Penulis
Aktivitas tersebut memberikan dampak ekonomi. Namun, risiko terhadap lingkungan juga harus dikelola dengan ketat.
Baca juga:
KLH tidak ingin kejadian serupa yang pernah terjadi di Raja Ampat, Papua Barat Daya, terulang kembali. Wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu kawasan terumbu karang terkaya di dunia.
Dalam paparannya pada Forum Bali Ocean Days, Rasio mengingatkan insiden yang terjadi pada awal Maret 2017. Saat itu, kapal pesiar MV Caledonian Sky menabrak terumbu karang di dekat perairan Pulau Kri, Raja Ampat.
Tabrakan tersebut menyebabkan kerusakan terumbu karang dalam skala besar. Dampaknya dirasakan langsung oleh ekosistem laut dan masyarakat setempat yang bergantung pada laut.
Rasio menjelaskan, kompensasi atas kejadian tersebut telah diberikan kepada komunitas lokal. Mekanisme kompensasi dilakukan melalui asuransi kapal pesiar.
Upaya restorasi terumbu karang juga dilakukan, dengan mencakup area seluas 3.797 meter persegi. Proses pemulihan dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab atas kerusakan yang terjadi. Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi pengelolaan lalu lintas kapal pesiar di Indonesia.
KLH menilai pengawasan yang kuat menjadi kunci perlindungan terumbu karang. Pengawasan mencakup jalur pelayaran, aktivitas kapal, serta potensi pencemaran.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya