Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mandatori Biodiesel Sawit Hemat Devisa Rp 720 Triliun dan Tekan Emisi 228 Juta Ton CO2

Kompas.com, 6 Februari 2026, 13:54 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

DEPOK, KOMPAS.com - Kebijakan mandatori biodiesel disebut telah menghemat devisa negara hingga Rp 720 triliun dan menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sekitar 228 juta ton karbon dioksida (CO2) selama periode 2015–2025.

Riset bahan bakar nabati terbarukan pengganti solar, untuk mesin diesel atau biodiesel dari minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO), di Indonesia telah dimulai sejak 1990-an. Bauran biodiesel terus meningkat seiring dengan penguatan kebijakan mandatori yang dimulai tahun 2009.

Baca juga:

“Konsumsi biodiesel yang pada 2009 baru sekitar satu juta kiloliter, kini sudah mencapai sekitar 15 juta kiloliter. Artinya naik lebih dari 1.100 persen,” ujar Pimpinan Redaksi Majalah Sawit Indonesia, Qayuum Amri di Depok, Jawa Barat, Kamis (5/2/2026).

Mandatori biodiesel hemat devisa hingga Rp 720 triliun

Bertahap mencapai ketahanan dan kedaulatan energi

Ilustrasi SPBU. Kebijakan mandatori biodiesel sejak 2015 menghemat devisa hingga Rp 720 triliun dan menurunkan emisi GRK 228 juta ton CO2.Freepik Ilustrasi SPBU. Kebijakan mandatori biodiesel sejak 2015 menghemat devisa hingga Rp 720 triliun dan menurunkan emisi GRK 228 juta ton CO2.

Realisasi biodiesel tercatat 14,2 juta kiloliter sepanjang tahun lalu. Capaian tersebut dinilai mengurangi impor solar sekitar 3,3 juta kiloliter.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Fadhil Hasan mengatakan, kebijakan mandatori B50, atau mewajibkan pencampuran 50 persen biodiesel dengan 50 persen solar, masih menunggu kesiapan pasokan dan hasil uji teknis.

“Penghematan dari sisi devisa karena mengurangi impor solar, menurunkan emisi GRK, dan yang terpenting ke depan kita bisa secara bertahap mencapai ketahanan, kemandirian, sekaligus kedaulatan energi kita,” tutur Fadhil.

Biodiesel didistribusikan melalui skema pencampuran wajib (blending) di terminal, sebelum disalurkan ke SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) dan industri.

Baca juga:

Subkoordinator Pengawasan Usaha Bioenergi, Direktorat Bioenergi, Ditjen EBTKE, Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), Herbert Wibert Victor mengatakan, kapasitas terpasang industri biodiesel mencapai 22 juta kiloliter pada 2026.

"Untuk alokasi yang kami mau jalan, baru mulai Januari ini, kami alokasikan itu sekitar 14,5 juta kiloliter," tutur Herbert.

Kementerian ESDM menyiapkan skema insentif berbasis selisih harga solar untuk menjaga keberlanjutan kebijakan mandatori, termasuk untuk sektor public service obligations (PSO) dan non-PSO.

"Pemerintah memutuskan sebagian bisa di-blending dan hanya untuk yang selalu subsidi atau PSO ya. Sementara yang non-PSO tidak bisa di-blending, apa adanya. Tergantung dari harga sawit sekilonya, kami menggunakan (harga yang dihitung berdasarkan rata-rata CPO) KPB (kharisma pemasaran bersama)," jelas Herbert.

Seorang staf menunjukkan sampel biodiesel di stan pameran pada ajang 21st Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 di Nusa Dua, Bali, Jumat (14/11/2025). ANTARA Seorang staf menunjukkan sampel biodiesel di stan pameran pada ajang 21st Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 di Nusa Dua, Bali, Jumat (14/11/2025).

Sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi mengatakan, pihaknya telah menyelesaikan uji lab terhadap tiga campuran B50 atau bakar bahan hasil dari pencampuran solar dan biodiesel dari minyak sawit sebesar 50 persen.

Tepatnya, 50 persen biodiesel berbentuk Fatty Acid Methyl Ester (FAME); sebesar 35 persen FAME dan 15 persen biodiesel berbentuk Hydrotreated Vegetable Oil (HVO); serta 40 persen FAME dan 10 persen HVO.

Ketiga campuran tersebut diuji lab terhadap solar eksisting yang diproduksi PT Pertamina dan solar dengan kandungan sulfur rendah atau 50 parts per million (PPM).

Hasilnya, pencampuran 35 persen FAME, 15 persen HVO, dan solar dengan kandungan sulfur rendah menjadi B50 berkualitas terbaik.

Namun, percampuran tersebut akan berdampak pada harga B50 di pasar karena biaya produksi HVO bisa dua kali lipat lebih tinggi ketimbang FAME. Padaha, kalau persentase campuran HVO lebih banyak, kandungan sulfurnya semakin rendah.

Baca juga:

"Kami pakai solar yang paling banyak tersedia sekarang. Jadi, memang (kandungan) sulfurnya masih sekitar 2.000 PPM ya per liter. Dari situ, kami memang pengennya sulfurnya lebih rendah, tapi yang ada memang segitu ya. Jadi, ini yang kami pilih memang solar yang ada, kami uji dengan B50 full FAME. Jadi enggak ada tambahan HVO karena tadi sudah di depan mata, dua kali lipat harganya," ujar Eniya dalam acara 21st Indonesian Palm Oil Conference and 2026 Prince Outlook (IPOC2025) di Bali, Kamis (13/11/2025).

Kandungan sulfur pada sebesar 2.000 PPM termasuk tinggi, terutama jika dibandingkan dengan standar emisi modern, seperti Euro 4.

Dalam uji jalan pada awal Desember 2025 nanti, ESDM memutuskan menggunakan campuran solar yang diproduksi Pertamina saat ini, yang kandungannya sulfur 2.000 PPM, dengan 50 persen FAME.

ESDM menghitung proses penyesuaian mesin selama masa uji jalan B50 dengan campuran tersebut, yang akan digelar secara serentak terhadap enam jenis kendaraan.

Kendaraan tersebut adalah kendaraan penumpang, kapal, truk di kawasan tambang, kereta api, genset, serta alat dan mesin pertanian. Namun, estimasi selesainya masa uji jalan berbeda-beda untuk enam jenis kendaraan dari berbagai sektor itu.

"Ada yang (selesai) dua bulan, ada yang empat bulan, ada yang enam bulan, (dan) yang paling lama delapan bulan," tutur Eniya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau