Dalam kesempatan yang sama, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan mengatakan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebaiknya dikaji lebih dalam.
OMC banyak dilakukan untuk mengendalikan curah hujan agar tidak turun di wilayah daratan yang rawan banjir. Awan-awan disemai agar hujan turun di laut guna mengurangi potensi banjir.
Namun, menurut Eddy, cara tersebut bukanlah solusi utama.
"(Misalnya) saya pengin awan itu jatuh hujan di Waduk Jati Luhur supaya ditampung dulu. Siapa yang bisa menjamin kalau awannya setelah itu jatuh di Jati Luhur? Teknologi apa, AI mana misalnya, tidak ada kepastian apa pun," ucap Eddy.
Baca juga:
Penyemaian awan, khususnya di wilayah dengan kondisi cuaca ekstrem dan siklon, juga memiliki risiko tinggi.
"Oleh karena itu saran saya coba dikaji ulang, deep analysis, deep science, deep, deep, deep, betul enggak (bermanfaat)?" kata dia.
Tak hanya mengantisipasi dampak cuaca ekstrem, OMC juga kerap dilakukan untuk membuat hujan buatan saat kemarau. Eddy mengatakan, proses ini dilakukan dengan menyemai bahan tertentu seperti garam (NaCl) ke dalam awan.
Akan tetapi, tanpa perhitungan matang, upaya tersebut kemungkinan besar tidak efektif dan hanya sekadar membuang-buang anggaran.
"Konsep dasar hujan buatan itu adalah dikaji lebih mendalam, supaya tepat waktu, kapan, dan di mana," tutur Eddy.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya