Plastik terakumulasi secara global dengan cara yang sulit dibalik, melepaskan mikroplastik dan bahan kimia dari waktu ke waktu.
Sebagian besar akan bertahan selama bertahun-tahun, berkontribusi pada tiga krisis planet yaitu perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.
Maka dari itu, sangat penting dan mendesak segera memiliki perjanjian global yang mengatur mengenai plastik.
Peneliti pun mengusulkan tiga strategi supaya negosiasi perjanjian plastik global ini segera tercapai.
Langkah pertama adalah membuat prioritas dan pengurutan. Tentukan isu-isu terpenting dan tetapkan prioritas melalui pertemuan kepala delegasi untuk memfasilitasi proses pengambilan keputusan berdasarkan tujuan dan tonggak pencapaian, bukan berdasarkan jadwal waktu yang telah ditetapkan.
Selanjutnya, kejelasan prosedural yang mana ada aturan prosedur yang jelas untuk menghindari penyimpangan, termasuk pedoman untuk penyusunan, pendokumentasian kesepakatan dari sesi informal, dan penyelesaian perbedaan pendapat.
Dan yang terakhir adalah melakukan sistem voting cadangan yang memperkuat peluang untuk mencapai kesepakatan.
Baca juga:
Namun, aturan ini hanya dipakai dalam kondisi tertentu, misalnya ketika sebagian besar negara sudah setuju pada suatu kebijakan, tapi ada segelintir kecil negara yang sengaja menghambat kemajuan tersebut.
Lebih lanjut, penulis memperingatkan jika kekurangan dalam aturan main ini tidak diperbaiki, hal tersebut bisa merusak kerja sama internasional dalam menangani polusi plastik dan merusak kepercayaan antarnegara secara umum.
Selain itu, kegagalan ini juga akan memperlemah upaya dunia dalam mengatasi krisis planet lainnya yang saling berkaitan, seperti perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya