Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

WHO: Pemangkasan Dana Mulai Terasa, Sistem Kesehatan Dunia di Ujung Tanduk

Kompas.com, 3 Februari 2026, 19:59 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa pemotongan bantuan internasional dan kesenjangan pendanaan yang terus terjadi tengah melemahkan sistem kesehatan global.

Pasalnya, pemotongan bantuan ini terjadi seiring meningkatnya risiko pandemi, infeksi resisten obat, dan layanan kesehatan yang rapuh.

Dalam pidatonya di hadapan Dewan Eksekutif WHO di Jenewa, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan dampak pemotongan pendanaan yang menimbulkan konsekuensi signifikan.

“Tidak hanya berdampak pada pengurangan tenaga kerja, pemotongan bantuan bilateral yang tiba-tiba dan parah juga telah menyebabkan gangguan besar pada sistem dan layanan kesehatan di banyak negara,” katanya dikutip dari laman resmi United Nations, Senin (2/2/2026).

Ia pun menyebut tahun 2025 sebagai salah satu tahun tersulit dalam sejarah badan tersebut.

Baca juga: Minuman Manis Disebut Masih Murah, WHO Desak Negara Naikkan Pajaknya

Kerentanan di negara berkembang

Meskipun WHO telah berhasil menjaga agar upaya penyelamatan nyawa tetap berjalan, Tedros mengatakan bahwa krisis pendanaan tersebut menyingkap kerentanan yang lebih dalam pada tata kelola kesehatan global, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang berjuang keras untuk mempertahankan layanan-layanan esensial.

Krisis pendanaan WHO merupakan bagian dari penarikan diri yang lebih luas dari pendanaan kesehatan internasional, yang memaksa negara-negara untuk membuat pilihan sulit.

“Sebagai tanggapan terhadap pemotongan pendanaan, WHO mendukung banyak negara untuk mempertahankan layanan kesehatan esensial, dan untuk beralih dari ketergantungan bantuan menuju kemandirian,” kata Tedros.

Ia pun menyebut beberapa strategi utama yang bisa dilakukan untuk membiayai sektor kesehatan antara lain dengan menerapkan pajak kesehatan yang lebih tinggi pada tembakau, alkohol, dan minuman manis.

Namun, skala kebutuhan yang belum terpenuhi tetap sangat besar.

Menurut WHO, 4,6 miliar orang masih kekurangan akses ke layanan kesehatan esensial, sementara 2,1 miliar menghadapi kesulitan keuangan karena biaya kesehatan.

Pada saat yang sama, dunia menghadapi proyeksi kekurangan 11 juta tenaga kesehatan pada tahun 2030, lebih dari setengahnya adalah perawat.

Kendati demikian, Tedros juga mengungkapkan WHO tidak sampai bangkrut parah karena negara anggotanya setuju menaikkan iuran wajib. Dengan begitu, WHO tidak lagi terlalu bergantung pada sumbangan sukarela yang biasanya sudah diatur penggunaannya oleh si penyumbang.

Jika tidak menyetujui peningkatan iuran wajib, Tedros bilang situasinya bisa jauh lebih buruk daripada sekarang.

Baca juga: WHO Rilis Rekomendasi Makanan Sehat untuk Sekolah di Seluruh Dunia

Berkat perubahan aturan tersebut, WHO sudah berhasil mengumpulkan sekitar 85 persen dari total dana yang dibutuhkan untuk anggaran inti tahun 2026-2027.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Praktik Sustainability Perusahaan Indonesia Belum Masif, Padahal Rentan Krisis Iklim
Praktik Sustainability Perusahaan Indonesia Belum Masif, Padahal Rentan Krisis Iklim
Pemerintah
SMKN 3 Sendawar Kalimantan Timur Jadi Contoh Sekolah Tangguh Bencana lewat Sobat UT
SMKN 3 Sendawar Kalimantan Timur Jadi Contoh Sekolah Tangguh Bencana lewat Sobat UT
Swasta
Mengapa Pemprov DKI Jakarta Bangun RDF Rorotan?
Mengapa Pemprov DKI Jakarta Bangun RDF Rorotan?
Pemerintah
Cuaca Ekstrem Diprediksi Masih Berlanjut, Pemprov DKI Gelar Modifikasi Cuaca
Cuaca Ekstrem Diprediksi Masih Berlanjut, Pemprov DKI Gelar Modifikasi Cuaca
Pemerintah
WHO: Pemangkasan Dana Mulai Terasa, Sistem Kesehatan Dunia di Ujung Tanduk
WHO: Pemangkasan Dana Mulai Terasa, Sistem Kesehatan Dunia di Ujung Tanduk
Pemerintah
ID Food Jaga Stok Pangan Jelang Ramadan dan Idulfitri
ID Food Jaga Stok Pangan Jelang Ramadan dan Idulfitri
BUMN
Jejak Muhsin, Kembangkan Peternakan Ramah Lingkungan
Jejak Muhsin, Kembangkan Peternakan Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Wamen ESDM: Pembangkit Listrik dari Sampah Ditargetkan Beroperasi di 2027
Wamen ESDM: Pembangkit Listrik dari Sampah Ditargetkan Beroperasi di 2027
Pemerintah
Pemerintah Targetkan Pasar Karbon Beroperasi Juni 2026
Pemerintah Targetkan Pasar Karbon Beroperasi Juni 2026
Pemerintah
Pemerintah Buka Ruang Keberatan bagi 28 Perusahaan yang Izinnya Dicabut
Pemerintah Buka Ruang Keberatan bagi 28 Perusahaan yang Izinnya Dicabut
Pemerintah
Pendakian Gunung Pangrango Ditutup Sementara Imbas Cuaca Ekstrem
Pendakian Gunung Pangrango Ditutup Sementara Imbas Cuaca Ekstrem
Pemerintah
Ciamis Raih Adipura 2026, Pengelolaan Sampahnya Bakal Jadi Rujukan Nasional
Ciamis Raih Adipura 2026, Pengelolaan Sampahnya Bakal Jadi Rujukan Nasional
Pemerintah
Burung Albatros dari Galapagos Muncul di California, Terbang 4.800 Km Jauh dari Habitatnya
Burung Albatros dari Galapagos Muncul di California, Terbang 4.800 Km Jauh dari Habitatnya
LSM/Figur
Hendak Selundupkan 53 Koli Satwa ke Thailand, Pria di Aceh Ditangkap
Hendak Selundupkan 53 Koli Satwa ke Thailand, Pria di Aceh Ditangkap
Pemerintah
Ratusan Ikan Dewa di Balong Girang Kuningan Mati Massal
Ratusan Ikan Dewa di Balong Girang Kuningan Mati Massal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau