkan juga masih berada dalam anggaran yang ia siapkan yakni di bawah Rp 100.000.
Meski mengaku jarang berburu pakaian bekas, Evita menilai thrifting menjadi alternatif menarik, terutama jika lokasinya dekat dan tujuannya jelas.
Baca juga:
Menurutnya, membeli pakaian bekas bukan menjadi persoalan selama kualitasnya masih layak pakai.
“Kalau baju kan sering ganti-ganti juga, jadi enggak apa-apa beli thrift selama kualitasnya masih oke,” katanya.
Dia pun tak khawatir dengan kebersihan pakaian bekas, selama pencuciannya tepat. Evita biasa mencuci pakaian hasil thrifting menggunakan air panas yang diketahuinya dari informasi di internet.
Lebih dari sekadar berbelanja, Evita menilai kegiatan thrifting juga membawa dampak positif bagi lingkungan dan sosial.
Menurutnya, thrifting dapat membantu mengurangi limbah tekstil akibat fast fashion, sekaligus memberi akses bantuan kepada mereka yang membutuhkan.
"Saya sudah tahu Palmerah, Yuk akan donasi ke korban banjir Sumatera, makanya mumpung di sini terus juga tujuannya buat donasi kenapa enggak (membeli), begitu," papar Evita.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya