Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Sektor peternakan modern tidak lagi sekadar dituntut meningkatkan produktivitas. Lebih dari itu, sektor ini dihadapkan pada tuntutan keberlanjutan, terutama dalam menekan jejak karbon dan dampak pencemaran lingkungan.
Tanpa langkah transformatif, industri peternakan justru berpotensi memperparah degradasi lingkungan. Kekhawatiran ini berlandaskan bukti ilmiah. Jurnal Nature Food tahun 2025, memuat studi mengenai kontribusi emisi gas rumah kaca dari sektor pangan global.
Dari kajian terhadap 170 produk tanaman dan 16 produk hewani di 200 negara, sebanyak 57 persen total emisi pangan berasal dari pangan berbasis hewan, terutama produk peternakan.
Baca juga: Incar Ekonomi Tumbuh 8 Persen, RI Perlu Andalkan Peternakan dan Perikanan
Daging sapi menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar, yakni sekitar 25 persen dari total emisi pangan dunia.
Di Indonesia, penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2024 menunjukkan bahwa emisi metana dari sektor peternakan, khususnya sapi, menyumbang 23–29 persen dari total emisi metana nasional.
Angka ini melampaui kontribusi sektor pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan yang berada pada kisaran 22–24 persen.
Metana merupakan gas rumah kaca dengan potensi pemanasan global sekitar 21 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida (CO?). Gas ini dihasilkan sebagai produk sampingan aktivitas mikroba dalam sistem pencernaan ternak ruminansia.
Muhsin Al Anas, dosen dan peneliti Departemen Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), menilai tingginya kontribusi emisi peternakan di Indonesia tak lepas dari faktor geografis. Sebagai negara tropis, Indonesia banyak mengandalkan pakan berserat tinggi.
“Serat pakan yang tinggi sulit dicerna secara optimal oleh ternak. Akibatnya, produksi gas rumah kaca meningkat dan berdampak pada perubahan iklim,” ujar doktor Ilmu Peternakan UGM ini dalam keterangan resmi, Selasa (3/2/2026).
Karena itu, menurut Muhsin, inovasi berbasis sains dan teknologi menjadi kunci untuk menjawab tantangan produktivitas sekaligus keberlanjutan. Fokus utamanya adalah meningkatkan kecernaan pakan agar nutrisi dimanfaatkan optimal, produktivitas ternak meningkat, dan dampak lingkungan ditekan.
Sejumlah negara Eropa, terutama Belanda, telah lebih dahulu mengembangkan sistem peternakan yang efisien dan rendah emisi. Sapi perah maupun sapi potong di negara tersebut dikenal berproduktivitas tinggi, berkualitas unggul, sekaligus rendah karbon dan metana.
“Pendekatan ini jelas membutuhkan teknologi maju,” kata Muhsin.
Persoalan efisiensi serapan pakan sebenarnya telah disadari sejak 1970-an. Berbagai konsorsium dan riset peternakan global, termasuk di Fakultas Peternakan UGM, terus diarahkan untuk mencari solusi.
Peneliti mengembangkan pakan dan suplemen bernutrisi tinggi yang mudah dicerna ternak sekaligus menekan produksi gas sampingan yang mencemari lingkungan.
Baca juga: Peternakan Sumbang Emisi Terbesar Sektor Pangan
Upaya menuju peternakan berkelanjutan dilakukan secara komprehensif, termasuk melalui pengembangan instrumen pendukung. Salah satu tantangannya adalah ketiadaan alat untuk mengukur emisi gas rumah kaca dari pakan ternak di Indonesia.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya