Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jejak Muhsin, Kembangkan Peternakan Ramah Lingkungan

Kompas.com, 3 Februari 2026, 18:25 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Sektor peternakan modern tidak lagi sekadar dituntut meningkatkan produktivitas. Lebih dari itu, sektor ini dihadapkan pada tuntutan keberlanjutan, terutama dalam menekan jejak karbon dan dampak pencemaran lingkungan.

Tanpa langkah transformatif, industri peternakan justru berpotensi memperparah degradasi lingkungan. Kekhawatiran ini berlandaskan bukti ilmiah. Jurnal Nature Food tahun 2025, memuat studi mengenai kontribusi emisi gas rumah kaca dari sektor pangan global.

Dari kajian terhadap 170 produk tanaman dan 16 produk hewani di 200 negara, sebanyak 57 persen total emisi pangan berasal dari pangan berbasis hewan, terutama produk peternakan.

Baca juga: Incar Ekonomi Tumbuh 8 Persen, RI Perlu Andalkan Peternakan dan Perikanan

Daging sapi menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar, yakni sekitar 25 persen dari total emisi pangan dunia.

Di Indonesia, penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2024 menunjukkan bahwa emisi metana dari sektor peternakan, khususnya sapi, menyumbang 23–29 persen dari total emisi metana nasional.

Angka ini melampaui kontribusi sektor pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan yang berada pada kisaran 22–24 persen.

Metana merupakan gas rumah kaca dengan potensi pemanasan global sekitar 21 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida (CO?). Gas ini dihasilkan sebagai produk sampingan aktivitas mikroba dalam sistem pencernaan ternak ruminansia.

Muhsin Al Anas, dosen dan peneliti Departemen Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), menilai tingginya kontribusi emisi peternakan di Indonesia tak lepas dari faktor geografis. Sebagai negara tropis, Indonesia banyak mengandalkan pakan berserat tinggi.

“Serat pakan yang tinggi sulit dicerna secara optimal oleh ternak. Akibatnya, produksi gas rumah kaca meningkat dan berdampak pada perubahan iklim,” ujar doktor Ilmu Peternakan UGM ini dalam keterangan resmi, Selasa (3/2/2026).

Karena itu, menurut Muhsin, inovasi berbasis sains dan teknologi menjadi kunci untuk menjawab tantangan produktivitas sekaligus keberlanjutan. Fokus utamanya adalah meningkatkan kecernaan pakan agar nutrisi dimanfaatkan optimal, produktivitas ternak meningkat, dan dampak lingkungan ditekan.

Peternakan Ramah Lingkungan

Sejumlah negara Eropa, terutama Belanda, telah lebih dahulu mengembangkan sistem peternakan yang efisien dan rendah emisi. Sapi perah maupun sapi potong di negara tersebut dikenal berproduktivitas tinggi, berkualitas unggul, sekaligus rendah karbon dan metana.

“Pendekatan ini jelas membutuhkan teknologi maju,” kata Muhsin.

Persoalan efisiensi serapan pakan sebenarnya telah disadari sejak 1970-an. Berbagai konsorsium dan riset peternakan global, termasuk di Fakultas Peternakan UGM, terus diarahkan untuk mencari solusi.

Peneliti mengembangkan pakan dan suplemen bernutrisi tinggi yang mudah dicerna ternak sekaligus menekan produksi gas sampingan yang mencemari lingkungan.

Baca juga: Peternakan Sumbang Emisi Terbesar Sektor Pangan

Upaya menuju peternakan berkelanjutan dilakukan secara komprehensif, termasuk melalui pengembangan instrumen pendukung. Salah satu tantangannya adalah ketiadaan alat untuk mengukur emisi gas rumah kaca dari pakan ternak di Indonesia.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau