"Lapisan tanah Jakarta adalah aluvial, endapan-endapan yang datang ke Jakarta, kemudian tertimbun dan mengeras, sehingga kita hidup di lapisan aluvial. Ketika lapisan aluvial tersebut dibebani dengan bangunan 22 lantai bisa dibayangkan bebannya, maka terjadi kompaksi di sana pelan-pelan menurun," beber Budi.
Baca juga: Banjir dan Longsor: Bangkit dari Dua Lapis Kelemahan
Kondisi ini diperparah dengan masifnya pengambilan air tanah sehingga menurunkan tanah di Jakarta.
"Pembuat kebijakan di level pemerintah daerah, bisa saja mereka menetapkan kalau di wilayah yang sudah jelas-jelas tanahnya aluvial berpotensi terjadi penurunan muka tanah, jangan ambil air tanah," tutur dia.
Karenanya, pemerintah harus mengantisipasi dengan menyediakan air perpipaan yang layak untuk masyarakat. Di samping itu, alih fungsi lahan juga memperparah risiko banjir.
Kawasan hijau yang berubah menjadi permukiman dan beton mengurangi daya serap tanah, menyebabkan air hujan langsung mengalir ke sungai lalu melimpas ke daratan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya