KOMPAS.com - Asam perfluorooktanoat (PFOA), bahan kimia yang banyak dipakai dalam berbagai industri, disebut bisa mengganggu tahap awal kehamilan.
"Asam perfluorooktanoat (PFOA), salah satu bahan kimia pengganggu endokrin, menyebabkan penurunan kesuburan," tulis sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Reproductive and Developmental Medicine, Sabtu (31/1/2026).
Baca juga:
Studi terbaru mengungkapkan potensi risiko kesuburan, dengan menargetkan momen ketika embrio harus menempel dengan rahim.
Dalam percobaan, tikus diberi PFOA melalui mulut selama awal kehamilan untuk melihat bagaimana senyawa tersebut memengaruhi produksi hormon ovarium dan kesiapan rahim melakukan implantasi, dilansir dari SciTechDaily.
Para peneliti dari Universitas Ilmu Kedokteran Iran menemukan bahwa paparan tersebut menyebabkan kadar progesteron lebih rendah, perubahan pada permukaan rahim, dan penurunan kadar sitokin dalam implantasi.
Studi itu menekankan pentingnya kombinasi tersebut, mengingat implantasi bergantung pada sinyal hormon yang terkoordinasi serta pesan imun antara embrio dan jaringan ibu.
Baca juga:
Penelitian menemukan PFOA, yang termasuk bahan kimia abadi, menurunkan hormon progesteron dan mengganggu kesiapan rahim untuk kehamilan.PFOA merupakan senyawa sintesis yang dikategorikan sebagai "bahan kimia abadi". Sebab, bahan kimia tersebut terurai sangat lambat dan dapat menumpuk di dalam tubuh seiring waktu.
Senyawa ini dikaitkan dengan jalur paparan sehari-hari melalui barang-barang tertentu, seperti peralatan masak antilengket, kemasan makanan, dan air minum yang terkontaminasi.
Studi sebelumnya tentang PFAS telah mengaitkan paparan senyawa ini dengan gangguan siklus menstruasi, menopause dini, dan cadangan ovarium yang lebih rendah.
Dari momen tersebut, timbul pertanyaan tentang potensi gangguan PFAS terhadap implantasi masih kurang yang jelas.
Setelah memberikan dosis PFOA yang meningkat kepada tikus hamil, para peneliti mengukur kadar hormon, memeriksa struktur rahim, serta menilai aktivitas gen terkait reseptivitas endometrium.
Langkah itu untuk melihat bagaimana bahan kimia tersebut bisa mengubah kondisi yang dibutuhkan agar embrio berhasil menempel.
Studi mengungkapkan bahwa paparan PFOA mengurangi kadar progesteron serum, hormon yang penting untuk mempersiapkan rahim untuk kehamilan.
“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa PFOA mengubah beberapa jalur kunci yang terlibat dalam reseptivitas endometrium. Dengan mengurangi produksi progesteron, menurunkan pembentukan pinopoda, dan menekan ekspresi IL-1β dan IL-6, PFOA menciptakan kondisi yang merugikan implantasi embrio," demikian kesimpulan dari studi tersebut.
Baca juga: Panas Ekstrem dan Kelembapan Bisa Berdampak pada Janin
Penelitian menemukan PFOA, yang termasuk bahan kimia abadi, menurunkan hormon progesteron dan mengganggu kesiapan rahim untuk kehamilan.Para peneliti memperingatkan bahwa studi lebih lanjut pada manusia diperlukan.
Tidak hanya itu, temuan mereka menegaskan urgensi mengatasi pengganggu endokrin lingkungan dalam pengobatan reproduksi.
Para peneliti mengingatkan pentingnya memahami dampak PFOA dalam infertilitas untuk melindungi kesehatan reproduksi. Apalagi, keberadaan bahan kimia ini yang meluas dalam kehidupan sehari-hari.
Sebelumnya diberitakan, Perancis resmi melarang penggunaan forever chemicals (bahan kimia abadi) dalam kosmetik dan mayoritas pakaian mulai Januari 2026.
Larangan ini menandai langkah tegas negara tersebut dalam melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan dari ancaman bahan kimia berbahaya, yang mana selama puluhan tahun digunakan secara luas, dilansir dari AFP, Kamis (1/1/2026).
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya