Menurut laporan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), timbulan sampah Indonesia pada 2025 mencapai 20,25 juta ton.
Jenis sampah yang paling banyak, antara lain sisa makanan 40,79 persen, serta sampah plastik dan kayu atau ranting yang masing-masing 19,95 persen dan 13,7 persen.
Sebagai informasi, PSEL diproyeksikan menghasilkan listrik 20 megawatt per fasilitas dengan biaya tarif 0,20 dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 3.359) per kwh yang wajib dibeli PT PLN (Persero).
Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Indonesia memastikan teknologi canggih digunakan untuk proyek WtE.
Baca juga:
Lead of Waste to Energy BPI Danantara Indonesia, Fadli Rahman, mengungkapkan, teknologi ini lebih canggih dibandingkan 80 persen teknologi serupa yang diterapkan di China. Diketahui, China adalah salah satu negara yang sukses menjalankan program WtE.
"Kami tidak menerapkan teknologi yang lama tetapi teknologi yang baru, yang setiap posisi memiliki karakteristik yang berbeda-beda tetapi standarnya jauh lebih tinggi daripada yang kami sudah set di proposal (WtE)," kata Fadli dalam diskusi Tenggara Strategics, Jakarta Pusat, Rabu (22/1/2026).
Dia menjelaskan, sistem insinerasi yang diterapkan pada fasilitas PSEL tidak bisa disamakan dengan pembakaran sampah konvensional. Pembakarannya disebut sempurna, dengan suhu hingga 1.000 derajat celsius.
Sementara itu, pembakaran sampah atau insinerator biasa suhunya lebih rendah dan menimbulkan gas beracun. Fadli menuturkan, fasilitas PSEL terlebih dahulu dibangun di Bogor, Denpasar, Yogyakarta, dan Bekasi karena dinyatakan siap.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya